AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, mulai melirik peluang besar di sektor energi terbarukan.
Setelah inovasi Bobibos ramai diperbincangkan karena mampu mengubah jerami menjadi BBM setara RON 98, kini Pemkab OKU Timur juga menyiapkan langkah serupa dengan memanfaatkan jerami sisa panen sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan.
Minat besar ini disampaikan langsung oleh Bupati OKU Timur, Lanosin Hamzah, saat melantik Pengurus Dekranasda OKU Timur periode 2025–2030 di Martapura, Senin (24/11/2025).
Ia menegaskan bahwa potensi lokal tidak hanya ada pada produk kerajinan, tetapi juga pada pengolahan limbah pertanian yang bernilai strategis, termasuk jerami dan sabut kelapa.
Selama ini jerami sering kali dibakar petani setelah panen. Padahal, limbah pertanian tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar tinggi oktan yang lebih ramah lingkungan.
Bupati Lanosin menilai, teknologi ini bukan hanya memungkinkan efisiensi energi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Inspirasi ini tak lepas dari keberhasilan Bobibos, inovasi energi terbarukan yang mampu menghasilkan BBM dengan nilai oktan 98,1 berdasarkan hasil uji laboratorium Lemigas.
Proses produksi Bobibos melibatkan tahapan bioenergi kompleks, termasuk penyuntikan serum khusus untuk meningkatkan efisiensi konversi jerami menjadi energi.
Salah satu terobosan terbesar Bobibos adalah rencana menghadirkan mesin produksi portable yang dipasang di atas truk fuso.
Dengan konsep ini, pengolahan jerami dapat dilakukan langsung di desa-desa, mengikuti lokasi panen tanpa perlu memindahkan bahan baku ke pabrik.
“Jerami akan masuk ke dalam truk dan semuanya akan diolah di dalam truk tersebut,” kata founder Bobibos, M. Ikhlas Thamrin, dalam unggahan Instagram-nya. Pendekatan ini dinilai mampu memangkas biaya logistik sekaligus mempercepat produksi.
Baca Juga: Founder BOBIBOS Pernah Kembangkan Inovasi 'Kompor Pulsa', tapi Diputuskan Mandek karena Alasan Ini
Teknologi yang langsung turun ke lahan petani ini disambut positif berbagai pihak, termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang ikut melakukan uji coba di Subang. Hasilnya, bahan bakar Bobibos berhasil menyalakan mesin traktor diesel tanpa kendala.
Bobibos membuka peluang pendapatan baru bagi petani. Dengan rasio konversi mencapai 3.000 liter per hektar, wilayah seperti Lembur Pakuan yang memiliki potensi hingga 1.000 hektar mampu menghasilkan jutaan liter bahan bakar per musim. Ini menjadi peluang ekonomi besar yang tak pernah ada sebelumnya.
Untuk memperluas pemanfaatan, Bobibos juga menyiapkan konsep “Bobibos Mini” yang memungkinkan desa-desa dan ibu-ibu PKK menjadi agen penjual bahan bakar.
Model ini mengurangi biaya distribusi, memperkuat ekonomi lokal, dan mengurangi ketergantungan pada subsidi energi nasional. Bukan hanya pemerintah daerah dan petani, industri transportasi juga menunjukkan dukungan kuat.
Baca Juga: Founder Tekankan BOBIBOS Bukan Etanol: Teknologi dan Bahannya Saja Sudah Berbeda!
PO Primajasa, melalui pemiliknya H. Amir Mahpud, menyatakan siap mengoperasikan armadanya menggunakan Bobibos karena performanya lebih halus dan lebih irit dibanding bahan bakar konvensional.
Dengan semakin luasnya penerapan teknologi bahan bakar berbasis jerami, langkah Pemkab OKU Timur mengembangkan inovasi serupa menandai babak baru dalam pemanfaatan limbah pertanian.
Jika dikembangkan serius, OKU Timur berpotensi menjadi salah satu sentra energi terbarukan berbasis jerami di Sumatera Selatan.
Sinergi antara inovasi lokal seperti Bobibos, dukungan pemerintah daerah, dan keterlibatan industri membuat energi berbahan baku jerami tidak lagi sekadar wacana.
Ini adalah masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan lahir dari jerami yang selama ini dianggap tidak bernilai.***

Share this article
Pemkab OKU Timur kembangkan bahan bakar dari jerami, terinspirasi Bobibos. Jerami diolah jadi BBM ramah lingkungan setara RON 98, membuka peluang ekonomi baru dan mendukung kemandirian energi desa.