AYOJAKARTA.COM - Berikut ini akan diulas mengenai kisah tragis yang dialami oleh sosok Soetjipto yang merupakan pejuang asal Cianjur.
Kala itu, Soetjipto divonis mati oleh Pengadilan Sipil Hindia Belanda tepat di HUT ke 3 RI tepatnya pada 17 Agustus 1948.
Selain Soetjipto, dua anggota kelompok Bamboe juga divonis mati yaitu Satibi dan Oemang.
Baca Juga: Kumpulan Link Lagu-lagu Khas Kemerdekaan Semarakkan HUT RI, Download di Sini!
Vonis mati itu dijatuhkan berdasarkan tudingan aksi kriminal yang dilakukan oleh ketiganya di wilayah Cianjur pada tahun 1947-1948.
Berikut ini adalah kisah lengkap tentang Soetjipto dan dua rekannya seperti dilansir AyoJakarta.com dari historia.id pada Selasa (16/8/2022).
"Mereka bertiga telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap
sebagai kaki tangan NICA (pemerintah Sipil Hindia Belanda), secara langsung maupun
tidak langsung," tulis media Haarlems Daagblaad pada 18 Agustus 1948.
Baca Juga: Lirik Lagu Wajib Kemerdekaan '17 Agustus Tahun 45' Karya H Mutahar
Warga Cianjur saat itu menganggap sosok Soetjipta adalah seorang pejuang yang sangat berani.
Hal itu dibuktikan dengan penyematan namanya untuk satu ruas nama jalan di pusat kota Cianjur.
Jalan tersebut bernama A.Soetjipto yang diresmikan pada tahun 1950-an. Namun saat ini, nama itu berganti menjadi Jalan Adi Sucipto.
Baca Juga: Ini Teks Amanat Pembina Upacara 17 Agustus 2022 di Hari Kemerdekaan Indonesia ke-77
Perlu diketahui, Soetjipta memiliki nama lengkap yaitu Asmin Soetjipta alias Aswin.
Ia tinggal di Desa Cisarandi dan menjadi guru di Landbouwshool yang merupakan sekolah
pertanian setingkat SMP.
Di tengah kesibukannya sebagai guru, Asmin bersahabat dengan Muhammad To'ib Zamzami, yang merupakan Lurah Desa Cisarandi kala itu.
Baca Juga: Semangat Kemerdekaan 77 Tahun Indonesia, Ternyata Banyak Promo dari Perbankan
Bahkan, saking dekatnya, To'ib sampai menikahkan putrinya dengan Asmin yakni Sitti Aisyah.
Soetjipta juga dikenal sebagai ahli pencak silat dan punya ilmu kanuragan yang cukup tinggi.
Dengan keahlian dan kedudukannya sebagai mantu lurah, tidak heran ia dituakan dan dijadikan "jawara" penjaga keamanan desa.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Film tentang Perjuangan Kemerdekaan Indonesia untuk Ditonton saat 17 Agustus
Hingga akhirnya, pada tahun 1945-1946, jalan raya di mulur Desa Cisarandi kerap dilewati
oleh konvoi "pasukan ubel-ubel".
Pasukan ubel-ubel adalah nama julukan pasukan setempat untuk para serdadu Inggris dari kesatuan Jats, Rajputana dan Patiala yang berkebangsaan India.
Dikisahkan bahwa pasukan itu sering bertindak semena-mena hingga mengganggu gadis-gadis desa bahkan merampok harga benda penduduk setempat.
Baca Juga: 10 Twibbon Menarik untuk Rayakan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2022 yang ke-77
Mengetahui peristiwa itu, Luhat To'ib mengajak Soetjipto untuk mengadakan perlawanan.
"Cipta Abah tugaskan kamu cari senjata api ke kota ya," ujar To'ib kala itu.
"Buat apa Bah? tanya Soetjipto.
"Buat nembakin itu tentara ubel-ubel, Abah sudah tidak tahan dengan perilaku mereka
kepada rakyat kita,"
"Oh,, mangga Bah! Tiasa," begitu percakapan mereka.
Keesokan harinya Soetjipto kemudian berangkat ke Cianjur dengan berjalan kaki.
Namun di perjalanan ia justru berpapasan dengan beberapa serdadu Inggris.
Tak banyak bicara, dengan gerakan kilat Soetjipto berhasil membekuk salah seorang prajurit
yang berjalan paling belakang.
Ia melumpuhkan seorang prajurit itu lalu merampas senapan Lee Enfield milik prajurit tersebut.
Baca Juga: Tayang 12 Agustus, Nonton Film Merah Putih tentang Kemerdekaan Indonesia Klik di Sini !
Setelah berhasil mendapat senapan itu, Soetjipto menuju ke arah jalur rel kereta api yang ada di sebelah timur kampung tangsi.
Di sana, siraman timah panas sempat diarahkan kepadanya.
Dengan gesitnya, lagi-lagi Soetjipto berhasil lolos dari serangan timah panas itu.
Baca Juga: Link Nonton Darah Garuda Full Movie, Film tentang Kemerdekaan Indonesia
Atas keberhasilan itu, Luhat To'ib pun merasa bangga kepada menantunya.
Sayangnya, persoalan baru muncul saat tidak ada satu pun pemuda Cisarandi yang mahir
mempergunakan senjata api.
Namun demikian, Soetjipto tak ambil pusing dan lantas membawa senjata itu ke para pejuang dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo).
Baca Juga: Ini Link Nonton Film Merah Putih Full Movie tentang Kemerdekaan Indonesia
Ia meminta mereka untuk mengajarkan dan hanya dalam waktu beberapa minggu dilatih, Soetjipto berhasil menguasai senjata buatan Inggris itu dengan baik.
Soetjipto lalu menjadi seorang penembak runduk yang sangat mumpuni.
Berdasarkan cerita To'ib, dalam suatu penghadangan di jalan raya Sukabumi-Cianjur, Si dukun yang merupakan panggilan sayang Soetjipta untuk Lee Enfield pegangannya pernah
memakan nyawa 11 serdadu Inggris dari jarak 500 meter.
Baca Juga: Inspirasi Khutbah Jumat dalam Menyambut Kemerdekaan RI di Bulan Muharram 2022
Hingga akhirnya, Soetjipto mendirikan unit laskar bernama Laspo (laskar Pesindo) atau Bamboe Roentjing.
Ia lantas didapuk sebagai komandan dengan diberi pangkat kapten.
Kala para pejuang aktif memerangi tentara Belanda yang berusaha kembali menguasai Indonesia pada 1945-1949, pasukan Bamboe Roentjing juga termasuk di dalamnya.
Baca Juga: Ini 10+ Film tentang Kemerdekaan Indonesia untuk 17 Agustus, Ada Merah Putih dan Darah Garuda
Hingga suatu penghadangan di wilayah Bojongkoneng, unit itu sukses menghabisi satu peleton KNIL (tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan merampas sejumlah senjata dari mereka.
Bahkan, unit itu kerap melakukan operasi kecil-kecilan ke wilayah kota Cianjur.
Bersama sang sahabat, Poerawinata, Soetjipto pernah melakukan nekad di wilayah jalan depan pasang Bojongmeron yakni berpura-pura sebagai orang gila.
Baca Juga: Ini Teks MC Malam Tasyakuran 17 Agustus Lengkap Susunan Acara di Hari Kemerdekaan
Begitu bersisian dengan seorang serdadu Belanda Soetjipto langsung memukul kepala sang sardadu dengan botol kecap dan merampas senjatanya.
Senjata itu kemudian dilarikan oleh Poerrawinata yang siaga di sekitar tempat tersebut.
Aksi-aksi Bamboe Roentjing itupun tentu membuat gerah para militer Belanda dan mereka akhirnya mengirim pasukan bertruk-truk ke Cisarandi.
Baca Juga: 7 Ide Lomba 17 Agustus dari Permainan Tradisional, Dijamin Perayaan Hari Kemerdekaan Semakin Seru
Namun, mereka malah tidak menemukan Soetjipto. Demi menumpahkan kekesalan, militer Belanda membakar markas Bamboe Roentjing yang merupakan rumah Lurah To'ib.
Tahun 1948, Divisi Siliwangi kala itu harus pindah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun, itu tidak berlaku untuk sebagian kecil pejuang termasuk Bamboe Roentjing.
Mereka memilih tetap melawan militer Belanda dibanding harus pindah.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Nasional untuk Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2022
Hingga akhirnya suatu hari, Soetjipto menerima sepucuk surat yang ditandatangani atasannya yakni S. Waluyo.
Surat itu berisi tentang perintah agar seluruh unit Bamboe Roentjing pergi ke Sukabumi untuk berunding dengan pihak militer Belanda.
Soetjipto dan rekan-rekannya berangkat ke Sukabumi dengan menggunakan truk milik KNIL.
Namun siapa sangka, surat itu adalah sebuah jebakan dari pihak intelijen Belanda.
Alih-alih dibawa ke meja perundingan, mereka justru dijebloskan ke penjara dan memerintahkan semua anggota bubar.
Ada dua anak buah Soetjipto bernama Oemang dan Satibi yang menolak pulang.
Baca Juga: Ini Teks Doa Upacara 17 Agustus untuk Peringatan Kemerdekaan Indonesia
Padahal Soetjipto sudah membujuk mereka untuk bisa kembali ke Cianjur.
Namun mereka tetap kekeh bersama komandannya. Hingga akhirnya tahun 1948, beberapa bulan sebelum ekskusi mati Soetjipto dan dua anak buahnya berada di Penjara Paledang.
Hingga akhirnya tibalah komandan gerilya itu divonis mati bersama Oemang dan Satibi di Kampung Dereded.
Di hadapan regu tembak, menurut para saksi ketiganya berdiri dengan tabah dan gagah sebelum peluru-peluru itu merenggut nyawa ketiganya.
Demikian, kisah Soetjipto dan dua anak buahnya yang divonis mati oleh sipil Hindia Belanda tepat di HUT ke 3 RI.***

Share this article
Berikut ini adalah kisah tragis Soetjipto dan dua anak buahnya, pejuang asal Cianjur yang divonis mati oleh Sipil Hindia Belanda.