AYO BACA : 19 Pelanggar PSBB di Kampung Melayu Dihukum Nyapu Jalan
AYO BACA : Mulai Besok, Pertokoan di Cianjur Ditutup hingga Waktu Belum Ditentukan
SURABAYA, AYOJAKARTA.COM – Pelaksanaan pembatasaan sosial berskala besar (PSBB) Surabaya Raya tahap dua mendapatkan kritikan tajam dari pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo.
Dia menilai, pelaksanaan PSBB tahap dua lebih buruk dibandingkan 14 hari pertama. Menurut pendapatnya, grafik peningkatan pasien terkonfirmasi Covid-19 di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik terus meningkat.
"Kalau saya melihat PSBB tahap dua, lebih buruk dari pada tahap satu," kritik Windhu dikonfirmasi Senin (25/5/2020) seperti dikutip Republika.
Berdasarkan data, pasien positif Covid-19 di Jatim sementara sebanyak 3.642 orang. Dari jumlah tersebut, 1.975 pasien di antaranya berasal dari Surabaya. Kemudian 503 pasien dari Sidoarjo, dan sebanyak 123 pasien dari Kabupaten Gresik.
Windhu menjelaskan, dalam kajian kurva epidemiologi yang dilakukan tim, penularan Covid-19 di Surabaya Raya dalam tingkat mengkhawatirkan. Terutama di Kota Pahlawan. Bahkan, kata dia, kurva peningkatan pasien positif Covid-19 di ketiga daerah tersebut terus menanjak.
"Dari kurva epidemiologi kalau kita melihat tiga kabupaten/kota di Surabaya Raya, maupun sendiri-sendiri, itu kasus masih meningkat. Jadi artinya kumulatifnya kurva itu menanjak terutama Surabaya. Gresik lumayan (melandai) tapi masih ada peningkatan," ujar Windhu.
Kondisi itu, lanjut Windhu, diperburuk kedisiplinan masyarakat menjelang lebaran Idulfitri 1441 H, yang abai dengan protokol kesehatan. Di mana banyak masyarakat yang berkerumun dan bepergian ke luar rumah, tanpa memperhatikan aturan jaga jarak. Utamanya di pusat-pusat perbelanjaan.
Windhu mengingatkan, akan sangat berisiko jika selepas PSBB tahap dua ini pemerintah justru memberikan pelonggaran terkait penerapan protokol kesehatan.
Meskipun, Windhu enggan memberikan rekomendasi apakah PSBB harus diperpanjang atau tidak, terhadap Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim.
"PSBB itu kan berakhir hari ini tanggal 25 Mei, jadi besok bagaimana apakah longgar atau tidak, tim kami tidak memberikan rekomendasi. Toh, kami hanya menyampaikan kondisinya, masih berisiko tinggi, kalau tiba-tiba dilonggarkan," kata Windhu.
Windhu berpendapat, jika PSBB kembali diperpanjang, harus diiringi penegasan penindakan terhadap pelanggar. Artinya, dibutuhkan perubahan aturan pada peraturan gubernur (Pergub), peraturan wali kota (Perwali) dan peraturan bupati (Perbup).
"Kalau kita lihat kan pelaksanaannya tidak sesuai dengan harapan, karena tahap dua, ketika diperpanjang tidak dibarengi dengan perubahan Pergub, Perwali, Perbup tidak ada perubahan apa-apa," kata Windhu.
Ia berpendapat, penerapan PSBB tahap dua menjadi lebih buruk, karena pemberatan sanksi bagi pelanggar, yang digembor-gemborkan pemerintah, tidak terbukti di lapangan. Itu membuat aparat tak bisa bergerak menindak badan usaha di luar 11 sektor esensial, seperti mal, pertokoan pakaian yang masih buka, dan menimbulkan kerumunan.
AYO BACA : Sah! Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik Berlakukan PSBB
![[ilustrasi] PSBB Tahak kedua di Surabaya Raya mendapatkan kritikan pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo. (dok)](https://cdn.ayojakarta.com/fill/1200:675/medias/2025/08/20/1755686342288-covid-19_200405131954-832.jpg)
Share this article
Pelaksanaan pembatasaan sosial berskala besar (PSBB) Surabaya Raya tahap dua mendapatkan kritikan tajam dari pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo.