TEBET, AYOJAKARTA.COM – Mantan juru taktik Timnas Indonesia, Alfred Riedl wafat pada usia 70 tahun. Nama Riedl tidak asing bagi dunia sepak bola Tanah Air. Pelatih irit senyum itu dikenal sangat disiplin dan disegani para pemain timnas yang pernah berada di bawah asuhannya. Riedl merupakan salah satu pelatih yang sukses membawa perubahan permainan Timnas Indonesia.
Taktikal yang membuat lawan-lawan Indonesia keder saat ajang Piala AFF 2010 dan 2016, di mana Indonesia melaju ke final namun gagal di partai puncak. Salah satu pemain andalan Alfred Riedl kala itu, M Ridwan ingat betul kesan yang tertanam dari seorang pelatih bertangan dingin dengan kedisplinan tinggi.
“Dia adalah pelatih terbaik yang pernah melatih saya di timnas. Nilai plus Alfred yang tidak dimiliki pelatih lainnya yakni kedisiplinan tinggi dan tidak membeda-bedakan pemain. Di mata Alfred, semua pemain sama. Tidak ada anak emas,” tegas Ridwan saat dihubungi Ayojakarta, Selasa (8/9/2020) malam.
Di mata awam, Alfred Riedl memang jarang terlihat tersenyum. Wajah datarnya juga terlihat saat salah satu pemain mencetak gol. Sangat datar sekali. Namun, di mata pemain, ternyata Riedl adalah sosok yang sangat friendly dan humoris. Ridwan mengungkapkan, Riedl sangat humoris ketika memimpin di lapangan maupun di luar lapangan.
“Memang terlihat datar. Namun, sebenarnya sangat humoris kepada pemain. Bahkan beliau sangat melindungi pemain dari gangguan-gangguan luar agar pemain fokus dalam satu pertandingan,” ucap Ridwan yang saat ini masuk dalam tim pelatih PSIS Semarang.
Selain itu, perhatian seorang pelatih kepada pemain menurut Ridwan seperti ayah dengan anaknya. Itu terbukti ketika dalam satu momen, Ridwan dan Firman Utina cedera, Riedl datang dan menanyakan kondisinya.
“Datang ke kami berdua. Alfred bertanya, bagaimana kondisinya. Kemudian Alfred bercerita akan mencoret satu pemain bintang kala itu yang menjadi top scorer karena tidak disiplin,” terang Ridwan.
“Saya bilang, kenapa tidak ditunggu dulu kan sayang. Kami terkejut dengan jawaban Riedl, yang berkata tidak ada waktu lagi untuk menuggu dan harus memikirkan pemain lainnya. Dia tidak ingin tim yang sudah terbentuk berantakan,” sambungnya.
Ridwan mengaku menyerap banyak ilmu dari seorang Riedl terutama dari sisi luar teknis. “Saya menyerap ilmu yang banyak dari Alfred, terutama ilmu di luar teknis. Bagaimana cara berkomunikasi, pola pendekatan ke pemain, kedisiplinan, mengatur dan memahami psikologi pemain. Dan ilmu itu saat ini saya terapkan di tim PSIS,” ungkapnya.
Tak Melihat Nama Besar
AYO BACA : Mantan Pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl Tutup Usia
Gelandang asal Salatiga, Bayu Pradana Andriatmo juga pernah merasakan polesan tangan dingin Riedl. Pemain jebolan Diklat Salatiga ini merasakan debut di timnas Senior saat ditangani Alfred Rield 2016 silam menjelang AFF Cup.
"Beliau pelatih yang cukup berjasa dalam karier saya. Karena saat era coach Riedl, saya dipilih bisa masuk Timnas Indonesia senior. Dia sosok pelatih tegas dan disiplin. Namun juga humanis dan mengerti kondisi psikologis pemain,” ucap Bayu saat dihubungi.
"Istilahnya beliau tahu apa yang ada di pikiran pemain, misalnya sedang suntuk atau bagaimana. Sehingga mood latihan selalu bagus," sambungnya.
Bayu yang kini membela tim Liga 1, Barito Putera menceritakan saat pemusatan latihan Piala AFF 2016 di Kota Solo. Sebagai debutan, Bayu mendapatkan 'ucapan sakral' dari sang pelatih, yakni jika sang juru racik tim tak melihat nama besar.
“Namun Coach berkata hanya melihat pemain yang bisa bekerja keras dan menjalankan instruksi. Nah dari situlah saya semakin termotivasi untuk bisa memberikan yang terbaik dan masuk tim utama," ujar Bayu.
Salah satu pemain muda yang diorbitkan Alfred Riedl yakni Johan Juansyah. Saat itu Johan membela Persijap Jepara. Permainannya sangat menonjol di lini tengah dan diajak Riedl bergabung.
“Dia pelatih yang berani dan mengubah timnas dari pemain-pemain itu aja, ke pemain muka-muka baru dan banyak mengorbitkan peman bintang, terutama pemain muda,” kata Johan yang kini tinggal di Cilegon.
Selain itu, di luar lapangan Riedl bisa berperan sebagai bapak dan sahabat bagi pemain. Kala bergabung, Johan berusia 22 tahun di Piala AFF 2010.
“Saat kami latihan, ada pemain melakukan sleding. Saat itu juga Alfred marah dan merangkul pemain yang berbuat salah sembari memberi nasihat. Jika sleding teman dan cedera, pemain akan absen. Menurut Alfred itu tidak baik,” ucapnya.
Pelatih asal Austria itu meninggal Senin (7/9/2020) malam waktu setempat, Riedl tercatat mengarsiteki Timnas Indonesia dalam tiga periode berbeda yakni 2010-2011, 2013-2014, dan 2016-2017.
Semua pemain Timnas Indonesia yang pernah merasakan racikan Alfred Riedl merasa kehilangan. Tidak seperti terlihat dengan wajah sangarnya, ternyata Alfred Riedl adalah sosok pelatih yang murah senyum, humoris, disiplin, dan menghargai pemain. Selamat jalan Coach, dedikasimu selalu dikenang untuk Indonesia.

Share this article
Semua pemain Timnas Indonesia yang pernah merasakan racikan Alfred Riedl merasa kehilangan.