JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Merebaknya COVID-19 sejak awal tahun 2020 telah memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global. Bahkan, setelah resmi dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus corona semakin menekan kondisi perekonomian di berbagai sektor.
Berbagai perusahaan mulai dari sektor manufaktur hingga pariwisata sudah mulai merasakan kerugian yang disebabkan penyebaran virus ini. Wabah ini pun membuat sebagian atau bahkan banyak kalangan pengusaha dan perusahaan di Indonesia maupun di dunia merasakan dampak yang cukup besar yang bergerak di bidang retail.
Dengan kondisi yang sedemikian mengkhawatirkan, Ketua Bidang Ketenagakerjaan, Vokasi dan Kesehatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Sari Pramono merekomendasikan kepada pemerintah di bidang industri dan ketenagakerjaan terkait pekerja dan pemberi kerja.
"Sejumlah negara mulai memberlakukan kebijakan social distancing hingga lockdown di negara mereka. Di Indonesia diambil kebijakan social distancing dan penekanan untuk work from home (WFH), namun kebijakan ini baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kunjungan pelanggan," ujar Sari dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Sebagai pengusaha, Sari melanjutkan, pihaknya butuh untuk tetap menjalankan usaha agar tidak berimbas pada pemecatan karyawan yang tentunya akan menimbulkan masalah yang lebih luas. Karena itulah pihaknya siap menjadi perwakilan pengusaha muda terutama untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terorganisir di seluruh Indonesia yang bisa pair to pair dengan pemerintah daerah masing-masing.
"Kebijakan yang harus didiskusikan bersama di antaranya adalah WFH. Akan tetapi apakah dengan diberlakukannya WFH bisa efektif untuk semua industri? Jika diberlakukan lockdown bagaimana?" tanyanya.
Menurut Sari, kebijakan untuk diberlakukannya lockdown tetap akan ada pro dan kontra.
"Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk melakukan rapat terbatas dengan kabinet pemerintah untuk segera mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan industri dan ketenagakerjaan terkait COVID-19," ucapnya.
Sari menambahkan, BPP HIPMI Bidang IX juga meliputi bidang kesehatan. Dengan demikian, pihaknya pun siap menjadi garda terdepan membantu pemerintah untuk dapat mengurangi dampak penyebaran COVID-19 di tempat usaha.
"Berbagai jenis usaha mengalami imbas dari kebijakan ini, sehingga butuh dibuatkan panduan bagi pengusaha untuk tetap menjalankan usaha. Namun juga aman secara kesehatan dan tidak menjadi tempat penularan virus corona sehingga pelanggan masih bisa nyaman untuk berbelanja," ungkapnya.
Ada beberapa cara untuk menciptakan tempat usaha yang bisa mengurangi penyebaran virus corona di antaranya adalah menyemprot desinfeksi ke seluruh ruangan sebelum karyawan datang ke kantor atau tempat usaha.
"Atur posisi berdiri di lift, beri penanda pada lift untuk arah posisi berdiri, menekan tombol lift menggunakan siku atau perantara seperti tisu. Kemudian, sebelum karyawan masuk ke ruangan tempat kerja, lakukan cek suhu, cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer," paparnya.
Selain itu, tempat usaha atau kantor perlu menerapkan untuk menggunakan masker sebagai aturan etika batuk dengan menutup mulut.
"Pengaturan posisi social distancing di tempat kerja, atur posisi duduk karyawan bekerja dengan jarak lebih dari satu meter, mengatur posisi antrian dengan jarak lebih dari satu meter," tuturnya.

Share this article
Ada beberapa cara untuk menciptakan tempat usaha yang bisa mengurangi penyebaran virus corona di antaranya adalah menyemprot desinfeksi ke seluruh ruangan sebelum karyawan datang ke kantor atau tempat usaha.