AYOJAKARTA.COM – Selaku Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno berharap penggunaan teknologi Jembatan Buka-Tutup dapat mulai diterapkan di ruas kali atau sungai.
Dengan adanya Jembatan Buka-Tutup, Rano optimis proses pemeliharaan ruas kali atau sungai yang tersebar di sejumlah titik di kota Jakarta akan menjadi lebih mudah dilakukan.
Sistem Jembatan Buka-Tutup, menurut Wagub juga memungkinkan alat-alat berat beroperasi sehingga proses perawatan kali di wilayah-wilayah Jakarta dapat lebih efisien.
Mengadaptasi teknologi masyarakat di sejumlah negara Eropa, penerapan teknologi Jembatan Buka-Tutup di Jakarta lebih dikhususkan untuk mempermudah perawatan.
“Coba didesain jembatan yang bisa buka-tutup, supaya alat berat seperti Excavator atau Backhoe bisa pindah,” jelas Wagub seperti dikutip Ayojakarta dari IG @dkijakarta.
Terkait dengan penerapan teknologi jembatan otomatis yang dapat dibuka-tutup, Pemprov Jakarta Selatan melalui Sudin Bina Marga telah merealisasikan gagasan tersebut.
Memiliki panjang Sembilan Meter dengan luas mencapai 1,5 Meter, Jembatan Buka-Tutup yang terletak di kawasan Gandaria ini menghubungkan Kebayoran Lama-Kebayoran Baru.
Dioperasikan dengan sistem buka tutup yang beroperasi menggunakan katrol gear tuas penggerak, jembatan ini memungkinkan perawatan drainase lebih optimal.
Selain aman untuk dilewati oleh pengguna jalan dari berbagai segmen, keberadaan jembatan juga memperpendek jarak tempuh.
Menurut Heru Suwondo selaku Kepala Dinas Bina Marga, jembatan Gandaria merupakan model pertama yang berada di wilayah Jakarta.
Sebelumnya, jembatan yang berada persis di atas permukaan Kali Grogol ini kerap menimbulkan sejumlah persoalan lingkungan serta relatif kurang aman.
Dengan anggaran sekitar Rp 600 juta rupiah, saat ini warga di sekitar lokasi dapat menikmati berbagai manfaat baik akses jalan serta kebersihan kali.
“Tujuannya jembatan bisa diangkat untuk memudahkan saat ada pekerjaan di bawahnya, baik pembersihan atau sebagainya,” ujar Heru dikutip Ayojakarta dari IG @binamargadki.
Penerapan Jembatan dengan sistem Buka-Tutup di Indonesia, sebelumnya juga pernah diperkenalkan dan menjadi salah satu ikon Pemerintah Bangka Belitung.
Menghubungkan dua kabupaten kota dan menelan anggaran mencapai 435 Miliar Rupiah, jembatan Buka-Tutup yang dijuluki dengan Jembatan Emas saat ini telah berhenti beroperasi.
Baca Juga: Polemik Tunjangan Rumah DPR RI Capai RP50 Juta per Bulan, Ini Rincian Gajinya!
Memiliki panjang mencapai 784,5 meter dengan lebar 23,2 meter, Jembatan Emas dibangun guna memangkas jarak tempuh Kota Pangkal Pinang serta Kabupaten Bangka.
Menurut Hidayat Arsani selaku Gubernur Babel, alasan penghentian sistem Buka-Tutup karena besarnya anggaran rutin yang dibutuhkan.
“Tidak mungkin lagi kita Buka-Tutup, karena biayanya Rp 1,6 M setahun untuk bahan bakar, belum karyawannya,” jelas Arsani dikutip Ayojakarta dari YouTube tvOneNews. ***

Share this article
Rano Karno dorong penerapan Jembatan Buka-Tutup di Jakarta. Model perdana hadir di Gandaria, bantu perawatan kali & akses warga lebih efisie