TEBET, AYOJAKARTA.COM - Total pendapatan negara sepanjang 2020 sebesarRp 1.633,6 triliun, setara 96,1% dari target Peraturan Presiden. Dari pendapatan tersebut, penerimaan pajak menjadi salah satu lini yang paling remuk saat pandemi covid-19. Itu dikemukakan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
Uang pajak yang masuk ke kas negara terkontraksi sebesar 19%. Realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp1.070 triliun atau 89,3% dari target APBN 2020 yang sudah diubah melalui Perpres Nomor 72 Tahun 2020 senilai Rp1.198 triliun. Realisasi pajak mengalami kontraksi 19,7% dibandingkan tahun 2019.
Pos penerimaan yang ambles paling dalam adalah Pajak Penghasilan Migas. Realisasi PPh Migas sepanjang 2020 adalah Rp33,2 triliun. Meski 4,1% di atas target perpres, tetapi 43,9% di bawah pencapaian 2019.
Harga minyak yang anjlok akibat pandemi menjadi pemicu pos penerimaan ini tidak begitu maksimal dalam mengumpulkan pundi-pundi pajak.
Sementara realisasi setoran pajak non migas adalah Rp1.036,8 triliun. Angka ini adalah 88,8 triliun dari target perpres dan 18,6% di bawah realisasi 2019.
AYO BACA : Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Berikan Kode Pembukaan Gelombang 12, Kapan Dibuka?
Sri Mulyani juga menjabarkan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 tumbuh minus antara 1,7% hingga 2,2%.
Sementara penerimaan pajak tercatat Rp1.070 triliun atau 89,3% dari target, sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai adalah Rp212,8 triliun, 3,5% di atas target.
Kemudian Penerimaan Negara Bukan Pajak tercatat mencapai Rp338,5 triliun, angka ini setara 115,1% dari target.
Dari sisi belanja, total belanja negara adalah Rp2.589,9 triliun, atau 94,6% dari target perpres. Belanja pemerintah pusat tercatat Rp1.827,4 triliun atau 92,5% dari target.
Sementara realisasi transfer ke daerah dan dana desa adalah Rp762,5 triliun atau 99,8% dari target.

Share this article
Sri Mulyani juga menjabarkan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2020 tumbuh minus antara 1,7% hingga 2,2%.