AYOJAKARTA.COM - Gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur pekan lalu menimbulkan duka mendalam bagi Indonesia.
BMKG menginformasikan bahwa aktivitas kegempaan yang terjadi di Kabupaten Cianjur tersebut diakibatkan oleh Sesar Cimandiri.
Sesar Cimandiri merupakan patahan geser aktif yang membentang sepanjang 100 km.
Sesar ini memanjang dari muara Cimandiri di Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi lalu mengarah ke timur laut melalui Kabupaten Bandung, Cianjur, Bandung Barat dan juga Subang.
Setelah Sesar Cimandiri banyak dibicarakan oleh para seismolog, muncul nama Sesar Baribis.
Baca Juga: Viral Warga Cianjur Menolak Bantuan, Ridwan Kamil Angkat Bicara
Sesar Baribis sebenarnya telah banyak diperbincangkan jauh sebelum terjadinya bencana gempa bumi di Kabupaten Cianjur.
Sesar Baribis merupakan jalur patahan yang terletak berjarak 25 km di selatan Jakarta.
Sebuah penelitian ilmiah yang berkaitan dengan gempa besar yang akan terjadi di Jakarta-Bogor ditulis oleh Guru Besar Fakultas Pertambangan dan Perminyakan ITB Sri Widiyantoro dan Team dan diunggah melalui YouTube Channel Harian Kompas pada Jumat (25/11/2022).
Penelitian ini menyebutkan bahwa kini Sesar Baribis terpantau aktif dan dapat menyebabkan bencana di DKI Jakarta.
Ahli mengatakan bahwa pada kondisi saat ini Sesar Baribis berada dalam posisi terkunci, namun nanti ketika energi peregangan yang akhirnya diakumulasikan terlepaskan maka akan menimbulkan gempa yang besar.
Sebuah jurnal ilmiah mengenai geologi yang diterbitkan oleh Universitas Padjadjaran atau Unpad menganalisis Sesar Baribis tersebut.
Jurnal yang berjudul Analisis Kerentanan Gempa pada Jalur Sesar Baribis menggunakan Metode Microearthquake (MEQ) ini diterbitkan pada tahun 2020.
Berdasarkan jurnal tersebut Sesar Baribis terpantau aktif.
Hal ini didasarkan pada seismometer atau alat yang digunakan untuk mendeteksi gempa bumi.
Seismometer yang dipasang pada tiga tempat yaitu Desa Jatigede di Sumedang, Dusun Anggrawati dan Desa Sinar Galih keduanya berada di Kabupaten Majalengka menunjukkan hasil yang mencengangkan yaitu gempa yang terekam selama 60 hari adalah 46 gempa dari skala 0,1 Mw (ukuran dari besaran gempa bumi) hingga 3,2 Mw.
Kedalaman gempa terdangkal terjadi pada jarak 1 km hingga yang terdalam 85 km, namun sumber gempa dominan terjadi pada kedalaman 50 km.
Dari penjelasan tersebut, warga DKI Jakarta dan sekitarnya hendaknya selalu waspada akan terjadinya bencana gempa bumi yang sewaktu-waktu bisa melanda.
Pelajari cara menyelamatkan diri saat gempa sedang terjadi.
Jangan termakan berita yang belum terbukti kebenarannya dan terus pantau informasi yang akurat dari pihak terkait.***

Share this article
Warga DKI Jakarta diimbau selalu waspada terkait potensi gempa bumi yang disebabkan oleh Sesar Baribis yang berarak 25 km di selatan Jakarta