AYOJAKARTA.COM -- Berada di karesidenan Kedu Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, keberadaan Candi Borobudur telah menjadi salah satu ikon kebanggaan dunia.
Meski bangunan arsitektur berundak ini telah dikenal luas oleh warga dunia, namun Candi Borobudur hingga hari ini masih menyimpan banyak misteri.
Bahkan penyebutan atau istilah Candi Borobudur saat ini mulai dihinggapi dengan berbagai keraguan dari para kalangan arkeolog.
Baca Juga: Indonesia Punya 10 Kota Terdingin: Dari Gayo Lues hingga Mulia di Papua, Pernah Berkunjung ke Sini?
Selain karena tidak adanya prasasti pendukung, arsitek Borobudur juga terbilang jauh berbeda dengan bangunan candi Hindu atau Budha di tanah Jawa pada umumnya.
Secara umum, bangunan candi Hindu atau Budha yang tersebar di tanah Jawa cenderung memiliki ruangan yang dalam, altar untuk persembahan serta arca induk di bagian inti.
Berdasarkan pada pengamatan udara dan gagasan tentang bangunan candi, struktur bangunan Borobudur justru banyak dianggap sebagai sebuah mesin raksasa.
Menurut kalangan Arkeolog Alternatif termasuk Thomas RG Genz yang merupakan Pakar Arkeoastronomi, Borobudur bukan sekadar candi.
Pola-pola benda yang membentuk lingkaran atau mandala pada permukaan Borobudur, menurutnya adalah sebuah representasi kalender matahari dan bulan.
Jumlah undakan tangga pada Borobudur yang berjumlah sembilan, menurut Thomas juga perlu dipertanyakan makna dan alasan pembuatannya.
Selain angka sembilan merupakan tingkat kehidupan menurut pandangan Buddhisme, jumlah tersebut juga terlalu banyak untuk sebuah seremonial keagamaan.
Mengacu pada premis tersebut, Thomas dan para Arkeolog Independen meyakini bahwa Borobudur adalah sejenis mesin navigasi waktu atau observatorium di zamannya.
Terlebih karena lokasi keberadaan Borobudur yang berada persis di puncak lembah, memiliki hubungan garis simetris dengan Candi Mendut dan Candi Pawon.
Dalam kurun waktu tertentu, para Arkeolog mendapati fakta bahwa cahaya matahari terbit sejajar dan sempurna dengan kedua candi tersebut.
Berdasarkan pada fakta tersebut, Arkeolog Independen meyakini bahwa perancang Borobudur sangat memahami ilmu astronomi yang baru terungkap di masa modern.
Meski tidak menampik keterlibatan Dinasti Syailendra, Arkeolog juga tidak menutup celah kemungkinan adanya peradaban yang jauh lebih canggih di masa sebelumnya.
Minimnya bukti-bukti ilmiah yang mengarah kepada proses pembuatan Borobudur, membuat arkeolog menetaskan sebuah pendapat dan teori.
Menurutnya, minimnya bukti tentang Borobudur melalui prasasti merupakan tanda bahwa bangunan tersebut sudah ada jauh sebelum era Mataram Kuno bahkan Dinasti Syailendra.
Baca Juga: Mengenal Simpang Lima Gumul, Ikon Kota Kediri yang Menyatukan Sejarah hingga Kemajuan Ekonomi
Struktur bangunan Borobudur yang sangat presisi dan sejalan dengan ilmu geometri sakral serta angka Fibonacci, merupakan bukti adanya hubungan antara dunia berbeda.
Memiliki julukan sistem drainase yang masih membuat UNESCO melongo, para Arkeolog curiga bahwa bangunan Candi Borobudur adalah Pusat Resonansi semesta.***

Share this article
Menjadi salah satu ikon kebanggaan dunia, Candi Borobudur hingga hari ini masih menyimpan banyak misteri dan fakta tersembunyi.