AYOJAKARTA.COM - Yayasan Pribadi Bandung melalui Seminar Nasional bertajuk “Kepemimpinan Kartini: Transformasi Perempuan di Era Modern” sukses menyatukan perspektif strategis dari empat otoritas nasional di Auditorium FPEB Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Simposium yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta ini juga menjadi momentum istimewa dengan kehadiran Ibu Ainur Didi Sukyadi,S.Pd. selaku Istri Rektor UPI, Prof. Dr. Agus Setiabudi, M.Si. selaku wakil Rektor UPI Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kemitraan, Prof. Dr. H. Akhmaloka, Dipl.Bio-tech., Ph.D., Prof Greg Barton, BA (Hons), Ph.D. serta sejumlah dekan dan guru besar lainnya. Kehadiran para tokoh intelektual ini mempertegas pentingnya sinergi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam mencetak generasi pemimpin masa depan.

Simposium ini menyatukan perspektif dari empat panelis ahli yang membedah kepemimpinan perempuan melalui empat pilar strategis:
Pilar Karakter & Literasi Sejarah: Prof. Dr.-Ing. Wardiman Djojonegoro (Mendikbud RI 1993-1998 & Penulis Buku Trilogi Kartini) menekankan bahwa literasi sejarah perjuangan Kartini adalah "kompas moral" yang harus diintegrasikan ke dalam kurikulum untuk membentuk jati diri pemimpin.
Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa pembangunan pendidikan Indonesia belum selesai dan menuntut relevansi yang kuat antara dunia pendidikan dengan dunia kerja melalui konsep "Link and Match".
Beliau berpesan bahwa pendidikan perempuan adalah kunci untuk mencetak lulusan yang kompeten, bermutu, dan memiliki keahlian untuk menghadapi tantangan zaman, sebagaimana cita-cita revolusioner Kartini dalam mendirikan sekolah bagi kaum pribumi.
Pilar Ekonomi Digital: Amira Ganis, MBA(Founder Brawijaya Healthcare Group) membedah realita kemandirian ekonomi dengan menegaskan bahwa ekonomi digital berfungsi sebagai equalizer yang tidak memandang lokasi, gender, maupun usia.
Beliau memaparkan bahwa meskipun era digital menurunkan hambatan masuk (entry barrier) bagi perempuan untuk memulai bisnis, tantangan nyata seperti kurangnya rasa percaya diri, ketakutan akan kegagalan, dan tuntutan perfeksionisme masih sering membayangi. Beliau mendorong para "Kartini Modern" untuk memanfaatkan peluang dalam Digital Entrepreneurship dan bisnis berbasis komunitas (trust economy) dengan mentalitas yang berani dan mandiri, guna mengubah akses digital menjadi keunggulan kompetitif yang nyata bagi kemajuan bangsa.

Pilar Ketahanan Keluarga & Sosial: Samantha Dewi Erwan Setiawan (Penasihat DWP Jawa Barat) menekankan bahwa spirit Kartini di era modern harus mewujud pada fondasi ketahanan keluarga yang kokoh. Mengingat populasi Jawa Barat yang mencapai lebih dari 50 juta jiwa, beliau memaparkan bahwa perempuan memiliki peran krusial sebagai manajer rumah tangga sekaligus penggerak sosial. Sebagai orang tua alumni Pribadi Bandung School, beliau memberikan kesaksian bahwa sekolah harus menjadi mitra strategis dalam membangun lima dimensi ketahanan keluarga: legalitas struktur, ketahanan fisik, ekonomi, psikologi, dan sosial budaya. Bagi beliau, transformasi bangsa dimulai dari keluarga yang berdaya, di mana perempuan yang cerdas dan tangguh menjadi motor utamanya.
Pilar Intelektual-Spiritual: Astri Katrini Alafta, M.Ed. (Pemimpin Redaksi Majalah Mata Air & Sekjen Majelis Ilmuwan Muslimah Indonesia) menekankan bahwa kepemimpinan perempuan yang berintegritas lahir dari sinergi ilmu pengetahuan dan nilai agama yang kokoh.
Terinspirasi dari sosok R.M. Panji Sosrokartono, beliau mengulas "Pedagogi Kartini" sebagai pendidikan visioner yang melampaui zamannya. Beliau menekankan bahwa semangat "Aku Mau!" adalah kunci bagi perempuan untuk mendaki puncak tantangan, di mana guru berperan sentral dalam membidani lahirnya generasi muda yang tangguh. Bagi beliau, pendidikan perempuan adalah fondasi peradaban; menjadikan ibu yang cerdas berarti menyebarluaskan kebahagiaan dan kemajuan bagi seluruh bangsa.
“Seminar ini adalah manifestasi dari standar pendidikan yang kami usung. Pribadi Bandung School berkomitmen menyiapkan siswa yang memiliki wawasan luas, adaptif, dan berkarakter kuat,” tegas Bp. Arif Rahman Rhoma, S.Pd., M.A., Foundation Representative Pribadi Bandung School.
Sejalan dengan visi besar tersebut, Pribadi Bandung School secara resmi mengumumkan langkah transformasi fisik melalui relokasi operasional ke kampus baru yang lebih modern di Jl.Gegerkalong Hilir No. 47, Bandung.
Fasilitas mutakhir di lokasi baru ini dirancang untuk mendukung kurikulum global secara total sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi para calon pemimpin masa depan.
Bersamaan dengan langkah ekspansi ini, Pribadi Bandung School juga menginformasikan bahwa pusat layanan konsultasi pendaftaran siswa baru (Admission Consultant) telah dibuka untuk menyambut Tahun Ajaran baru.***

Share this article
Yayasan Pribadi Bandung melalui Seminar Nasional bertajuk “Kepemimpinan Kartini: Transformasi Perempuan di Era Modern” sukses menyatukan perspektif strategis