AYOJAKARTA.COM - Guncangan gempa bumi dengan magnitudo 7,8 yang terjadi di wilayah Turki merupakan peristiwa yang mengerikan.
Peristiwa tersebut telah menewaskan lebih dari 5.000 jiwa di dua wilayah yaitu Turki dan Suriah.
Namun di tengah suasana berkabung yang dialami oleh para korban, muncul klaim bahwa gempa bumi tersebut disebabkan oleh HAARP.
Dikutip ayojakarta.com dari metro.suara.com dengan judul "Cek Fakta: Sambaran Kilat Muncul saat Gempa Turki Bukti Operasi HAARP?" pada Rabu (8/2/2023), para peminat teori konspirasi mengatakan bahwa gempa Turki tersebut merupakan bagian dari operasi pembalasan dari NATO terhadap Turki menggunakan teknologi HAARP.
Dalam artikel tersebut juga dikatakan bahwa para pengusung teori ini menunjukkan vidio sambaran kilat di Turki jelang terjadinya gempa besar pada Senin (6/2/2023) kemarin.
Hal ini kemudian dibantah Daryono selaku Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG melalui akun Twitternya @DaryonoBMKG.
Ia mengatakan bahwa analisa HAARP merupakan angan-angan kosong yang dikaitkan dengan gempa Turki.
"Adalah angan angan kosong, mengkait-kaitkan gempa dengan HAARP," cuit Daryono.
Baca Juga: Heboh Sambaran Kilat di Gempa Turki Dikaitkan dengan HAARP, Ini Penjelasan BMKG
Selain itu, Daryono juga menjelaskan terkait fenomena cahaya sebelum terjadinya gempa yang disebut seismoelectric effect.
"Saat batuan kulit bumi mengalami/mendapat tekanan yang hebat dan sangat kuat, mendekati batas elastisitasnya, maka sebelum failure maka akan melepaskan gelombang elektromagnetik, dari sinilah awal cerita lightning during the earthquake, pencahayaan gempa. "seismoelectric effect"," cuit Daryono.
Daryono menambahkan bahwa earthquake lightning juga pernah terjadi di Indonesia saat sebuah gempa bumi mengguncang lereng utara Merbabu pada 16 Februari 2014.
Lebih lanjut dalam artikel tersebut dijelaskan mengenai HAARP yang merupakan singkatan dari High Frequency Active Auroral Research Program.
Riset ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari dinamika ionosfer dan menggali potensi untuk mengembangkan teknologi komunikasi radio dan pemantauan.
Riset atau penelitian ini mendapatkan dukungan dari militer Amerika Serikat dan Universitas Alaska.
Salah satu perangkat terpenting dari penelitian ini adalah Ionospheric Research Instrument atau IRI yang terletak di Alaska, terdiri dari 180 perangkat antena radio yang bisa mentransmisikan gelombang radio frekuensi tinggi ke atmosfer.
Para ilmuan kemudian akan melakukan pengamatan terkait reaksi yang terjadi di ionosfer akibat paparan gelombang frekuensi tinggi tersebut.
Reaksi ini digambarkan mirip dengan proses paparan badai Matahari yang memicu aurora karenanya eksperimen ini disebut aurora buatan, tetapi dengan skala lebih kecil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa klaim terkait penyebab gempa di Turki disebabkan oleh HAARP merupakan hoaks dan angan-angan kosong belaka.
Pasalnya penyebab guncangan besar tersebut telah diungkapoleh para peneliti akibat pecahnya Sesar Anatolia Timur.***

Share this article
Berikut penjelasan Daryono BMKG terkait HAARP yang dituding sebagai dalang gempa bumi besar di Turki.