TEBET, AYOJAKARTA.COM – Dampak pandemi Covid-19, Pemerintah sudah mengguyur dana stimulus ratusan triliun rupiah demi memulihkan perekonomian. Namun tetap saja pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diprediksi akan tetap bertengger di posisi negatif.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengatakan, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di kuartal III masih diprediksi minus 2,9% hingga minus 1,0%. Hingga akhir tahun ini, perekonomian diperkirakan minus 1,7% hingga minus 0,6%.
AYO BACA : Jasa Marga Lakukan Penyesuaian Tarif Tol JORR 1, Ini Besaran Harganya!
“Mungkin seluruh tahun kita masih tetap akan negatif, tapi di akhir semester kedua ini terjadi pemulihan ekonomi signifikan. Ini yang kami harapkan akan memberikan optimisme bagi dunia usaha, bagi investasi, ekspor impor, yang bisa mendorong pemulihan secara gradual," ujarnya dalam webinar Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur, Rabu (4/11/2020).
Mantan Kepala Kebijakan Fiskal (BKF) ini juga memastikan Indonesia telah masuk ke jurang resesi karena pada kuartal III masih mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Kendati demikian, ia yakin nilainya tak seburuk kuartal II yang mencapai minus 5,3% karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di awal pandemi Covid-19 dan akan makin membaik di kuartal ke-IV.
AYO BACA : Pilpres di AS Bikin Harga Emas Dunia Bangkit Hampir 1 Persen
Hal ini sejalan dengan pernyataan Joko Widodo yang memperkirakan ekonomi Indonesia kuartal III 2020 akan berada di angka minus 3% atau membaik dari kontraksi kuartal sebelumnya.
"Kalau kemarin di kuartal I 2020 data menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 3 persen, kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,3%, maka di semester kedua ini, kami meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di fase pemulihan," ujar Suahasil.
Oleh karenanya, ia menuturkan harapan pemerintah agar perekonomian Indonesia pada 2021 bisa tumbuh di kisaran 5%. Ia cukup yakin hal tersebut bisa dicapai sebab masyarakat akan mulai terbiasa dengan protokol kesehatan dan menjalankan aktivitas perekonomian seperti biasa.
Sebelumnya pemerintah merogoh kocek sebesar Rp 695,2 triliun yang akan digunakan untuk mempercepat pemulihan ekonomi yang diakibatkan tekanan pandemi Covid-19.
Rinciannya, sebesar Rp87,55 triliun untuk anggaran kesehatan, anggaran perlindungan sosial Rp203,9 triliun, insentif usaha sebesar Rp120,61 triliun, sebesar Rp123,46 triliun disiapkan untuk sektor UMKM, pembiayaan korporasi menjadi Rp53,57 triliun, dan untuk dukungan sektoral K/L dan Pemda sebesar Rp106,11 triliun.
AYO BACA : Selain Logam Emas, Harga Minyak Dunia Ikut Naik Karena Pilpres di AS

Share this article
“Mungkin seluruh tahun kita masih tetap akan negatif, tapi di akhir semester kedua ini terjadi pemulihan ekonomi signifikan. Ini yang kami harapkan akan memberikan optimisme bagi dunia usaha, bagi investasi, ekspor impor, yang bisa mendorong pemulihan secara gradual," ujarnya dalam webinar Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur, Rabu (4/11/2020).