AYOJAKARTA.COM - Indonesia saat ini tengah berada dalam persimpangan jalan yang krusial dalam ambisinya menjalankan transisi energi hijau.
Di satu sisi, pemerintah agresif mendorong program mandatori campuran bahan bakar nabati (BBN) seperti B40 dan rencana B50.
Namun di sisi lain, muncul sebuah "beban tersembunyi" (hidden cost) yang mengintai, yakni pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menembus angka psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Pelemahan kurs ini bukan sekadar angka di pasar valas, melainkan faktor penentu yang membuat harga energi terbarukan di dalam negeri menjadi rapuh dan mahal.
Dolar AS merupakan Komponen Tak Terpisahkan dalam Biaya Konversi
Ironi terbesar dari transisi energi Indonesia terletak pada struktur biaya produksinya.
Meskipun bahan baku utamanya berasal dari bumi pertiwi, seperti minyak sawit (CPO) dan tetes tebu, biaya pengolahannya masih sangat bergantung pada denominasi dolar AS.
Hal ini membuat harga biodiesel dan bioetanol domestik ikut terseret naik saat rupiah tersungkur.
Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk periode Juni 2026, Harga Indeks Pasar (HIP) Bioetanol ditetapkan sebesar Rp8.062 per liter, naik dari bulan sebelumnya yang hanya Rp7.992 per liter.
Kenaikan ini dipicu oleh penggunaan asumsi kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.286 per dolar AS dalam formula perhitungannya.
Mengingat biaya konversi bioetanol dipatok sebesar USD 0,25 per liter, pelemahan rupiah menyumbang sekitar Rp4.225 per liter dalam struktur harga tersebut.
Biodiesel dan Kerentanan Kurs yang Lebih Tinggi
Kondisi serupa terjadi pada sektor biodiesel. Untuk periode Juni 2026, pemerintah menetapkan HIP Biodiesel di level Rp14.643 per liter.
Biaya konversi untuk mengubah CPO menjadi biodiesel dipatok sebesar USD 85 per metrik ton.
Dalam penetapan harga ini, pemerintah menggunakan asumsi kurs yang bahkan lebih tinggi, yakni Rp17.444 per dolar AS.
Akibatnya, komponen biaya konversi tersebut membengkak menjadi sekitar Rp1,44 juta per ton.
Ketergantungan terhadap denominasi dolar ini membuat industri biodiesel sangat sensitif terhadap gejolak pasar global.
Karena setiap rupiah yang melemah akan langsung mengerek beban produksi yang harus ditanggung oleh industri dan, pada akhirnya, masyarakat.
Tantangan Menuju Kemandirian Energi
Situasi ini menunjukkan bahwa kemandirian energi tidak bisa dicapai hanya dengan mengganti jenis bahan bakar.
Tanpa adanya efisiensi di sektor hulu dan stabilitas nilai tukar, transisi energi justru bisa menjadi beban ekonomi baru.
Terlebih lagi, dengan target B50 yang akan melonjakkan kebutuhan biodiesel nasional hingga lebih dari 20 juta kiloliter per tahun, risiko akibat fluktuasi kurs akan semakin masif.
Indonesia perlu memastikan bahwa infrastruktur hulu bioenergi mampu tumbuh lebih mandiri dan tidak terus-menerus terjebak dalam ironi ketergantungan kurs dolar AS di tengah upaya meninggalkan energi fosil.***
Share this article
Transisi energi Indonesia terganjal kurs rupiah di atas Rp17.000/USD. Meski bahan baku lokal, biaya konversi bioetanol & biodiesel Juni 2026 pakai denominasi dolar AS, bikin harga BBN rapuh & mahal.