AYOJAKARTA.COM — Demo menolak kurikulum Pondok Pesantren Al Zaytun masih terus dilakukan oleh sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat se-Indramayu.
Pada Kamis 22 Juni 2023 pagi tadi, kerumunan massa mulai mendatangi lokasi bagian selatan Pondok Pesantren Al Zaytun.
Selain menyoal kurikulum pondok yang sempat membuat viral, massa juga meminta agar sumber dana Al Zaytun ditelusuri.
Akibat demonstrasi tersebut, massa kemudian terlibat aksi saling dorong dengan pihak kepolisian yang membuat barikade.
Baca Juga: Ponpes Al Zaytun Dirujak Massa, Polisi Terjunkan 1.200 Personel dan Pasang Kawat Berduri
Salah satu mobil komando milik demonstran sempat digunakan untuk memaksa mundur 1.200 personel polisi yang mengamankan aksi.
Dalam orasinya, massa juga meminta agar Panji Gumilang memberikan klarifikasi atas ucapannya yang banyak tersebar di media sosial.
Selain massa demonstran, sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) baik Pusat maupun wilayah juga serta organisasi Islam telah melakukan investigasi terkait kurikulum Al Zaytun.
Pesantren Al Zaytun merupakan bangunan pondok yang berdiri di atas tanah seluas 12.000 hektare dan diresmikan oleh Presiden BJ Habibie pada tahun 1999.
Baca Juga: MUI: Ada Temuan Penyimpangan di Ponpes Al-Zaytun, dari Masalah Akhlak Hingga Kriminal
Tim bertugas melakukan sejumlah penyelidikan terkait dengan adanya kabar yang menyebut mahad Al Zaytun merupakan afiliasi dari gerakan Negara Islam Indonesia.
Terkait dengan adanya anggapan tersebut, salah satu pendiri Pondok Pesantren Al Zaytun memberi keterangan.
Menurut Anto, penggalangan dana Ponpes Al Zaytun merupakan hasil dari rekrutmen yang dilakukan oleh Panji Gumilang sejak tahun 1996.
Dari hasil penggalangan dana tersebut, tidak mengherankan jika para santri hanya perlu mengkonversi biaya pendidikan dengan harga seekor sapi.
Baca Juga: Keras! PWNU Jabar Tegaskan Ponpes Al Zaytun Anut Ajaran Menyimpang, TNI Polri Harus Turun Tangan!
Namun demikian Anto menjelaskan bahwa diluar biaya tersebut, masih terdapat aliran dana yang datangnya dari dalam negeri.
“Penggalangan dana dari jaringan bawah tanah, dari orang-orang yang tergabung dalam kelompok NII,” jelas Anto, dikutip dari siaran TV One, Kamis, 22 Juni 2023.
Sebanyak miliaran rupiah dana berkedok sedekah yang disetorkan anggota NII setiap bulan, masuk ke Al Zaytun untuk menggerakkan roda organisasi.
Dalam roda organisasi tersebut, telah tersedia komponen-komponen yang merupakan bagian penting dari sebuah negara.
“Kita punya basis, program pendidikan, kesehatan, militer dan sebagainya yang harus dibiayai,” terang Anto.
Lebih lanjut Anto juga menyebut bahwa Madinah Indonesia atau Ibukota Negara Islam Indonesia berpusat di Al Zaytun.
“Inilah Ibukota NII, Madinah Indonesia itu di mahad Al Zaytun dan itu riil,” terang Anto yang kemudian memilih keluar dari keanggotaan NII Komandemen Wilayah 9.
Anto keberatan karena untuk menyuplai uang infak atau sedekah ke mahad Al Zaytun, anggota NII diperkenankan melakukan tindak kriminal.***

Share this article
Selain menyoal kurikulum pondok yang sempat membuat viral, massa juga meminta agar sumber dana Al Zaytun ditelusuri.