JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Di era digital ini, cukup banyak UMKM yang bergerak di industri e-commerce dengan potensi yang baik untuk mengembangkan produk dan industri dalam negeri.
Hanya saja, banyak dari para pelaku UMKM tersebut kerap kesulitan dalam mendapatkan akses pendanaan melalui bank, karena belum atau tidak memiliki asset tetap (fixed asset) yang menjadi salah satu syarat utama dalam melakukan pinjaman. Sehingga, tidak sedikit UMKM yang pertumbuhan usahanya tersendat atau bahkan sampai harus gulung tikar karena keterbatasan dana.
Berangkat dari fenomena tersebut, PT Cerita Teknologi Indonesia, perusahaan yang menyediakan platform peer to peer (P2P) lending di Indonesia bernama Restock.ID yang telah mendapatkan registrasi dari OJK di bulan Agustus 2019, mulai melakukan sosialisasi kepada UMKM di industri kreatif dengan mengadakan sebuah gelaran atau event bertajuk “Reconnect”.
Muhammad Farid Andika selaku CEO Restock.ID mengatakan bahwa tujuan utama acara ini untuk menyampaikan beragam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan UMKM di era digital.
"Kami ingin mengumpulkan berbagai UMKM industri kreatif di Bandung dan Jawa Barat untuk menyampaikan berbagai macam potensi dan solusi yang dapat mendukung pertumbuhan usaha mereka di era digital ini. Selain itu juga akan dilakukan sosialisasi terkait Restock.ID sebagai platform P2P lending yang dapat menjadi solusi dan alternatif pendanaan bagi industri kreatif, serta dampaknya terhadap perekonomian untuk mencapai inklusi keuangan nasional," jelasnya.
Farid juga menambahkan bahwa melalui acara sosialisasi ini, Restock.ID berharap dapat membantu para pengusaha di industri kreatif Bandung dengan memberikan informasi dan pengalaman mengembangkan usaha dari para ahli di bidang masing-masing.
Di Reconnect ini juga akan dihadirkan para ahli dan praktisi pelaku usaha dari industri kreatif yang sudah cukup sukses di bidangnya masing-masing.
“Dengan adanya event Reconnect ini, saya berharap dapat membantu para pengusaha industri kreatif di Bandung. Kami menghadirkan para ahli dan praktisi pelaku usaha industri kreatif untuk membagikan informasi dan pengalaman dalam mengembangkan usaha mereka, sharing best practices. Event Reconnect ini juga kami rancang sebagai wadah, dimana para pelaku industri kreatif dapat berkumpul dan melakukan networking dengan para pengusaha yang berkaitan di wilayah Bandung dan sekitarnya,” tuturnya.
Pada kesempatan ini, Restock mengundang Direktorat Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Johnson Halomoan Marpaung, Victoria Tahir selaku Wakil Kepala Eksekutif Pendanaan Produktif.
Johnson mengatakan bahwa OJK sebagai regulator akan membantu untuk melakukan pengawasan terhadap bagaimana jalan dan fungsi peer to peer lending. Lalu penjelasan terkait perbedaan peer to peer lending company dengan perbankan adalah tidak mengolah resiko dikarenakan lender yang akan menanggung risiko tersebut jika terjadi gagal bayar.
Oleh karena itu peer to peer lending berhak untuk memberikan informasi yang transparan agar pihak borrower maupun lender dapat mengerti apa yang mereka berikan baik itu memberikan pendanaan atau meminjam dana.
“Terkait issue mengenai maraknya pinjaman peer to peer lending yang dimana terjadi pinjaman online yang kita memang harus memperhatikan, mulai dari segi peer to peer lending itu terdaftar di OJK atau tidak dan di awasi OJK apa tidak, dikarenakan jika tidak terdaftar dan di awasi OJK maka risiko yang timbul akan semakin tinggi dan tidak dapat di minimalisir dalam pengawasan OJK,” papar Johnson.
Sementara, Victoria menilai bahwa aturan yang dibuat oleh OJK saat ini cukup mendukung industri dan tidak menghambat industri fintech Peer to Peer (P2P) Lending. AFPI sendiri sebagai wadah membantu untuk mediasi sesama fintech peer to peer lending untuk informasi dan issue apa saja yang memang dapat membantu dalam perkembangan fintech di Indonesia.
“Perbedaan mengenai pendanaan yang produktif dan pendanaan yang multiguna, pendanaan multiguna adalah pendanaan yang risiko dari pihak peminjam, karena kan memang pendanaan dapat di berikan kepada pihak siapapun, sedangkan untuk pinjaman yang produktif lebih fokus kepada pinjaman yang resiko dari pihak pemberi pinjaman dan peminjam dimana pendanaan ini dapat dijadikan sebagai modal untuk bisnis yang akan dilakukan dari pihak peminjam,” lanjut Victoria Tahir.
Terakhir, Farid menjelaskan bahwa Restock.ID berharap dapat membantu UMKM yang bergerak di industri ritel dan e-commerce dengan hadir sebagai perusahaan penyedia platform peer to peer (P2P) lending pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan stok barang jualan atau inventori sebagai jaminan untuk pembiayaan tambahan.
"Kami juga menggunakan metode credit scoring yang lebih likuid dibanding financing model tradisional. Karena penggunaan teknologi dan online platform, proses pendanaan cukup cepat, hanya membutuhkan waktu 5-10 hari. Dalam aspek keamanan investasi, Restock.ID memiliki keamanan yang lebih tinggi melalui kemitraan terencana dengan payment gateways (untuk mengamankan repayment) dan warehouse & fulfillment platform (untuk mengamankan data persediaan dan pengiriman) berdasarkan perjanjian fidusia mengenai anggunan,” tutupnya.
.jpg)
Share this article
Restock.ID berharap dapat membantu UMKM yang bergerak di industri ritel dan e-commerce dengan hadir sebagai perusahaan penyedia platform peer to peer (P2P) lending pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menggunakan stok barang jualan atau inventori sebagai jaminan untuk pembiayaan tambahan.