YOGYAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Dengan perkembangan teknologi informasi saat ini, mempelajari bahasa daerah secara digital sangat memungkinkan. Tak hanya membaca, bahkan sampai cara penulisannya.
Konten digital dengan huruf non-latin sebetulnya sudah lazim di kalangan anak-anak muda. Tak heran jika menemukan, semisal, nama akun di media sosial dengan huruf aksara Jawa.
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) kemudian berinisiatif agar salah satu karakter lokal Indonesia itu juga bisa dituangkan ke dalam sistem penamaan domain atau Domain Name System (DNS).
"Prosesnya baru ini, sangat awal," kata Ketua Dewan Pengurus Pandi, Yudho Giri Sucahyo saat berbincang dengan Ayojakarta di kediaman Gusti Kanjeng Ratu Pembayun, Yogyakarta, Jumat (27/12/2019).
Yudho tak pungkiri Indonesia kalah start untuk mewujudkan rencana tersebut. Sebab, beberapa negara lain seperti Uni Arab Emirat, China dan Jepang sudah lama berinternet menggunakan karakter huruf non-latin pada URL-nya.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali," cetusnya.
Sebagai langkah awal, menurut Yudho, perlu diperbanyak konten-konten beraksara Jawa dan hal ini sudah dibahas pihaknya bersama GKR Pembayun maupun GKR Hayu.
"Poin-poinnya yang sudah dibicarakan, Yogya (Keraton Yogyakarta) akan dialog dengan komunitas-komunitas di sini, dengan pemerintah provinsi tentunya, kemudian mewujudkan kegiatan ini," kata Yudho yang awal November lalu dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.
Realisasi rencana ini juga nantinya melibatkan kementerian terkait serta sejumlah kampus, terutama yang memiliki jurusan bahasa daerah. Berkaitan pengubahan bahasa internet harus mendapat persetujuan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN), lembaga internet internasional yang berwenang mengurus manajemen domain internet.
Yudho pun menekankan betapa pentingnya menghadirkan internet beraksara khas budaya Indonesia. Hal ini sebagai salah satu upaya melestarikan warisan leluhur agar tak lekang oleh waktu.
"Sekarang sudah era digital, naskah kunonya tetap penting, mendigitalkan naskah kuno juga penting supaya kalau orang di luar negeri kan susah mau ke sini biayanya mahal, dan belum tentu juga mereka melihat naskah aslinya. Tapi lalu itu dihadirkan di internet kan orang bisa lihat di mana pun berada," jelasnya.
Naskah kuno Jawa selama ini memang bisa diakses melalui internet, tapi bentuknya gambar yang di-scan.
"Bukan huruf yang bisa di-copy paste ke microsoft word atau prosesor lainnya," imbuh Yudho.
Ia optimistis internet beraksara Jawa jika kelak sudah bisa diakses akan sangat berguna bagi siapapun, tak hanya peneliti.
"Sekarang kan anak muda sudah mulai senang mempelajari Hanacaraka, seluruh tempat dan jalan di sini kan ada aksara Jawa-nya," tuturnya.

Share this article
Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) kemudian berinisiatif agar salah satu karakter lokal Indonesia itu juga bisa dituangkan ke dalam sistem penamaan domain.