AYOJAKARTA.COM -- Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mengadakan program literasi keuangan sekaligus pelatihan membatik ramah lingkungan di Sentra Batik Trusmi, Cirebon.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen BTN dalam mengimplementasikan prinsip keuangan berkelanjutan hingga menyentuh debitur non-perumahan, termasuk pelaku usaha batik.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menegaskan bahwa dukungan BTN terhadap UMKM, terutama pengrajin batik, sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurutnya, batik bukan hanya identitas budaya, tetapi juga bagian penting dari industri sandang yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“BTN tidak hanya fokus pada pembiayaan perumahan, melainkan juga kebutuhan dasar lain seperti pangan dan sandang. Batik adalah simbol budaya Indonesia sekaligus industri strategis yang menopang jutaan pengrajin,” jelas Setiyo di Cirebon, Kamis, 2 September 2025.
“Dukungan ini menjadi langkah strategis BTN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Dalam sesi literasi keuangan, BTN memberikan informasi seputar pembukaan tabungan hingga akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pengrajin batik.
BTN juga mendorong para pengrajin agar bisa menjadi agen bank sehingga tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperoleh tambahan penghasilan.
“Kami ingin para pengrajin batik tidak hanya mampu memperluas pasar dan kapasitas produksi, tetapi juga menikmati akses keuangan yang inklusif serta berkelanjutan. Bahkan kami dorong mereka menjadi agen banking agar pendapatannya semakin meningkat,” tambah Setiyo.
BTN bekerja sama dengan World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF) untuk memperkenalkan penggunaan bahan baku batik ramah lingkungan, termasuk material berbasis minyak sawit bersertifikasi.
Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan produk batik berkualitas yang tidak hanya indah, tetapi juga mendukung kelestarian lingkungan.
Founder & CEO Trusmi Group, Ibnu Riyanto, menyambut baik inisiatif BTN ini. Ia menilai momentum Hari Batik Nasional selalu menjadi titik penting bagi perkembangan industri batik.
“Sejak UNESCO mengakui batik pada 2009, penjualannya meningkat pesat dan masyarakat makin bangga mengenakan batik. Namun dalam empat tahun terakhir, industri batik Cirebon mengalami stagnasi sehingga kami harus memikirkan strategi promosi baru,” jelas Ibnu.
“Kolaborasi dengan BTN sangat positif, karena tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperkenalkan batik ramah lingkungan bersertifikat WWF. Dengan begitu, konsumen merasa membeli batik sekaligus mendukung kelestarian lingkungan,” lanjutnya.
Ke depan, BTN akan memperluas pembiayaan KUR hingga Rp3 triliun bagi UMKM batik di berbagai sentra nasional, termasuk Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta.
Dukungan ini menjadi bagian dari strategi pemberdayaan UMKM di sektor sandang yang berperan besar dalam perekonomian Indonesia.
“Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat UMKM. BTN ingin memastikan keuangan berkelanjutan tidak hanya menyasar sektor perumahan, tetapi juga merangkul UMKM dan industri budaya seperti batik,” pungkas Setiyo.
Melalui rangkaian inisiatif ini, BTN menegaskan perannya sebagai bank yang tidak hanya mendukung pembiayaan perumahan, tetapi juga konsisten dalam memberdayakan UMKM dan menjaga lingkungan.
Dengan menghadirkan literasi keuangan, akses permodalan, dan kolaborasi ramah lingkungan, BTN mendorong agar industri batik tetap tumbuh berkelanjutan sekaligus menjadi kebanggaan bangsa.
Share this article
BTN rayakan Hari Batik Nasional dengan literasi keuangan dan batik ramah lingkungan, sediakan KUR Rp3 Triliun untuk UMKM batik.