CILANDAK, AYOJAKARTA.COM – Bertepatan dengan 1 Muharram 1442 Hijiriah, Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali meresmikan Masjid Babah Alun yakni masjid berarsitektur oriental yang berada di samping pintu masuk Tol Desari Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak.
Marullah mengatakan kehadiran masjid ini dapat menjadi destinasi wisata religi khususnya di Jakarta Selatan, selain Masjid Agung Al Azhar dan masjid lainnya yang sudah ada terlebih dahulu.
“Saya apresiasi PT Citra Waspphutowa atas usahana membangun masjid ini,” kata Marullah dilansir selatan.jakarta.go.id, Kamis (21 Agustus 2020).
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Di Balik Lelaki Sukses, Ada…?
Marullah tak lupa memberikan apresiasi kepada pemegang proyek pembangunan Tol Desari Cilandak, PT Citra Waspphutowa, atas upaya membangun masjid dengan sentuhan oriental itu.
Ia juga menyebut, pembangunan masjid butuh waktu dua tahun dengan segala keterbatasan dana. Namun, atas niat baik akhirnya lambat laun masjid tersebut dapat diresmikan.
“Bila kita mendahulukan Allah dalam usaha kita, mudah-mudahan niatan ini dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala. Dan saya berterima kasih sudah diajak untuk bersama-sama menjadi orang yang meresmikan Masjid Babah Alun ini,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Citra Waspphutowa Muhamad Yusuf Hamka mengucapkan syukur atas diresmikannya masjid yang sejak dua tahun lalu telah dilakukan peletakan batu pertama oleh Wali Kota Jakarta Selatan.
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Cerita Tentang Komeng Tapi Bukan
Selain itu, Yusuf juga menyebut di area masjid ini juga ditanami berbagai pohon buah, di antaranya alpukat, cipedak dan zaitun.
“Walaupun Masjid ini belum jadi dengan sempurna, tetapi dengan semangat Tahun Baru Islam ini masjid Babah Alun bisa menjadi tempat Syiar Islam dan juga wisata religi bagi masyarakat, khususnya di Jakarta Selatan,” ujarnya.
Sebelumnya, Masjid Babah Alun didirikan oleh seorang mualaf keturunan Tionghoa, Muhammad Jusuf Hamka. Nama Alun sendiri diambil dari nama kecil sang pendiri.
Unsur-unsur tiga budaya Nampak jelas pada masjid yang tidak memiliki kubah ini, seperti di bagian genteng dan pintu masjid mewakili budaya Tionghoa, sedangkan unsur budaya Indonesia diwakili sebuah ukiran yang ada pada ujung atap, sedangkan unsur budaya Arab terdapat kaligrafi bertuliskan Asmaul Husna di dinding masjid.
Jika dilihat sepintas, orang tidak akan menyangka bahwa bangunan tersebut merupakan tempat ibadah kaum muslim. Sebab, jika dilihat dari luar bangunan Nampak seperti tempat ibadah klenteng.
Keunikan lainnya ialah adanya panduan berwudhu dan pelaturan masjid menggunakan tiga bahas, yakni Arab, Mandarin dan Indonesia. Hal tersebut untuk memudahkan dimengerti turis yang ingin menyempatkan ibadah di masjid yang memiliki khas warna merah dan hijau itu.
AYO BACA : KOPI SUSU CING ABDEL: Sepotong Roti dari Bilangan, Daerah Paling Top di Jakarta!

Share this article
Masjid Babah Alun dengan Arsitektur Bergaya Oriental