AYOJAKARTA.COM – Berhasil memukau mata dari berbagai negara, rangkaian acara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang berpusat di Jakarta sukses terselenggara.
Dari seremoni upacara saat pelaksanaan Hari Kemerdekaan hingga karnaval yang dihadiri banyak warga, membuat pamor Jakarta kembali terangkat.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilakukan secara megah di IKN, Kalimantan, terpilihnya Jakarta sebagai pusat acara Hari Kemerdekaan menuai banyak pertanyaan.
Akibat dipilihnya kembali kota Jakarta sebagai lokasi upacara dan pusat perayaan Hari Kemerdekaan, anggapan adanya disorientasi prioritas kemudian mulai muncul ke permukaan.
Sebagian kalangan menganggap, Presiden Prabowo secara simbolis sedang menarik diri dari lingkaran hegemoni kekuasaan dari Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo.
Pemberian amnesti dan abolisi kepada dua tokoh nasional yang ditengarai bagian dari oposisi Jokowi oleh Prabowo, juga disebut-sebut sebagai strategi untuk menghimpun lawan.
Menjadikan lawan-lawan politik Jokowi sebagai sahabat, juga digadang-gadang sebagai upaya untuk melakukan sublimasi pengaruh secara lebih halus.
Menurut Profesor Sulfikar Amir, dipilihnya kota Jakarta sebagai pusat peringatan acara Hari Kemerdekaan merupakan keputusan yang cukup relevan.
Tanpa harus mengeluarkan anggaran negara hingga mencapai 72 Miliar dalam satu hari sebagaimana pernah dilakukan Jokowi saat di IKN, Jakarta jauh lebih terjangkau.
Selain itu, hubungan emosional antara kota Jakarta dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, menurut Sulfikar memiliki kekuatan secara simbolik.
Dari mulai perumusan, rahasia di baliknya, rapat terbatas, pembacaan teks Proklamasi, pengibaran bendera Pusaka dan publikasi ke seluruh dunia, semua itu dimulai dari Jakarta.
Baca Juga: Poster Terbaru Drama Korea My Youth, Song Joong Ki Kenang Kembali Kehadiran Cinta Pertama
Disampaikan saat menjadi narasumber di sebuah siniar, Sulfikar menganggap pembangunan IKN merupakan salah satu bentuk semangat Jokowi yang berlebihan.
Minimnya perencanaan dan dukungan baik secara politik, sosial dan ekonomi, membuat IKN hari ini justru terkesan menjadi pekerjaan tambahan Presiden Prabowo.
Karena itu sebagai salah bentuk tanggung jawab terhadap keuangan negara, Wapres Gibran Rakabuming menurut Sulfikar perlu melanjutkan program warisan Jokowi.
“Upacara hari kemerdekaan di IKN itu buang-buang uang, karena sekarang tidak dilanjutkan,” jelasnya dikutip Ayojakarta dari Forum Keadilan TV.
Sementara itu, menurut Adita Irawati selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, kemeriahan acara karnaval di Jakarta menyiratkan simbol kebersamaan.
Seluruh kendaraan hias dan berbagai atribut yang diperlihatkan ke khalayak, menurut Adita bukan semata-mata lahir dari pemikiran satu orang.
Hubungan antara Penonton serta Peserta yang terlibat dalam rangkaian acara karnaval, semua itu mengingatkan arti penting kebersamaan dan gotong-royong.
“Jadi kebersamaan itu sifatnya macem-macem, ada yang datang langsung atau lewat tayangan, tapi terlibat,” jelasnya dikutip Ayojakarta dari Kompas TV. ***

Share this article
Perayaan HUT RI di Jakarta sukses meriah, simbol kebersamaan dan efisiensi anggaran, meski menuai sorotan terkait IKN dan politik Prabowo.