AYOJAKARTA.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam sistem pengelolaan sampah dengan menggandeng investor asal Tiongkok.
Kolaborasi bersama Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC) dan mitra lokal PT L-Energy Green Solutions ini menandai transformasi dari sistem konvensional open dumping menuju Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) berbasis teknologi mutakhir.
Skema kerja sama ini melibatkan aglomerasi wilayah Pekalongan Raya, meliputi Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Widi Hartanto, menyebut kolaborasi lintas daerah tersebut sebagai model ideal untuk menjawab krisis sampah yang kian kompleks.
Berdasarkan data 2024, timbulan sampah di Jawa Tengah mencapai 6,3 juta ton per tahun. Namun, tingkat pengelolaan efektif baru berada di angka 41 persen.
Rendahnya capaian itu disebabkan masih digunakannya sistem open dumping di sejumlah daerah, yang kini tak lagi dikategorikan sebagai sampah terkelola sesuai standar nasional.
Karena itu, transisi menuju PSEL atau waste to energy (WTE) menjadi solusi strategis.
“Melalui skema aglomerasi, kapasitas minimal 1.000 ton per hari bisa terpenuhi untuk membangun fasilitas PSEL,” ujar Widi saat penandatanganan MoU di Pekalongan, dilansir dari Portal Informasi Warga Jateng.
Teknologi ini memungkinkan sampah residu yang sulit diolah dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, sekaligus mengurangi ketergantungan pada TPA.
Investor dari Tiongkok, CPPCC, berkomitmen membawa teknologi efisien dan berkelanjutan.
Perwakilan CPPCC, Dr Xin Jun, menegaskan pihaknya siap bekerja profesional dan patuh regulasi Indonesia demi meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Dukungan pemerintah daerah pun menguat. Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid, menilai PSEL sebagai solusi konkret atas keterbatasan lahan TPA.
Menurutnya, pengelolaan sampah modern bukan sekadar membuang limbah, melainkan mengonversinya menjadi energi bernilai ekonomi.
Langkah serupa juga ditempuh di Tegal Raya dan Jepara.
Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Brebes menyatakan minat membangun PSEL regional, seiring tingginya timbulan sampah yang masih mencemari lingkungan.
Sementara di Jepara, kerja sama dengan investor Cina ditargetkan dimulai 2026, dengan konsep pemanfaatan 100 persen sampah residu menjadi energi terbarukan serta pemberdayaan masyarakat.
Teknologi yang diusung salah satunya berasal dari Zheneng Jinjiang Environment Holding Company Limited, pelopor waste-to-energy di Tiongkok.
Perusahaan ini dikenal sebagai operator WTE pertama di China dan pengembang teknologi circulating fluidised bed yang efisien.
Dengan rekam jejak global tersebut, Jawa Tengah berharap dapat mewujudkan sistem pengelolaan sampah modern, berkelanjutan, dan ramah lingkungan untuk masa depan.
Share this article
Jawa Tengah menggandeng investor Tiongkok mengembangkan PSEL berbasis teknologi WTE. Sampah residu diolah jadi listrik lewat skema aglomerasi lintas daerah demi solusi berkelanjutan.