JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Radiasi radioaktif ditemukan di lahan kosong Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Asalnya dipastikan bukan dari reaktor nuklir, melainkan berasal dari limbah.
Awal ditemukannya paparan radiasi adalah ketika Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (Bapeten) melakukan survei lokasi dengan peralatan mobile yang biasa dilakukan di areal tertentu pada akhir Januari lalu. Bapeten sudah mengimbau warga untuk tidak memasuki area terpapar radiasi di titik tertentu.
Paparan radiasi radioaktif ditemukan tepatnya di areal tanah kosong di samping lapangan voli Blok J, Perumahan Batan Indah. Tim Batan berkoordinasi dengan pengurus lingkungan setempat dengan memasang perimeter (batas).
"Untuk alasan keselamatan, warga diimbau untuk tidak memasuki lokasi terdampak kontaminasi hingga batas trotoar dan lapangan voli," kata Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (15/2/2020).
Hasil penelitian menyebutkan, nilai paparan radiasi lingkungan dengan laju paparan terukur signifikan di atas normal. Petugas Bapeten dan Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) telah mengambil sampel tanah di sekitar lokasi untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium PTKMR-Batan.
Kegiatan pencarian sumber radiasi telah dilaksanakan pada 7-8 Februari 2020. Selanjutnya, tim menemukan beberapa serpihan sumber radioaktif berbentuk pasir serta objek lain yang telah bercampur dengan tanah. Salah satu jenis radioaktif yang ditemukan adalah Cesium-137 (kode: Cs-137).
"Berdasarkan hasil tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kontaminasi yang sifatnya menyebar di area tersebut, dan perlu dilakukan kegiatan dekontaminasi dengan cara pengambilan atau pengerukan tanah yang terkontaminasi, dan pemotongan pohon atau pengambilan vegetasi yang telah terkontaminasi," kata Indra.
Bapeten sendiri secara resmi telah bertemu dengan pengurus RT dan RW di lingkungan Perumahan Batan Indah. Pertemuan tersebut guna menjelaskan kronologi kejadian dan tindakan yang akan diambil untuk menangani insiden tersebut.
"Tim Batan juga akan melakukan pemeriksaan Whole Body Counting (WBC) terhadap beberapa warga di sekitar lokasi, apakah sudah ada yang terkena paparan radiasi atau belum, dan penanganan yang nanti kita ambil," katanya.
Saat ini, laboraturium sedang menguji material tersebut. Kabar dari lapangan menyebut sumber material yang memancarkan radiasi berhasil diangkat dari dalam tanah. Bentuknya seperti butiran pasir besar.
Bapeten dan Batan kini fokus pada upaya pembersihan area yang terkontaminasi paparan radioaktif. Termasuk kemungkinan menebang pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi radiasi.
"Fokus kita dua pekan ini untuk pembersihan di lokasi itu terlebih dahulu. Untuk pembersihan dilakukan selama 20 hari, hingga benar-benar radiasi radioaktif clear," kata Sekretaris Utama Bapeten, Hendriyanto Hadi Tjahyono.
Bapeten belum bisa menyimpulkan bagaimana limbah radioaktif itu bisa tertanam di lahan kosong perumahan. Diduga, limbah radioaktif itu telah trtanam cukup lama di dalam tanah.
"Kalau melihat dari tanah-tanah yang tercemar di area, itu kelihatannya sudah cukup lama. Kalau bulanan sih kayaknya enggak, itu sudah ada kayaknya setahunan," jelasnya.

Share this article
Bapeten dan Batan kini fokus pada upaya pembersihan area yang terkontaminasi paparan radioaktif. Termasuk kemungkinan menebang pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi radiasi.