PADEMANGAN, AYOJAKARTA.COM – Kondisi pandemi dan situasi pembatasan sosial selama lebih dari 6 bulan telah menciptakan banyak kesedihan dan trauma.
Oleh karena itu, Pasar Seni Ancol menghadirkan kampanye #PemulihanBersama dengan tujuan memberi harapan, motivasi, dan inspirasi bagi semua masyarakat.
AYO BACA : Tambah 1.198 Positif, Kasus Aktif Covid-19 di DKI Jakarta Sentuh 12 Ribu (Update 2 Oktober 2020)
Kampanye yang dimulai sejak Mei 2020 ini menggelar forum diskusi "Pemulihan Bersama di Ruang Seni Budaya" bersama Mia Maria pimpinan Pasar Seni Ancol, Imelda Akmal (Architectural Writer Studio), Kartika Jahja (Ruang Selatan), dan David Irianto (Creative Curator) mengundang pemilik dan pengelola ruang seni dan budaya di seluruh Indonesia.
“Dalam metode penyembuhan tradisional kita mengenal terapi suara dan gerak tubuh, sebagai cara untuk menyeimbangkan tubuh dan fungsi otak yang memicu kesembuhan. Vibrasi dari suara harpa, terbukti secara klinis mampu menyeimbangkan gelombang saraf dan membawa kita ke frekuensi yang menurunkan stres dan ketegangan. Sedangkan, gerak tubuh intuitif dan merespon suara dapat membantu mengekspresikan pemikiran-pemikiran,” ujar Mia dilansir beritajakarta.id, Kamis (1/10/2020).
AYO BACA : Kerap Jadi Tempat Nongkrong, Kerumunan di Kolong Tol Becakayu Dibubarkan
Kampanye berlanjut dengan mengumpulkan beragam video #PemulihanBersama dari teman-teman seni budaya untuk berkomunikasi berbagai cerita yang inspiratif, beberapa di antaranya adalah seniman-seniman ternama seperti Melati Suryodarmo, Arahmaiani, Tisna Sanjaya, Ade Darmawan dan Mella Jaarsma.
Program #PemulihanBersama masih terus berlanjut dengan kolaborasi-kolaborasi bersama lebih banyak lagi seniman, tokoh seni budaya dan berbagai komunitas di Indonesia dan Internasional.
“Dari kegiatankegiatan ini kami berbagi pengalaman dan inspirasi dengan tujuan utamanya adalah untuk mengingatkan bahwa semua bisa mengupayakan pemulihan, that healing is always possible,” kata Mia.
Dengan kampaye #PemulihanBersama, Mia mengajak masyarakat dalam masa yang sulit ini untuk mengambil jeda yang membantu mengevaluasi pikiran dan perasaan.
“Jangan berusaha mengalihkan karena lebih baik mengungkapkan setiap trauma yang ada, hingga ada saatnya kita dapat kembali mengekspresikan diri dengan berbagai medium yang ada upaya membersihkan diri dari trauma,” ucapnya.
AYO BACA : Selama 7 Bulan, 6.810 Rumah Warga di Jakarta Timur Disemprot Disinfektan

Share this article
Kondisi pandemi dan situasi pembatasan sosial selama lebih dari 6 bulan telah menciptakan banyak kesedihan dan trauma.