AYOJAKARTA.COM – Penentuan kapan awal Ramadan dan hari raya Idul Fitri kerap menjadi perdebatan.
Pemerintah menentukan awal Ramadan dan hari raya Idul Fitri ditetapkan bersama melalui sidang isbat.
Di Indonesia, ada dua metode yang dikenal untuk menetapkan bulan Ramadan ini, yaitu melalui hisab (perhitungan) dan metode rukyat (pengamatan).
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa awal Ramadan antara NU dan Muhammadiyah sama, namun ada kemungkinan Idul Fitri 1444 di tahun ini akan berbeda.
Peneliti Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaludin mengungkapkan bahwa perbedaan Idul Fitri bukan karena perbedaan metode hisab dan rukyat melainkan karena perbedaan kriteria.
Kriteria Wujudul Hilal digunakan oleh Muhammadiyah sedangkan sedangkan untuk NU dan beberapa ormas lain menggunakan kriteria Imkan Rukyat (visibilitas hilal).
“Pada siang 20 April 2023 terjadi gerhana matahari di Indonesia. Gerhana matahari dapat dianggap sebagai ijtimak (konjungsi) yang teramati,” tulis Thomas pada blognya dikutip ayojakarta.com melalui //tdjamaluddin.wordpress.com/, Kamis (23/3/2023).
Baca Juga: SIMAK! Tips Jitu Optimalkan Kualitas dan Perbanyak Ibadah di Bulan Ramadan ala Buya Yahya, Apa Saja?
Saat adanya gerhana matahari sebagai kondisi ijtimak menunjukan akhir siklus bulan mengitari bumi, namun menurutnya tidak bisa dijadikan dasar penentuan bulan baru hijriah.
Karena secara hukum (fikih) penetapan dan penentuan bulan baru hijriyah harus berdasar pengamatan posisi bulan ketika magrib.
Maka dari itu menurut peneliti BRIN ini posisi bulan pada tanggal 20 April 2023 yang masih rendah di ufuk barat menjadi penyebab perbedaan penentuan hari raya Idul Fitri.
Baca Juga: Berkah Ramadan! Seorang Cleaning Servis Dapat Uang Segepok Dari Hotman Paris, Kok Bisa?
Hal ini dikarenakan penentuan kriteria yang berbeda. Berdasarkan kriteria wujudul hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan pergantian bulan hijriyah.
Yaitu berdasarkan pemahaman terbenamnya bulan dan matahari bahwa bulan lebih lambat terbenam dibandingkan dengan matahari, maka dari itu di saat magrib bulan telah berada di atas ufuk.
Sehingga menurut Thomas Djamaludin, hal tersebut yang menjadikan Muhammadiyah akan mengumumkan Idul Fitri 1444 hijriyah pada tanggal 21 April 2023.
Sedangkan berdasarkan kriteria baru MABIMS yaitu tinggi minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.
Baca Juga: Tempat Ngabuburit Gratis di Jakarta Saat Ramadan, View Super Epic Anak Senja Wajib ke SINI!
Hal ini berarti menurut kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) MABIMS saat magrib di tanggal 20 April tidak mungkin terlihat hilal.
Sehingga apabila merujuk pada kriteria baru MABIMS, maka awal Syawal atau hari raya Idul Fitri 1444 hijriyah akan jatuh pada tanggal 22 April 2023.
“Artinya, menurut kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal) MABIMS, tidak mungkin terlihat hilal. Oleh karenanya, awal Syawal atau Idul Fitri pada kalender NU, Persis, dan Pemerintah ditetapkan pada hari berikutnya, 22 April 2023,” tulis Thomas.
Namun untuk kepastian lebih lanjut, peneliti BRIN ini mengungkapkan agar menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah setelah sidang isbat.***

Share this article
Bagaimana bisa 1 Ramadan 1444 H bisa sama, namun untuk 1 Syawal 1444 H alias Idul Fitri bisa berbeda? Simak selengkapnya langsung di sini!