BEKASI, AYOJAKARTA – Nai, sebut saja begitu, tak menyangka bahwa ancaman Covid-19 begitu nyata. Wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu dinyatakan positif Covid-19 usai merawat ibunya, yang belakangan juga diketahui mendapat vonis yang sama.
“Pertama yang sakit itu mama, keluhannya demam sama mual, tapi aku masih positif thinking aja bukan Covid-19. Lalu nggak lama selang tiga hari, aku yang mulai demam," kata Nai mengawali cerita, Jumat 28 Mei 2021.
Sempat berusaha menghindari kenyataan, ibu satu anak ini lantas memberanikan diri melakukn tes PCR. Hasilnya positif. Begitu pula dengan tiga anggota keluarganya yang lain.
Mereka akhirnya menjalani isolasi mandiri di rumah, berbekal obat dan vitamin yang dianjurkan. Hari-hari dilalui dengan cukup berat mengingat gejala yang ia rasakan tergolong ringan-sedang. Namun, satu hal yang dirasa paling memukul mentalnya adalah sikap dari tetangga sekitar rumah.
"Mereka kurang suportif, malah cenderung aku sama keluargaku dapat stigma yang negatif gitu. Udah kayak aib banget gitu kesannya," ujar Nai.
Wanita 31 tahun ini mencontohkan perlakuan tetangga yang berubah sikap kepada semua keluarganya meski sudah dinyatakan negatif Covid-19. Ketika ia pergi ke warung dan melewati sekumpulan ibu-ibu, mereka langsung buru-buru menghindar.
“Bener-bener kayak kuman gitu. Sedih aja sih digituin, tapi mau gimana lagi," katanya.
Tak mau larut dalam kesedihan, Nai memilih untuk menjalani hidup dengan tegar dan tetap berbuat baik pada tetangga. Meski belum semua memahami, namun perlahan stigma negatif itu mulai hilang.
"Aku coba bawa enjoy aja, enggak mau dipikirin. Lama-lama ya baik sendiri mereka, meski tetap masih nggak mau dekat-dekat," ujarnya.
Pengalaman yang hampir sama dialami Gege, sebut saja begitu, pemuda asal Bekasi yang bahkan sempat tak boleh pulang ke rumah ketika dinyatakan sembuh Covid-19.
"Saya sudah isoman di stadion kan, sudah negatif juga. Cuma orang rumah masih yang kayak takut gitu, akhirnya saya ngungsi di hotel lagi semingguan," kata dia.
Ketika sudah diperbolehkan pulang kembali ke rumah, suasana pun ikut berbeda. Anggota keluarga yang lain memilih tetap menjaga jarak dan ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar.
"Rasanya seperti terasing, tapi saya berusaha menerima dan memahami. Mungkin mereka kurang edukasi aja," ujarnya.
Gege berharap agar masyarakat bisa mendapatkan edukasi yang baik mengenai perlakuan terhadap pasien maupun mereka yang masuk kategori berisiko tinggi seperti tenaga medis maupun pekerja lainnya.
“Kita ikhtiar aja ikuti imbauan pemerintah untuk pakai masker, physical distancing, jaga kebersihan, jaga imunitas. Semua juga enggak ada yang mau kena Covid-19,” katanya.
Menanggapi persoalan mengenai stigma buruk Covid-19, Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI) Dr. dr Irmansyah mengatakan bahwa stigmatisasi tersebut merupakan hal yang keliru dan berdampak negatif.
“Dalam konteks pasien Covid-19, orang yang terstigma dipandang sebagai penderita, harus dijauhi, menimbulkan masalah dan ketidaknyamanan. Akibatnya masyarakat akan bertindak negatif juga,” kata Irmansyah seperti dikutip Ayobandung-jejaring Ayojakarta, beberapa waktu lalu.
Dampak lebih serius, bisa saja seseorang yang mengalami gejala-gejala Covid-19 pada akhirnya menyembunyikan dan enggan memeriksakan dirinya. Dia takut karena merasa akan dijauhi masyarakat.
“Jadi mereka ini mengalami double burden, sudah sakit dijauhi pula,” ujarnya.
Lalu apa yang harus dilakukan menghadapi stigma sosial ini?
Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Urip Purwono menjelaskan, WHO sudah memiliki panduan mengelola stigma ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah menyebarluaskan fakta-fakta soal Covid-19.
Misalnya apa itu virus corona, bagaimana cara penularannya, bagaimana bila terpapar Covid-19, apa yang harus dilakukan dan sebagainya. Informasi tersebut sudah tersedia di situs Satgas Covid-19 dan situs penanganan Covid-19 di setiap pemerintahan daerah. Dengan mengetahui faktanya yang sebenarnya, diharapkan persepsi yang sebelumnya salah bisa dikoreksi.
Urip pun menyinggung peran media. Ia mengatakan media sangat berperan menyebarluaskan atau menggaungkan tentang kisah penyintas Covid-19 selama menjalani perawatannya hingga dinyatakan sembuh.
“Kisah penyintas ini bisa memberikan inspirasi,” katanya.

Share this article
Cerita Penyintas Covid-19 Melawan Stigma Negatif Usai Dinyatakan Sembuh