SALATIGA, AYOJAKARTA.COM -- Prof Dr Arief Budiman meninggal dunia di usia usia 79 tahun, Kamis (23/4/2020) pukul 11.40 WIB di RS Ken Saras, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menyatakan kehilangan atas meninggalnya Arief Budiman. Rektor UKSW, Niel Semuel Rupidara menyebut Arief merupakan bagian penting dari sejarah UKSW.
AYO BACA : Ibunda Presiden Jokowi Tutup Usia di Solo
Salah satu peninggalan penting adalah rintisan program pascasarjana Studi Pembangunan yang masih eksis sampai sekarang. Itu program unik karena interdisipliner.
“Tidak hanya ilmu ekonomi, tapi juga disiplin ilmu lain, mulai politik, sosial dan budaya. Saat itu, tahun 1980-an, hanya UKSW yang punya program Pascasarjana seperti itu,” kata Neil.
AYO BACA : Sir Stirling Craufurd Moss, Legenda Dunia Balap Tutup Usia
Neil menambahkan Arief Budiman memiliki kontribusi besar tidak hanya untuk UKSW, tapi juga kehidupan politik, berbangsa, dan bernegara. Pemikirannya sangat relevan sepanjang zaman.
Rektor menyampaikan hubungan Arief Budiman dengan UKSW sempat memburuk saat kasus pemilihan rektor pada era tahun 1990-an yang berujung pada pemecatan Arief sebagai dosen.
“Itu sejarah. Sejak 2016 UKSW sudah melakukan rekonsiliasi dengan Pak Arief, dan sampai meninggalnya hubungan kampus dengan Pak Arief sangat baik,” jelas Niel.
Neil menyebut Arief sebagai intelektual yang lurus, punya prinsip, dan jujur. UKSW, kata dia, sangat kehilangan atas meninggalnya salah satu tokoh petisi Manikebu itu.
“Bagi Indonesia, terutama UKSW, Pak Arief itu aset penting. Tidak setiap generasi melahirkan tokoh semacam Pak Arief, ujar Neil.

Share this article
Salah satu peninggalan penting adalah rintisan program pascasarjana Studi Pembangunan yang masih eksis sampai sekarang.