JAKARTA TIMUR, AYOJAKARTA.COM -- Menolong orang tenggelam di laut bukan perkara mudah. Salah penanganan bisa membahayakan yang ditolong maupun menolong.
Untuk menghadapi situasi ini, maka puluhan personel Bakamla diberi pembekalan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan hipertensi yang disampaikan Heri Saputra dan Ika Sri Inderayati dari Bagian Kesehatan Bakamla. Sosialisasi ini berlangsung di kantor Bakamla Rawamangun, Jl. Pemuda Kav. 56, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Rabu (6/11/2019).
Selain patroli keamanan laut, tugas Bakamla RI juga aspek keselamatan di wilayah perairan Indonesia. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan personel Bakamla dapat mengetahui alur BHD pada saat terjadi henti jantung/tenggelam dan mencegah terjadinya hipertensi saat bertugas.
Dalam pembahasannya, Inderayati menjelaskan tentang bahaya hipertensi yang dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, retinopati (kerusakan retina mata), penyakit pembuluh darah tepi, gangguan saraf dan gangguan serebral (otak). Faktor resiko yang dapat menyebabkan hipertensi sangat banyak, seperti umur, jenis kelamin, kegemukan (obesitas), merokok, dan konsumsi garam berlebih.
“Sesorang yang memiliki riwayat keturunan keluarga, genetik yang memiliki penyakit hipertensi memiliki kemungkinan ± 70 persen dapat menderita hipertensi," ujar Inderayati.
Sementara sesi berikutnya, Heri menjelaskan tentang alur BHD dengan cara 3A (Aman diri, Aman lingkungan, dan Aman korban), melakukan cek respon kesadaran korban, memanggil bantuan orang sekitar serta menghubungi call center emergency, cek nadi dan pernapasan resusitasi jantung paru (melakukan pijat jantung).
Dalam sosialisasi tersebut, Heri mengajak personel Bakamla untuk mempraktikkan langsung High Quality CPR, yaitu melakukan kompresi dada dengan kecepatan 100-120 kali/ menit, melakukan kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dengan memastikan dada rekoil penuh setiap kali kompresi dada, minimalkan jeda saat melakukan kompresi dada, dan memberikan ventilasi yang cukup (2 napas buatan setelah 30 kompresi dada, setiap napas buatan diberikan lebih dari 1 detik, setiap kali diberikan dada terangkat penuh).
Di akhir kegiatan, Inderayati memberikan cara untuk mengendalikan hipertensi dengan teknik “CERDIK” yaitu dengan Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres.

Share this article
Selain patroli keamanan laut, tugas Bakamla RI juga aspek keselamatan di wilayah perairan Indonesia. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan personel Bakamla dapat mengetahui alur BHD pada saat terjadi henti jantung/tenggelam dan mencegah terjadinya hipertensi saat bertugas.