BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Tren bersepeda yang belakangan banyak diminati masyarakat di tengah pandemi membawa berkah tersendiri bagi produsen sepeda asal Kota Bandung, Kreuz.
Sepeda yang desainnya terinspirasi dari bentuk sepeda lipat Brompton tersebut saat ini banyak diburu warga, bahkan hingga inden sampai September 2021.
Pendirinya, Yudi Yudiantara (50) dan Jujun Junaedi (37) sebenarnya bukan pemain baru di dunia sepeda. Sejak beberapa tahun lalu, Kreuz juga telah memproduksi pannier alias tas sepeda untuk kegiatan touring. Namun, pada akhir 2019, mereka mulai merasa tertantang untuk turut memproduksi sepeda dengan bahan baku yang didominasi produk lokal.
"Kami berusaha ngasih lihat bahwa produk lokal Indonesia pun bisa bersaing," ungkapnya ketika ditemui di workshop Kreuz di bilangan Cikutra, Bandung belum lama ini.
Dengan cepat, sepeda Kreuz yang mulai dijual terbuka pada masa awal kemunculan pandemi Covid-19 menarik perhatian khalayak. Lelang sepeda yang kerap dilakukan di media sosial Facebook selalu ludes dalam waktu yang singkat.
Pemesanan semakin membludak ketika tren sepeda lipat di tengah pandemi melanda masyarakat. Tak heran, selain desainnya yang tak jauh berbeda dengan Brompton, sepeda handmade ini juga teknologinya telah disesuaikan dengan medan jalan di Indonesia atau Kota Bandung khususnya. Harganya pun jauh di bawah pasaran Brompton.
"Kami berusaha membuat sepeda yang kualitasnya menyerupai kualitas Inggris tapi harganya bisa bersaing dengan produk China," ungkapnya.
Hingga saat ini, pegawai Kreuz hanya terdiri dari lima orang. Untuk itu, mereka memutar otak untuk dapat memenuhi pesanan pelanggan dengan maksimal. Untuk membangun satu unit sepeda Kreuz, setidaknya dibutuhkan 30 part sepeda yang harus dibuat sendiri.
"Kita kemudian mencari vendor-vendor lokal yang bisa support. Ada banyak bagian yang harus dibuat, lebih dari 30 artikel. Kami cari UMKM yang ada di Bandung dan mau berjuang sama-sama," ungkapnya.
Mereka akhirnya berburu vendor di dalam kota dengan spesifikasinya masing-masing. Alhasil, ada 34 UMKM yang saat ini terlibat dalam pembuatan sepeda Kreuz.
Momentum tersebut menjadi berharga mengingat saat ini banyak UMKM yang mati suri akibat pandemi. Banjirnya pesanan sepeda Kreuz membuat roda ekonomi puluhan pengusaha tersebut kembali bergulir.
"Saya gandeng industri-industri rumahan, sehingga secara tidak langsung ada banyak orang yang bekerja meskipun tidak direkrut secara langsung. Hampir 70% part sepeda dibuat di Bandung," ungkapnya.
"Kita enggak mau nyari jauh-jauh karena potensi di Bandung juga besar. Ini sekaligus membuka peluang mereka yang sempat berhenti karena PSBB jadi dapat order lagi," tambahnya.
Yudi mengatakan, hal tersebut juga sekaligus menjadi kepuasan tertingginya dalam menjalankan usaha. Sejak awal berbisnis, impiannya adalah memberdayakan banyak orang.
"Prinsip kami dari dulu adalah membuat sesuatu yang bisa melibatkan banyak orang, jadi bisa berbagi. Kita berharap dengan membukakan jalan bagi orang, rezeki juga mengalir. Kan sebagian dari rezeki kita adalah rezeki orang lain," paparnya.(Nur Khansa)

Share this article
Tren bersepeda yang belakangan banyak diminati masyarakat di tengah pandemi membawa berkah tersendiri bagi produsen sepeda asal Kota Bandung, Kreuz.