JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah menguasai teknologi pemisahan mineral radioaktif yakni uranium, torium dan logam tanah jarang (LTJ) di laboratorium Pengolahan LTJ, Uranium, dan Torium (PLUTHO) yang berada di Kawasan Nuklir, Pasar Jumat.
"Laboratorium PLUTHO ini masih dalam skala penelitian, belum sampai pada skala industri. Saat ini sedang dikembangkan untuk skala industri yang bekerja sama dengan PT Timah," ujar Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Batan, Yarianto, dalam keterangan tertulis, Kamis (17/10/2019).
Melalui laboratorium inilah mineral yang terkandung pada pasir monasit dipisahkan antara mineral radioaktif yakni uranium, torium dengan LTJ.
LTJ yang dihasilkan oleh PLUTHO ini adalah LTJ oksida dan perlu diolah lagi untuk mendapatkan unsur-unsur LTJ yang bermanfaat bagi industri.
Batan juga melakukan proses pemisahan LTJ oksida menjadi unsur-unsur LTJ yang siap dimanfaatkan industri di Pusat Sains dan Teknologi Akselerator, Yogyakarta.
Berdasarkan hasil penelitian PTBGN, lanjut Yarianto, kandungan LTJ banyak ditemukan di bumi khususnya pada jalur timah yakni Thailand, Malaysia, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Kalimantan Barat.
"Selain itu juga di Sulawesi, khususnya Mamuju Sulbar potensi LTJ cukup besar, yang keberadaannya tidak bercampur dengan monasit. Namun sampai saat ini belum didapatkan angka yang pasti terhadap kandungan LTJ di Mamuju," kata Yarianto.
Yarianto berharap potensi LTJ tersebut dapat menjadi harta karun bagi Indonesia dan dapat meningkatkan nilai tawar Indonesia di dunia khususnya di bidang industri.
Dengan penguasaan teknologi pemisahan mineral radioaktif dengan LTJ, Batan sekaligus menyatakan kesiapannya untuk memberi dukungan teknologi.
"Batan menyediakan teknologi. Kami telah menguasai teknologi mulai dari skala laboratorium, desain engineering sampai prototipe dan pilot plan," ujar Yarianto.
Sementara itu, Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, mengatakan bahwa dari proses untuk mendapatkan uranium dan torium dari bahan galian nuklir, juga didapatkan mineral ikutan lainnya yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri yakni unsur LTJ.
Contohnya di Kepulauan Bangka. Selain timah, pada kegiatan penambangan juga dihasilkan pasir monasit yang di dalamnya banyak mengandung uranium, torium, dan LTJ.
"LTJ ini sedang diteliti, dan inilah yang nantinya akan dihilirisasi lebih lanjut. Karena LTJ ini merupakan logam yang banyak dicari orang," jelasnya.
Menurut dia, Batan terus melakukan penguasaan teknologi pengolahan bahan galian nuklir sebagai bahan bakar reaktor.
"Penguasaan teknologi ini semata-mata dimaksudkan untuk menyiapkan sumber daya manusia nuklir yang sangat dibutuhkan bila saatnya nanti Indonesia menyatakan siap membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)," ujar Anhar.
Dia menambahkan, Batan telah memulai kegiatan dari bagian hulu yakni eksplorasi dan penambangan bahan galian nuklir. Setelah itu dilakukan ekstraksi, pemurnian, dan pabrikasi bahan bakar nuklir.
"Sejauh ini kami telah melakukan eksplorasi, pendataan yang lengkap, dan pada saatnya setelah dilakukan penghitungan dan didapatkan nilai yang cukup ekonomis tentunya akan dilakukan tindakan selanjutnya," kata dia.

Share this article
Potensi LTJ tersebut dapat menjadi harta karun bagi Indonesia dan dapat meningkatkan nilai tawar Indonesia di dunia khususnya di bidang industri.