TEBET, AYOJAKARTA.COM - Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menyoroti kebijakan PSBB transisi yang diterapkan Pemprov DKI Jakarta. Kebijakan tersebut terlalu dini untuk diterapkan mengingat kasus Covid-19 aktif masih cukup tinggi.
Peneliti IDEAS, Fajri Azhari mengatakan, DKI Jakarta saat ini sebagai wilayah dengan kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia. Di samping itu, ada 12 ribu kasus aktif yang masih membutuhkan penanganan.
AYO BACA : Kasus Positif Covid-19 Kota Bogor Bertambah 41 Pasien
“Penanggulangan pandemi DKI Jakarta menunjukkan titik lemahnya dengan menerapkan PSBB Transisi lagi di saat angka kasus aktif masih tinggi di kisaran 12 ribu kasus. Padahal bukan tidak mungkin, momentum penarikan kebijakan rem darurat (Emergency Brake) sebelumnya yang diterapkan dapat dijadikan kesempatan untuk menekan kasus hingga di titik terendah," kata Fajri dalam keterangan tertulisnya, Selasa (13/10/2020).
IDEAS mencatat adanya lonjakan kasus positif ketika PSBB transisi Jilid 1. Pada periode 4 Juni hingga 8 Agustus lalu, kasus positif berjumlah 17.914. Kemudian, pada perpanjangan berikutnya, yakni 9 Agustus sampai 10 September, total kasus menjadi 25.384.
AYO BACA : Proaktif Bantu Penanganan COVID-19, bank bjb Diganjar Penghargaan BNPB
"Pada masa ini meningkat drastis hingga 7 kali lipat selama era PSBB Transisi dari total kasus saat PSBB yang pertama sampai ketiga yakni 9 April-3 Juni 2020," jelasnya.
Berkaca pada masa PSBB transisi Jilid 1, Fajri menilai lonjakan kasus juga bakal terjadi di PSBB Jilid 2 ini. Oleh sebab itu, menurutnya hanya ada dua cara pengendalian Covid-19 yang efektif, yakni pemeriksaan massal dan karantina wilayah.
“Dengan keterbatasan sistem kesehatan, satu-satunya cara mengatasi covid-19 dalam jangka pendek adalah menurunkan tingkat penularan dan PSBB merupakan langkah yang tepat. Namun, terkini kebijakan tersebut malah dijadikan kambing hitam atas dampak kerusakan perekonomian yang terjadi," Ujar Fajri.
Menurutnya, jika tidak bisa menerapkan karantina wilayah, paling tidak pemerintah menerapkan PSBB total. Meskipun perekonomian bakal terdampak, namun penanganan pandemi Covid-19 bisa berjalan optimal.
”Jangan pernah berharap pelemahan ekonomi akan berakhir tanpa terlebih dahulu menyelesaikan pandemi. Mengendalikan pandemi secara serius dalam waktu secepatnya, adalah prasyarat pemulihan ekonomi yang paling efektif,” imbuhnya.
AYO BACA : Kasus Covid-19 di Bekasi Tambah 35 Jadi 3.545 Orang

Share this article
Peneliti IDEAS, Fajri Azhari mengatakan, DKI Jakarta saat ini sebagai wilayah dengan kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia. Di samping itu, ada 12 ribu kasus aktif yang masih membutuhkan penanganan.