AYOJAKARTA.COM - Polemik global kembali mencuat setelah tuduhan dari Amerika Serikat terhadap Iran terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat disinformasi dalam konflik perang.
Isu ini pun menuai beragam respons, termasuk dari pendakwah Indonesia, Habib Jafar, yang memberikan sudut pandang kritis terhadap narasi tersebut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuding Iran memanfaatkan AI untuk menciptakan konten manipulatif, mulai dari gambar serangan militer hingga klaim kemenangan yang dinilai tidak sesuai fakta.
Tuduhan itu disampaikan melalui platform Truth Social dan pernyataan resmi kepada media.
Trump menegaskan bahwa teknologi AI kini menjadi ancaman serius dalam perang modern.
Ia bahkan menyebut AI sebagai “senjata disinformasi” yang dapat membentuk opini publik secara masif.
“AI bisa sangat berbahaya, kita harus sangat berhati-hati dengannya,” ujar Donald Trump dilansir dari laman People.com.
Fenomena ini bukan tanpa dasar. Sejumlah laporan menunjukkan meningkatnya penggunaan AI dalam menyebarkan propaganda perang.
Gambar satelit palsu, video manipulatif, hingga klaim serangan militer yang dilebih-lebihkan banyak beredar di media sosial sejak konflik memanas.
Bahkan, investigasi menunjukkan bahwa beberapa konten yang viral merupakan hasil rekayasa digital yang sulit dibedakan dari kondisi nyata.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa AI telah menjadi alat strategis dalam perang informasi modern.
Namun demikian, sejumlah pihak menilai bahwa tuduhan ini juga perlu dilihat secara kritis.
Dalam situasi konflik, narasi informasi sering kali menjadi bagian dari strategi politik untuk memengaruhi persepsi global.
Di tengah tuduhan tersebut, hubungan antara pemerintah AS dan media juga ikut memanas.
Ketua Federal Communications Commission, Brendan Carr, bahkan memperingatkan kemungkinan pencabutan lisensi bagi penyiar yang dianggap menyebarkan informasi menyesatkan.
Langkah ini memicu perdebatan tentang kebebasan pers dan batasan dalam pelaporan konflik.
Apalagi, dalam era digital, batas antara fakta dan propaganda semakin kabur.
Menanggapi isu ini, Habib Jafar menyampaikan pandangan reflektif melalui media sosialnya:
Kami diajarkan oleh Nabi SAW dan Surat Hujurat: 11 bahwa kadang yang nuduh justru yang sebenarnya tertuduh. Begitulah memang adu domba sebagai senjata utama kolonialisasi.
Pernyataan ini mengandung kritik mendalam terhadap dinamika informasi dalam konflik global.
Habib Jafar menyoroti kemungkinan bahwa tuduhan yang dilontarkan bisa menjadi bagian dari strategi yang lebih besar, yaitu membentuk opini publik melalui narasi tertentu.
Dalam konteks ini, konsep “adu domba” menjadi relevan. Sejarah menunjukkan bahwa konflik sering kali diperkeruh oleh propaganda dan manipulasi informasi untuk melemahkan lawan atau mengontrol persepsi masyarakat.
Dengan demikian, komentar Habib Jafar tidak hanya merespons isu AI dan disinformasi, tetapi juga mengingatkan pentingnya literasi informasi.
Di tengah derasnya arus berita, publik dituntut untuk lebih kritis, tidak mudah terprovokasi, dan memahami bahwa kebenaran dalam konflik sering kali berada di antara berbagai kepentingan yang saling bertabrakan.***
Share this article
Trump tuding Iran gunakan AI untuk disinformasi perang. Isu ini memicu debat literasi digital. Habib Jafar mengkritik balik, mengingatkan agar waspada terhadap adu domba dan narasi manipulatif.