AYOJAKARTA.COM - Upaya besar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membersihkan perairan ibu kota dari ikan sapu-sapu ternyata membuka fakta mengejutkan.
Di balik jumlah tangkapan yang fantastis, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan manusia.
Bukan sekadar hama lingkungan, ikan sapu-sapu kini dinilai berbahaya karena berpotensi mengandung logam berat beracun.
Dalam operasi penangkapan yang digelar di berbagai wilayah, termasuk kawasan Setu Babakan, pemerintah berhasil mengumpulkan puluhan ribu ikan sapu-sapu.
Bahkan, dalam satu hari saja, tercatat sekitar 68.800 ekor dengan total berat hampir 7 ton berhasil diamankan. Seluruh hasil tangkapan tersebut langsung dimusnahkan, bukan dimanfaatkan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kajian ilmiah yang menyatakan ikan sapu-sapu aman untuk dikonsumsi.
Justru sebaliknya, ikan ini berpotensi mengandung kadar logam berat yang tinggi dan berbahaya bagi tubuh manusia.
Sebagai ikan dasar (bottom feeder), ikan sapu-sapu hidup dengan memakan lumpur, detritus, serta limbah yang mengendap di dasar perairan.
Kondisi ini membuatnya sangat rentan menyerap berbagai zat berbahaya, termasuk logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
Merkuri dikenal sebagai zat neurotoksik yang dapat merusak sistem saraf pusat, serta berdampak pada fungsi ginjal dan hati.
Sementara itu, timbal berbahaya bagi perkembangan otak, terutama pada anak-anak, dan dapat memicu gangguan saraf.
Adapun kadmium memiliki sifat karsinogenik yang dapat meningkatkan risiko kanker, serta merusak ginjal dan tulang.
Tak hanya logam berat, ikan sapu-sapu dari perairan tercemar juga berpotensi mengandung limbah industri dan rumah tangga.
Zat-zat ini dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan dan berpindah ke manusia jika dikonsumsi.
Dampaknya pun tidak main-main, mulai dari keracunan akut seperti mual dan muntah, hingga gangguan kronis seperti kerusakan organ dan gangguan kesuburan.
Meski di beberapa daerah ikan sapu-sapu sempat dimanfaatkan sebagai bahan pangan alternatif, kondisi perairan Jakarta yang tercemar membuat risiko kesehatannya jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, langkah pemusnahan menjadi pilihan paling aman.
Langkah tegas ini sekaligus menjadi bagian dari strategi besar Pemprov DKI Jakarta dalam menjaga ekosistem perairan dan melindungi masyarakat dari potensi bahaya tersembunyi.
Ke depan, pengendalian populasi ikan invasif ini diharapkan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya keamanan pangan.***

Share this article
Pemprov DKI memusnahkan berton-ton ikan sapu-sapu karena berbahaya. Sebagai bottom feeder, ikan ini tercemar logam berat (merkuri, timbal) yang picu kanker & kerusakan organ jika dikonsumsi warga.