AYOJAKARTA.COM - Narasi yang mengklaim bahwa penyakit Mpox disebabkan oleh efek samping vaksin COVID-19 beredar luas di media sosial.
Klaim tersebut juga menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh vaksin COVID-19.
Menanggapi hal ini, Plt. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, memberikan klarifikasi penting agar masyarakat tidak tergiring informasi yang salah.
Menurut dr. Nadia, narasi yang beredar tersebut adalah tidak benar.
Penyakit Mpox dan COVID-19 merupakan dua penyakit yang berbeda dan tidak ada hubungan antara keduanya, terutama dalam kaitannya dengan vaksin COVID-19.
"Mpox sudah ada sejak lama, jauh sebelum COVID-19 muncul dan sebelum vaksin COVID-19 dikembangkan," jelasnya.
Penyakit Mpox pertama kali dilaporkan pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo, jauh sebelum pandemi COVID-19.
Baca Juga: Pendaftar Seleksi CPNS 2024 Sudah 3,2 Juta Orang, Ini 10 Instansi Terbanyak Pelamarnya
Mpox adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Mpox, bagian dari genus Orthopoxvirus, sementara COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Kedua virus ini berbeda secara genetis dan cara penularannya juga tidak berhubungan.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, juga menambahkan bahwa kasus Mpox bukanlah fenomena baru. Mpox telah lama menjadi penyakit endemis di beberapa negara Afrika seperti Kongo, Nigeria, dan Uganda.
WHO bahkan telah mengklasifikasikan Mpox sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC) sejak 2022.
Virus Mpox dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, termasuk melalui kontak seksual.
Baca Juga: Venna Melinda Gugat Cerai Ferry Irawan, Mengaku Ingin Cepat Selesai
Pada tahun 2022-2023, wabah Mpox global sebagian besar disebabkan oleh strain Clade IIb, dan saat ini kasus di Afrika meningkat karena strain Clade Ia dan Ib yang lebih berat.
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap informasi yang beredar di media sosial dan tidak mudah percaya pada klaim tanpa dasar ilmiah.
"Jangan sampai kita terbawa oleh informasi yang salah. Selalu cek kebenaran informasi dari sumber yang terpercaya," ujar dr. Nadia.
Masyarakat juga diimbau untuk terus mematuhi protokol kesehatan dan menghindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.
Baca Juga: Suara Jakmania Jadi Rebutan di Pilgub Jakarta 2024, Dharma-Kun Janji JIS Akan Digratiskan
Jika ada gejala yang mencurigakan, segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Share this article
Klaim tersebut juga menyebutkan bahwa penyakit ini terjadi akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh vaksin COVID-19.