JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Bistar, aplikasi transportasi online asli Indonesia yang membawa konsep berbagi tumpangan, mulai menginvasi Jakarta.
Sebelumnya Bistar berhasil dalam uji coba menghadirkan layanan transportasi berbasis aplikasi di Surabaya, Jawa Timur.
"Sudah kami uji coba di Surabaya sejak 2018, tidak ada masalah. Sehingga kami bawa ke Jakarta sudah tidak perlu uji coba lagi, sudah bisa langsung dipergunakan," kata pendiri Bistar, Miftachul Amin, Jumat (11/10/2019).
Menurut Amin, aplikasi ini telah memberikan layanan kepada 40.000 pengguna selama di Surabaya. Untuk menjamin keamanan, aplikasi ini memiliki fitur verifikasi data, kirim sinyal dan laporan langsung ke pihak aplikasi.
Selain itu, aplikasi juga menyediakan sistem rating. Fitur ini memungkinkan pengemudi maupun penumpang bisa saling memberikan penilaian. Dengan demikian, jika ada pihak yang dirugikan, Bistar dapat membekukan akun tersebut.
“Jadi yang dibekukan bukan hanya akun drivernya saja. Kalau ada penumpang yang merugikan driver, penumpangnya juga bisa dibekukan,” ujar Amin.
Aplikasi ini sudah dikembangkan sejak 2014. Kemudian resmi diluncurkan di Google Play pada 2018. Pada Januari 2019, aplikasi ini resmi diluncurkan di Appstore.
Jika di aplikasi transportasi online lain penumpang diwajibkan membayar tarif sesuai yang ditetapkan penyedia layanan, di Bistar penumpang diberi pilihan hingga lima variasi harga dan jenis kendaraan yang berbeda.
Dari sisi pengemudi pun diberi kebebasan untuk memasang tarif berdasarkan jarak tempuh dan kondisi kendaraan yang dimiliki.
"Dengan demikian, terjadi mekanisme pasar tawar-menawar sehingga tidak terjadi monopoli harga," jelasnya.
Amin menjelaskan, aturan main si pengantar berhak menetapkan harga sendiri karena Bistar bukan perusahaan taksi, bukan perusahaan angkutan online.
"Kami hanya mempertemukan," ujar Amin.
Supaya penumpang dan pengemudi dapat mengetahui tarif normal dalam suatu perjalanan, Bistar akan menerapkan tarif standar sehingga penumpang dapat memilih tawaran tarif dari pengemudi, apakah terlalu mahal atau terlalu rendah. Sedangkan dari sisi pengemudi, tarif standar yang tidak dijadikan patokan juga menguntungkan.
Bahkan, “Aplikasi Berbagi Tumpangan” ini juga memungkinkan para penggunanya untuk memanfaatkan untuk keperluan selain tumpangan. Seorang pengguna juga dapat mendaftarkan dirinya sebagai pengemudi tanpa harus terikat sebagai karyawan di perusahaan aplikasi tersebut.
Untuk kutipan dari pengemudi, aplikasi ini hanya mengutip Rp 1.000 untuk sepeda motor dan Rp 3.000 untuk mobil, tanpa ada pembatasan jarak yang ditempuh.
Untuk bergabung dengan Bistar tergolong sangat mudah. Pengguna cukup mengisi data yang diminta aplikasi baik sebagai driver maupun penumpang. Proses verifikasi diklaim hanya butuh hitungan menit.
"Bisa sedikit lama jika ada data yang diindikasikan memerlukan konfirmasi lebih lanjut," kata Amin.
Menurut Amin, aplikasi Bistar sangat potensial di masa depan karena tingginya mobilitas masyarakat memungkinkan pengguna aplikasi dapat berperan mengurangi kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta.
"Mereka dapat memberi tumpangan pengguna lain dengan rute searah," ucapnya.

Share this article
Aplikasi ini sudah dikembangkan sejak 2014. Kemudian resmi diluncurkan di Google Play pada 2018. Pada Januari 2019, aplikasi ini resmi diluncurkan di Appstore.