AYOJAKARTA.COM - Bulan Ramadhan merupakan periode kemuliaan dan keberkahan dalam Islam, di mana umat Muslim dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah dan meningkatkan kualitas spiritual mereka.
Dalam kajian zawiah yang disampaikan oleh Buya Yahya, beliau menjelaskan bahwa esensi puasa Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak terpuji.
"Sebagian manusia berpuasa kadang-kadang puasa-puasaan tidak ada makna puasa hanya menahan lapar dan dahaga, tidak menghindar dari berkata dusta dan berbuat yang menunjukkan kedustaan," jelas Buya Yahya.
Beliau mengkritisi perilaku sebagian orang yang tetap melakukan ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dan bersaksi palsu meskipun sedang berpuasa.
Lebih memprihatinkan lagi, terkadang orang-orang yang melakukan hal tersebut justru menganggap tindakannya sebagai kebaikan atau bahkan jihad, padahal sesungguhnya hal tersebut bertentangan dengan hakikat puasa yang sebenarnya.
Buya Yahya juga menekankan bahwa hikmah di balik disyariatkannya puasa adalah untuk melatih pengendalian diri.
Bukan hanya dari hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik tetapi juga pengendalian dari hawa nafsu dan syahwat.
"Puasa itu spesial, semuanya memang untuk Allah, tapi kalau sudah sesuatu yang spesial berarti dilebihkan... untuk puasa bebas pahalanya, karena dia telah meninggalkan syahwatnya yang halal," ujar Buya Yahya merujuk pada hadis qudsi tentang keistimewaan puasa.
Baca Juga: Lebih Cepat! Kemensos Targetkan Pencairan PKH Tahap 2, Penyaluran Bantuan Beras Capai 10-40 kg?
Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan pensucian (syahru tathir), bulan kasih sayang (syahru rahmati), dan bulan pengampunan (syahrul maghfirah).
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bahwa di bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu.
Lebih dari itu, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan siapa yang terhalang dari kebaikan malam tersebut, sungguh dia telah terhalang dari segala kebaikan.
Aspek penting lainnya yang ditekankan oleh Buya Yahya adalah pentingnya introspeksi diri (muhasabah) dan pertobatan sebelum berakhirnya bulan Ramadhan.
"Bergegaslah kalian semuanya kepada pengampunan dari Allah dengan tobat yang tulus, tulus, tulus," serunya.
Beliau mengutip hadits Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak pernah memiliki dosa, dan Allah akan mengganti kejelekan-kejelekan orang yang bertobat dengan kebaikan-kebaikan.
Baca Juga: Jangan Panik, Ini Alasan Kenapa Kode Verifikasi Pajak Tidak Masuk ke Email
Buya Yahya juga mengingatkan bahwa tobat harus dilakukan dengan tulus karena Allah, bukan karena takut dimarahi atau ketahuan oleh orang lain.
"Tobat sejati adalah tobat karena Allah," tegasnya.
Beliau juga mengajak untuk senantiasa mempersiapkan diri menghadapi akhirat dengan amalan-amalan saleh, mengingat bahwa umur manusia sangat pendek dan kematian bisa datang kapan saja.
"Apakah engkau akan hidup pada Ramadhan yang akan datang atau tidak? Semoga Allah menjangkan umur kita hingga Ramadan-Ramadan yang akan datang," tutup Buya Yahya.
Seraya mengajak umat untuk menyibukkan diri dengan kebaikan dan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.***
Share this article
Buya Yahya menjelaskan bahwa esensi puasa Ramadhan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, singgung soal pahala yang diberikan Allah