AYOJAKARTA.COM – Pidato Presiden RI Prabowo Subianto kembali tuai kontroversi usai sebut pihak-pihak sebagai "Londo Ireng" pada masa kini.
Istilah tersebut merujuk pada catatan sejarah mengenai warga pribumi yang dianggap berkhianat karena membantu atau bekerja untuk penjajah Belanda di masa kolonial.
Hal ini disampaikan Prabowo saat pidato di acara Puncak Harlah ke-28 PKB di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026, Prabowo menyebut sosok "Londo Ireng" ini masih eksis namun tampil dengan wujud yang berbeda, mulai dari oknum LSM hingga jurnalis.

"Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? Pengamat, LSM," ujar Prabowo dikutip ayojakarta.com pada Jumat, 24 Juli 2026.
Lebih lanjut, Prabowo secara terang-terangan mempertanyakan independensi dan sumber pendanaan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ia menilai perlu ada transparansi mengenai siapa pihak yang membiayai operasional lembaga-lembaga tersebut.
"LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?" cetus Prabowo.
Ia berpendapat bahwa sejak zaman penjajahan, sudah ada segelintir orang Indonesia yang tidak patriotik dan justru memilih untuk mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.
Selain menyentil LSM, Presiden juga menyindir sikap media yang dianggap cenderung mencari-cari kesalahan pemerintah. Prabowo mencontohkan bagaimana media kerap menyoroti satu sekolah yang belum diperbaiki dan menjadikannya berita utama, sementara ribuan keberhasilan lainnya seolah diabaikan.

Menurut Prabowo, pemerintahannya sejauh ini telah berhasil memperbaiki sekitar 67 ribu lebih bangunan sekolah di Indonesia. Bahkan, ia telah menginstruksikan agar jumlah tersebut ditambah menjadi 100 ribu sekolah pada tahun depan.
"Walaupun kita sudah perbaiki 67 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar, taruh di halaman pertama, aduh," ungkapnya.***
Share this article
Pidato Presiden RI Prabowo Subianto kembali tuai kontroversi usai sebut pihak-pihak sebagai "Londo Ireng" pada masa kini.