JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ekonom senior, Rizal Ramli mengapresiasi keterbukan Presiden Joko Widodo bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal terkoreksi tajam akibat pandemi COVID-19.
“Awal yang bagus Pak. Akui masalah, jujur terhadap fakta-fakta adalah awal yang penting,” ujar Rizal Ramli melalui akun Twitternya, @RamliRizal, yang dilansir Ayo Jakarta, Rabu (15/4/2020).
Menurut mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu, terpenting yang dilakukan selanjutnya adalah mengubah strategi dan kebijakan yang ada, sehingga responsif dengan situasi yang ada. “Strategi dan kebijakan harus berubah, kalau ndak makin ambyar,” tutur Rizal Ramli yang menko ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Apalagi, menurut Rizal Ramli, sebelum adanya pandemi COVID-19, ekonomi Indonesia memang sudah tidak bagus lantaran tim ekonomi pemerintah selalu menggunakan cara yang konvensional dan terbukti gagal di negara lain, seperti di Yunani dan beberapa negara di latin Amerika.
"Strategi lama harus ditinggalkan. Neoliberalism dan austerity policy (pengetatan anggaran) yang selama enam tahun pemerintah Jokowi gagal untuk mengangkat ekonomi tumbuh di atas 6% per tahun, harus segera ditinggalkan. Strategi ekonomi neoliberalisme itu hanya menggandalkan utang jor-joran tanpa menciptakan nilai tambah," pungkas Rizal Ramli.
Presiden Jokowi mulai bicara blak-blakan terkait proyeksi pertumbuan ekonomi Indonesia akibat pandemi COVID-19.
"Kita harus bicara apa adanya. Target pembangunan dan pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi cukup tajam. Tapi ini bukan hanya terjadi di negara kita, tapi juga di negara lain juga sama, mengalami hal yang sama," kata Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, melalui konferensi video, Selasa (14/4/2020).
Presiden Jokowi sebelumnya juga mengatakan bahwa hampir semua negara di dunia dan berbagai lembaga internasional baik International Monetary Fund (IMF), dan Bank Dunia juga sudah memprediksi ekonomi global 2020 akan memasuki periode resesi.
Jokowi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi internasional akan akan tumbuh negatif 2,8 persen di 2020. Meski demikian, Jokowi mengatakan, semua pihak harus optimistis menghadapi tantangan tersebut.
"Kita harus menyiapkan diri dengan berbagai skenario. Kita tidak boleh pesimis dan tetap harus berikhtiar, bekerja keras untuk pemulihan-pemulihan. Baik pemulihan kesehatan, pemulihan ekonomi, dan InsyaAllah kita bisa," ujar Jokowi.

Share this article
Sebelum adanya pandemi COVID-19, ekonomi Indonesia memang sudah tidak bagus lantaran tim ekonomi pemerintah selalu menggunakan cara yang konvensional