AYOJAKARTA.COM – Berikut adalah penjelasan Ustadz Adi Hidayat mengenai pelaksanaan wudhu yang benar, apakah cukup satu kali atau tiga kali.
Seperti yang diketahui, wudhu adalah hal yang harus dilakukan oleh umat muslim sebelum melaksanakan ibadah sholat.
Dalam salah satu ceramahnya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan mengenai batas maksimal berapa kali melakukan sebuah gerakan dalam berwudhu.
“Ustadz, apakah menghirup air dan berkumur saat wudhu dilakukan satu kali atau tiga kali?” ucap Ustad Adi Hidayat saat membacakan pertanyaan jamaah, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Info Singkat Official.
Ustadz Adi Hidayat kemudian mengatakan bahwa tiga kali dalam berwudhu adalah batas maksimal.
“Thayyib, tiga kali itu batas maksimal. Yang dalam bahasa hadistnya, siapa yang lebih daripada tiga itu telah bermaksiat kepada Abdul Qasim, pada Nabi,” katanya.
“Maksud hadist ini, fokusnya, ada pertanyaan apakah saat menghirup air, istinshaq saat wudhu, ataupun kumur-kumur harus satu kali ataukah tiga kali. Prinsip satu kali dan tiga kali itu penting anda ketahui, bahwa prinsip itu maksudnya supaya air wudhu itu bisa maksimal sampai kepada anggota wudhu,” sambungnya.
Ustadz Adi Hidayat kemudian memberikan sebuah contoh dalam berwudhu.
Ia memberikan contoh berwudhu saat hendak membasuh kedua tangan hingga siku.
Dalam memberikan contoh, ia juga menjelaskan bahwa apa bila air wudhu sudah membasuh sekali ke seluruh bagian tangan hingga siku maka itu dipandang cukup.
Namun apabila dirasa belum cukup, maka disempurnakan kembali untuk membasuh kedua kalinya.
“Ibu dan bapak misalnya bukan hanya kumur-kumur, membasuh tangan misalnya, tangan sampai siku, ingat bukan siku ke tangan. Kalau dari siku ke tangan dari sini (siku) ke bawah, kalau tangan ke siku dari bawah ke siku, jadi kalau ini kerannya ambil airnya dari sini (tangan) ke siku balikkan lagi, bukan siku ke bawah. Ini yang paling tepat demikian, ada maknanya,” ujarnya.
“Nah sekarang lihat, sekali misalnya ambil air anda alirkan (dari tangan ke siku) kalau sekali ini sudah selesai menutup keseluruhannya itu dipandang cukup, engga ada masalah. Tapi kalau anda misalnya merasa masih ada sebagian yang belum terbasuh, maka dua kali sempurnakan supaya air meresap keseluruhannya. Makanya dalam riwayat disebutkan nabi kadang-kadang dua kali walaupun tidak sampai ketiga kalinya,” lanjutnya.
Apabila sudah memasuh sebanyak dua kali tetapi dirasa belum cukup, maka sempurnakan kembali sampai batas maksimal, yakni tiga kali.
Apabila lebih dari tiga kali, Ustadz Adi Hidayat menyebut bahwa itu melanggar ketentuan nabi.
“Tapi kalau anda merasa ada sebagian belum terbasuh lagi, maka yang ketiga kali sempurnakan. Nah kalau misalnya sampai tiga kali belum cukup juga, anda butuh berapa kali lagi? Tiga kali itu sudah batas banyak,” sebutnya.
“Makanya ketika nabi menyampaikan, kalau lebih dari tiga kali dia telah mengkhianati, melanggar ketentuan nabi. Apa diantara ketentuan nabi, nabi menyukai orang-orang yang hemat, tidak boros, tidak ishraf,” tambahnya.
Ustadz Adi Hidayat kemudian menerangkan bahwa prinsip tiga kali dalam wudhu tersebut adalah gambaran dari kesempurnaan dalam membasu agar tidak belebihan dalam menggunakan air.
Ia pun juga menuturkan bahwa berkumur dalam wudhu boleh dilakukan sekali apabila dirasa sudah cukup.
Namun apabila masih ada kotoran masih bisa disempurnakan hingga tiga kali.
“Kumur-kumur misalnya sekali dirasa cukup boleh, ada yang kurang misalnya dua kali silahkan. Ada yang belum terbasuh kotoran masih ada tiga kali engga masalah. Tapi tiga kali itu maksimal dari apa yang bisa dilakukan,” tuturnya.
“Jadi jangan terjebak pada bilangan harus sekali, harus dua kali, harus tiga kali. Yang dimaksudkan basuhan sampai tiga kali itu sempurna anggota wudhu dibasuh dengan sempurna dan menghilangkan segala jenis kotoran yang ada didalamnya,” tutupnya.***

Share this article
Berikut adalah penjelasan Ustadz Adi Hidayat mengenai pelaksanaan wudhu yang benar, apakah cukup satu kali atau tiga kali.