JAKARTA SELATAN, AYOJAKARTA.COM -- Memperingati 15 tahun tragedi bom Kuningan, Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan Forum Kuningan (FK) tidak hanya mengundang sejumlah korban atau keluarga korban dari kejadian pengeboman di lokasi tersebut, melainkan juga korban dari bom Bali I.
Salah satunya, Ni Luh Erniati, istri dari I Gede Badrawan yang merupakan korban meninggal dunia atas kejadian bom Bali I pada 12 Oktober 2002 atau 17 tahun lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Ni Luh pun menceritakan bagaimana dirinya kini bangkit dan bebas dari keterpurukan, trauma ataupun dendam kepada pelaku.
"Kita tidak akan bisa melupakan hal yang pernah terjadi, tragedi kemanusiaan yang menimpa kita. Bukan untuk melupakan, semata untuk bagaimana kita melanjutkan hidup kita ke depan," ungkap Ni Luh, dalam acara Peringatan 15 Tahun Bom Kuningan bertajuk "Dari Korban Menjadi Penyintas" di Hotel Sofyan, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (15/9).
Menurut Ni Luh, sebelum bangkit dirinya sering menangis setiap hari, bahkan tanpa disadari dirinya telah melakukan sesuatu yang terlampau jauh. Hingga akhirnya dirinya melakukan konseling dalam waktu waktu yang cukup lama.
"Dari situ saya merasa untuk apa saya terus menangis, karena semua itu tidak akan mengubah, menangis pun setiap hari, atau saya melakukan hal hal yang menolak kejadian itu kan semua sudah terjadi, tidak akan merubah kenyataan itu," kata dia.
Akhirnya, Ni Luh meyakini dirinya untuk bangkit, bekerja, yang diawali dengan membangun usaha kecil dan bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA).
Saat bergabung dengan AIDA, kata Ni Luh, dirinya telah terbantu memahami tragedi yang menewaskan 202 orang meninggal dunia tersebut untuk bisa memaafkan dan mencoba untuk bisa menerima kenyataan.
AIDA juga mempertemukannya dengan Ali Fauzi yang merupakan adik dari mantan pelaku Bom Bali Amrozi bin Nurhasyim, saat bertemu Ni Luh langsung mempertanyakan latar belakang penyebab kejadian tersebut kepada Ali.
"Kami duduk bersama korban dan pelaku. Sharing, cerita apa yang saya alami saya ceritakan, dan beliau pun cerita apa yang beliau rasakan sebelumnya, sejak awal dan akhir. Dan dari situ saya melihat manusia sejati pernah berbuat salah," tuturnya.
Niluh mengaku sempat marah dengan keluarga pelaku, namun kemudian sadar sikapnya itu tidak akan mengubah kenyataan hidup, atau mengembalikan suaminya yang telah meninggal dunia.
Dirinya, tambah Ni Luh, menyadari jika pelaku tidak ingin sepenuhnya mau melakukan pengeboman tersebut. Dia pun memutuskan berteman dengan pelaku dan meminta agar tidak ada lagi kejadian nahas tersebut.
"Saya memilih berdamai, untuk mengajak dia untuk damai dan akhirnya saya ikut berkegiatan menjadi teman dengan beliau sampai sekarang, bahkan saya sempat mengunjungi keluarga beliau di Lamongan," ungkapnya disambut riuh tepuk tangan.
.jpg)
Share this article
Memperingati 15 tahun tragedi bom Kuningan, Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan Forum Kuningan (FK) tidak hanya mengundang sejumlah korban atau keluarga korban dari kejadian pengeboman di lokasi tersebut, melainkan juga korban dari bom Bali I.