AYOJAKARTA.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim hujan tahun 2026 akan terjadi pada Januari hingga Februari.
Namun, warga Jakarta diimbau tetap waspada karena pengalaman tahun 2025 menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem masih mungkin berlanjut hingga Maret.
Berdasarkan data dari BMKG pada Januari 2026, Jakarta Timur menjadi wilayah dengan frekuensi banjir tertinggi yaitu delapan kejadian, disusul Jakarta Utara, Barat, dan Selatan dengan masing-masing tujuh kejadian.
Untuk menghadapi tantangan ini, Jakarta mengandalkan empat sistem pengendali banjir utama yang saling terhubung untuk meminimalkan dampak genangan.
1. Waduk
Waduk atau bendungan retensi berfungsi menahan kelebihan air hujan agar tidak langsung meluap ke permukiman.
Infrastruktur ini menyimpan air sementara dan mengurangi debit yang masuk ke sungai utama.
Beberapa contoh vital adalah Waduk Pluit, Waduk Sunter, dan Waduk Cimanggis. Pemeliharaan rutin seperti pengerukan sangat penting untuk mengembalikan kapasitas tampung optimalnya dari sedimentasi.
2. Pintu Air
Jakarta memiliki setidaknya 271 pintu air yang tersebar di lima wilayah kota.
Fungsinya sangat krusial untuk mengontrol tinggi permukaan air, mengatur aliran di drainase, serta mencegah masuknya air laut (rob) ke daratan.
Pintu Air Manggarai (sejak 1919) dan Pintu Air Karet adalah dua titik vital yang mengatur aliran Sungai Ciliwung dan Krukut menuju jantung kota.
3. Kanal Banjir
Sistem kanal dirancang untuk mengalihkan air dari sungai-sungai di selatan Jakarta langsung ke laut tanpa melewati pusat kota.
Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir Timur (KBT) bertindak sebagai jalur pengalihan utama.
KBT sendiri berfungsi mengalihkan aliran dari beberapa sungai sekaligus, termasuk Sungai Ciliwung, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung.
4. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Selain sebagai area publik, RTH seperti Taman Cempaka Putih Bintaro atau Taman Pandawa berperan sebagai area resapan air alami.
Saat ini, luas RTH Jakarta mencapai 3.605,93 hektare (5,45%), dengan target peningkatan hingga 10-15% di masa depan untuk memperkuat ketahanan iklim.
Meskipun infrastruktur seperti pompa stasioner (599 unit) dan pintu air telah disiagakan, kesuksesan pengendalian banjir sangat bergantung pada perilaku warga.
Partisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai sangat vital agar saluran drainase tidak tersumbat.
Mari dukung keberadaan ruang hijau demi Jakarta yang lebih aman dari bencana banjir.***
Share this article
Jakarta andalkan waduk, 271 pintu air, kanal, 602 pompa, & RTH. Puncak hujan 2026: Jan-Maret. Warga wajib jaga kebersihan sungai guna cegah banjir.