AYOJAKARTA.COM – Menikmati momen saat ini atau mindfulness merupakan salah satu kunci untuk dapat merasakan kebahagiaan yang sejati.
Dengan kesadaran akan pentingnya memiliki momen saat ini atau mindfulness, setiap individu akan lebih terhubung dan tersambung realitas kekinian.
Namun rasa takut berlebih terhadap bayangan masa lalu atau kecemasan masa depan, seringkali menghambat proses mindfulness.
Sehingga setiap aktivitas fisik atau ragawi yang dilakukan seseorang, seringkali lebih karena mode autopilot atau tanpa dilandasi dengan kesadaran dan keterhubungan.
Akibatnya, proses healing dan refreshing yang diagung-agungkan sebagai bentuk pencarian terhadap bahagia seringkali justru menemukan jalan buntu.
Besarnya ketergantungan individu pada faktor eksternal dalam proses menemukan kebahagiaan, cenderung berbuah kecewa karena tidak dimulai dari dalam diri sendiri.
Untuk menikmati kebahagiaan sejati melalui prinsip mindfulness, kemampuan individual dalam memaafkan merupakan hal wajib dilakukan.
Dengan jalan memaafkan, seseorang secara energetik telah merilis atau melepaskan beban emosi negatif yang seringkali menghambat jalan masuk kebahagiaan sejati.
Sebagai bahan introspeksi dan kontemplasi diri, berikut ini adalah empat orang yang perlu dimaafkan sebelum menyambut kebahagiaan sejati, dikutip dari Instagram @hearty.service.
Mencapai Pola Pikir Mindfulness
Sosok manusia pertama di dalam rentang kehidupan yang perlu dimaafkan dalam proses merasakan kebahagiaan sejati adalah orang tua.
Kesan dan citra tentang kesempurnaan merupakan hal yang seringkali menjadi harapan dari kebanyakan anak terhadap orang tua.
Tingginya ilusi harapan, fakta empiris kenyataan serta minimnya kesadaran diri, membuat anak merasa kecewa dengan orang tua yang sudah menjadi perantara hidup di dunia.
Sosok manusia kedua yang perlu untuk dimaafkan agar proses mindfulness bisa berjalan, adalah setiap orang di dalam lingkaran pernikahan.
Anak, istri, suami, merupakan individu unik yang memiliki pengalaman dan perspektif pribadi masing-masing sehingga satu sama lain sering berbeda pandangan.
Kesadaran akan peran dan tanggung-jawab sosial serta batasan diri, merupakan kunci dasar dalam mewujudkan kebersamaan yang penuh dengan rasa ikatan perasaan.
Terdapat satu momen atau peristiwa, semua orang dalam interaksi sosial menjadi pemicu lahirnya situasi yang emosional.
Memulihkan ingatan yang tidak menyenangkan dan memaafkan orang-orang di masa lalu, merupakan kunci penting mindfulness.
Terakhir namun justru menjadi hal terpenting, sosok yang harus diberikan maaf dan kesempatan untuk pulih dan meraih kembali harapan adalah diri sendiri.
Disadari atau tidak, kualitas dan hasil relasi seseorang dengan orang lain di sekitar merupakan cerminan paling jelas atas hubungannya dengan diri sendiri.
Semakin baik hubungan seseorang dengan dirinya sendiri, hal tersebut akan terlihat dari hubungannya dengan orang di sekitar.***

Share this article
Menikmati momen saat ini atau mindfulness merupakan salah satu kunci untuk dapat merasakan kebahagiaan yang sejati.