AYOJAKARTA.COM -- Puluhun ribu ibu hamil di Jalur Gaza, Palestina, terancam menjadi korban perang yang terus berkecamuk di wilayah tersebut.
Disitat dari CNN, data resmi United Nations Population Fund (UNFPA) mencatat ada sekitar 50.000 ibu hamil di Gaza tidak dapat mengakses layanan kesehatan dasar yang sangat diperlukan.
Dari puluhan ribu wanita hamil tersebut, 5.500 di antaranya dijadwalkan akan melahirkan pada bulan ini.
Baca Juga: Puluhan Ribu Tentara Israel Bakal Gempur Jalur Gaza, Ribuan Pasukan Hamas Siaga di Bunker
Perwakilan UNFPA untuk Palestina, Dominic Allen, khawatir atas kondisi para ibu hamil di Gaza tersebut. Pasalnya sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran.
Kabar yang tersiar dari balik bilik rumah sakit di Gaza menggambarkan situasi yang sangat mengenaskan.
Para bidan di salah satu rumah sakit bersalin di Gaza bahkan tidak bisa menjangkau ruang persalinan untuk memberikan bantuan medis lantaran situasi yang sangat tidak aman.
Baca Juga: Israel Jebak Warga Gaza Lewat Evakuasi Palsu, 70 Orang Tewas Dibom Pesawat Tempur
Dominic Allen mendesak perlunya pembukaan jalur bantuan kemanusiaan yang sejauh ini masih ditutup.
Bantuan kemanusiaan dan persediaan medis menurutnya harus diizinkan masuk ke Gaza untuk memastikan ibu-ibu hamil tersebut dapat mengakses layanan kesehatan yang layak.
“Bantuan dan pasokan kemanusiaan ke Gaza harus diizinkan masuk. Harus ada koridor kemanusiaan yang dibuka, dan hukum kemanusiaan dipatuhi. Oleh karena itu, para wanita hamil harus mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan yang dapat menyelamatkan nyawa,” kata Allen.
Baca Juga: Kejahatan Perang Terbukti! Tentara Israel Gunakan Bom Fosfor Putih saat Gempur Gaza Palestina
Tetapi, upaya bantuan tersebut menghadapi ganjalan serius.
United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) melaporkan pada 8 Oktober 2023 lalu, satu-satunya fasilitas milik Palestinian Family Planning and Protection Association (PFPPA) di Gaza hancur akibat serangan udara Israel ke gedung di sebelahnya.
Kondisi ini diperparah oleh blokade penuh Israel terhadap Gaza yang diumumkan sejak 10 Oktober lalu.
Baca Juga: Turki Kutuk Serangan Udara Israel di Jalur Gaza
Blokade tersebut mencegah makanan, air, bahan bakar, dan persediaan medis masuk ke Gaza.
Selain itu, akses listrik warga Gaza juga dibatasi selama dua jam setiap hari. Pasokan tersebut diperkirakan akan habis dalam beberapa hari mendatang.
Kondisi ini diperparah oleh kondisi pembangkit listrik satu-satunya di Gaza yang kehabisan bahan bakar sejak 10 Oktober lalu. Selain itu, tiga dari lima pabrik air berhenti beroperasi akibat serangan udara Israel.
Baca Juga: Hari Kesepuluh Gempuran Israel, Jumlah Korban Tewas di Pihak Palestina Capai 2.800 Orang
Tanpa akses kepada air bersih, makanan, obat-obatan, dan vaksin, perempuan dan bayi yang tidak bersalah akan terus menjadi calon korban paling rentan.
Sejauh ini, OCHA memperkirakan sekitar 60% dari korban tewas dan luka di Gaza sejak 10 Oktober merupakan perempuan dan anak-anak.

Share this article
PBB mencatat ada sekitar 50.000 ibu hamil di Gaza. 5.500 di antaranya dijadwalkan akan melahirkan pada bulan ini.