AYOJAKARTA.COM - Menghadapi bulan Ramadhan yang penuh keberkahan, Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak melewatkan kesempatan besar mendapatkan pahala berlipat ganda yang ditawarkan di bulan suci ini.
Dengan analogi yang menarik, beliau mengumpamakan Ramadhan sebagai 'bulan diskon besar-besaran' dalam konteks spiritualitas.
"Pagi menjelang siang ini, sebentar lagi kita akan memasuki bulan diskon. Bahasanya harus bahasa dagang sekarang, bulan diskon besar-besaran. Anda sedekah dilipatgandakan, anda melakukan ibadah sama seperti yang selama ini anda lakukan dilipatgandakan pahalanya. Ini adalah di bulan Ramadhan," jelas Buya Yahya dikutip akun YouTube Buya Yahya.
Baca Juga: Pasti Dapat Bansos! 3 Komponen Penerima PKH Tahap 2 Tahun 2025, Apa Saja yang Berubah?
Beliau juga menyoroti bagaimana sebenarnya orang yang mengabaikan kesempatan meraih keberkahan Ramadhan dapat diumpamakan seperti seorang pebisnis yang tidak cerdas.
"Sementara ada janji yang dahsyat dari Allah, dari Baginda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, anda berdagang sebulan di bulan Ramadhan keuntungannya mengalahkan tahunan. Lah kok enggak? Berarti betul tadi orang yang bodoh bisnis dengan Allah, orang tidak cerdas bisnis dengan Allah," tegas Buya Yahya.
Dengan penganalogian yang tepat sasaran ini, beliau berhasil menyentuh sisi rasional sekaligus spiritual para pendengarnya.
Khususnya para pelaku bisnis yang sering kali merasa dihadapkan pada pilihan antara mengejar rezeki atau fokus beribadah di bulan suci.
Hal menarik dari ceramah Buya Yahya adalah solusinya yang inovatif untuk menyeimbangkan aktivitas bisnis dengan ibadah Ramadhan.
Beliau menekankan bahwa tidak perlu meninggalkan bisnis untuk maksimal beribadah di bulan Ramadhan.
Baca Juga: Punya Banyak Kelebihan! Tecno Pova 7 Pro Plus 5G Resmi Mendarat di Indonesia, Kamera Utama 50 MP
"Yang biasa berbisnis, lanjutkan bisnismu. Akan tetapi kita ingin membuat suatu budaya baru. Budaya baru anda tetap berdagang di pasar, tidak harus anda merubah kehidupan anda lalu pergi ke masjid lalu enggak ke pasar, pasar mati nanti. Anda tetap ke pasar wahai bapak, anda tetap jualan, anda tetap melakukan bisnis yang selama ini anda jalankan, cuman bedanya caranya saja," jelas Buya Yahya.
Beliau menyarankan beberapa perubahan konkret yang bisa diterapkan para pedagang, seperti menghindari kebohongan dalam jual beli, berzikir ketika tidak ada pembeli, dan menjaga pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan.
"Pastikan yang anda lakukan di situ antara berzikir menyebut nama Allah dan menawarkan dagangan, itu saja sudah. Jangan ngomong lantur ngidul komentar tentang siapa menterinya, kemudian artis itu kenapa, kemudian ini. Gak usah bicara aneh-aneh," tegas Buya Yahya.
Lebih jauh, beliau menekankan bahwa menjauhi keharaman di tengah aktivitas pasar bahkan lebih bernilai dibandingkan ibadah-ibadah sunnah.
"Menjauhi keharaman lebih bagus daripada rakaat-rakaat yang kita tegakkan, menjauhi keharaman jauh lebih bagus daripada menjalankan kesunahan, sebab kalau sunah tidak kita kerjakan kita tidak dosa, tapi kalau haram dilakukan kita dosa," jelasnya.
Solusi unik lainnya yang ditawarkan Buya Yahya adalah melaksanakan ibadah salat sunnah di atas kendaraan, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu karena pekerjaan.
"Punya air wudu di mobil anda. Kalau melakukan salat sunah, kiblatmu adalah arah kendaraanmu," kata Buya Yahya menjelaskan teknis pelaksanaannya.
Baca Juga: Sudah Kantongi TKDN, 20 Produk Apple Siap Dipasarkan di Indonesia, Termasuk iPhone 16 Series
Beliau memaparkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga pernah melakukan salat sunnah di atas kendaraan, sehingga praktik ini memiliki dasar syariat yang kuat.
"Ini ilmu yang kami hadirkan, tolong anda biasakan punya air wudu. Kalau pagi habis salat, habis berangkat pagi atau pulang, selagi waktu kita boleh melakukan salat," anjur Buya Yahya.
Metode ini dijelaskan dapat menjadi solusi bagi mereka yang pulang larut malam setelah waktu tarawih berjamaah di masjid berakhir.
"Enggak perlu di atas kendaraan, ternyata salat 20 rakaat itu cuman 30 menit saja. Salat tarawih, imamnya sambil nyupir: Allahu akbar, Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahirabbil 'alamin," jelasnya dengan ilustratif.
Selain memberikan alternatif beribadah, metode ini juga membawa manfaat lain menurut Buya Yahya.
"Ini banyak faedahnya hari ini. Salat di atas kendaraan pertama biar anda tidak gampang ngedumel di Jakarta karena macet, kedua agar anda tidak banyak tolah-toleh lihat aurat, ketiga anda selalu menghubungkan dengan Allah," urai Buya Yahya.
Dengan cara ini, beliau menegaskan bahwa Ramadhan seharusnya tidak mengikat ibadah seseorang pada tempat dan cara tertentu saja, melainkan menjadikan seluruh aktivitas kehidupan sebagai ladang ibadah yang bernilai.***
Share this article
Buya Yahya mengajak umat Islam untuk tidak melewatkan kesempatan besar mendapatkan pahala berlipat ganda