AYOJAKARTA.COM - Yonathan Baskoro selaku pengacara Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, menilai banyak kejanggalan terhadap keterangan Putri Candrawathi dalam kasus yang melibatkan Ferdy Sambo cs.
Mulai dari pernyataan Putri Candrawathi yang dilecehkan oleh Brigadir Yosua, yang padahal kasus itu sudah dihentikan karena merupakan tidak tindakan pidana, namun malah diungkit lagi dalam persidangan.
Bahkan, Putri Candrawathi mengaku diikuti oleh Kuat ma'ruf ke lantai tiga di Rumah Saguling, padahal bukti rekaman CCTV dia terlihat mengajaknya.
Dikutip AyoJakarta.com melalui kanal YouTube Uya Kuya TV, Yonathan sebut 9 kejanggalan yang disampaikan oleh Putri Candrawathi pada persidangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua.
1. Kasus pelecehan seksual di Duren tiga sudah dihentikan
Yonathan sebagai pengacara Brigadir Yosua menyebut bahwa, sebelumnya kasus pelecehan seksual di Duren Tiga sudah terbukti tidak ada dan dihentikan penyidikannya.
"Kalo kita mau ngomongin pelecehan seksual, sejak awal, pelecehan seksual ketika dikatakan di Duren Tiga, sudah tidak ada, sudah dikeluarkan SP 3 dihentikan penyidikan tersebut karena tidak ada peristiwa pidana," ujar Yonathan.
Namun, hal itu masih disebut di persidangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua dan dijadikan alasan oleh Putri Candrawathi.
2. Kasus pelecehan seksual diganti menjadi pemerkosaan
Dinyatakan kasus pelecehan sebelumnya terjadi di Duren Tiga, dan sudah diberhentikan, namun ternyata dalam persidangan kasus tersebut berubah menjadi kasus pelecehan di Magelang.
Bahkan ternyata bukan lagi disebut pelecehan, melainkan pemerkosaan.
"Kemudian berubah menjadi pelecehan di Magelang, tetapi ketika kita mengikuti fakta di persidangan, ternyata banyak kejanggalan terkait pelecehan seksual ini," jelas Yonathan.
"Yang tadi sudah di SP 3 berubah di Magelang, kemudian berubah lagi di persidangan pelecehan jadi pemerkosaan, padahal pelecehan dan pemerkosaan itu dua hal yang sangat jauh berbeda," sambungnya.
3. Tidak ada bukti visum pelecehan seksual
Selain itu, pelecehan seksual yang dikaitkan tersebut ternyata tidak ada bukti visum yang menguatkan kebenarannya.
Padahal ahli kriminologi sudah berkata bahwa jika korban sudah mengalami pelecehan seksual harus ada bukti visum.
"Tetapi tidak ada bukti visum, sedangkan kalau kita melihat fakta di persidangan, ahli kriminologi itu sudah berkata kalau korban pelecehan seksual itu harus ada visum," jelas Yonathan
"Cuman kan disini pembelaan dari kubu FS dan PC, keterangan terdakwa PC dalam hal ini tidak berdiri sendiri didukung oleh Ahli Psikologi Forensik," lanjutnya.
Ahli Psikologi Forensik tersebut merupakan ahli yang memeriksa Putri Candrawathi, sementara pelecehan seksual di Duren Tiga tersebut dinyatakan sudah tidak ada.
4. Putri Candrawathi disebut alami 'Freeze' setelah dilecehkan, tetapi masih bisa menenangkan Kuat Ma'ruf
Pada persidangan, Ahli Psikologi Forensik mengatakan, setelah kejadian pelecehan seksual, Putri Candrawathi mengalami 'freeze' sehingga tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Dari Ahli Psikologi Forensik ini mengatakan bahwa, pada saat kejadian itu, PC itu mengalami 'Freeze' dari otak sampai kaki, jadi dari semua bagian tubuh 'freeze' tidak dapat bergerak," ujar Yonathan.
Namun, di fakta persidangan ternyata Putri Candrawathi sempat memanggil Susi dan Kuat Ma'ruf, bahkan ia sempat menenangkan Kuat Ma'ruf yang marah.
"Tapi di fakta persidangan apa yang disampaikan, ternyata PC sempat manggil-manggil, manggil Susi, manggil kuat," kata Yonathan.
"Alih-alih menenangkan diri habis diperkosa dan dibanting, Kuat yang katanya marah-marah dia masih bisa menenangkan Kuat, nah inikan sudah tidak masuk diakal sebetulnya," sambungnya.
5. Setelah mengalami pelecehan seksual, Putri Candrawathi masih mau berbincang dengan Yosua
Kejanggalan lainnya terlihat ketika, muncul fakta persidangan bahwa Putri Candrawathi masih mau berbicara empat mata dengan Yosua setelah kejadian pelecehan seksual.
"Kemudian yang lebih hebat lagi, setelah diperkosa, dibanting-banting, masih bisa memanggil yang memperkosa dan membanting-banting dia," jelas Yonathan
"Dipanggil ke dalam kamar, ngobrol empat mata, itu secara logika sederhana aja gak mungkin yang memerkosa dipanggil lagi," lanjutnya.
6. Putri Candrawathi juga masih mau satu mobil, bahkan memanggil Yosua dengan sapaan 'Dek'
Setelah kejadian pelecehan seksual tersebut, saat Putri Candrawathi berangkat dari Saguling ke Duren Tiga, dia masih mau berada dalam satu mobil bersama Yosua.
Bahkan yonathan menyinggung Putri Candrawathi memanggil Yosua dengan panggilan 'dek'.
"Kejanggalan yang lain adalah PC ini dari Saguling ke Duren Tiga itu masih mau satu mobil sama Dek Yosua," ungkap Yonathan.
7. Putri Candrawathi bantah ajak Kuat Ma'ruf naik ke lantai tiga di Rumah Saguling
Putri Candrawathi sempat mengaku, ia tidak mengajak Kuat Ma'ruf ikut bersamanya ke lantai tiga Rumah Saguling.
Menurutnya, saat itu Kuat Ma'ruf yang mengikutinya, padahal ternyata pada saat Majelis Hakim memutar rekaman CCTV, Putri Candrawathi memberi isyarat tangan yang mengajak Kuat Ma'ruf ke lantai 3 di Rumah Saguling.
"Begitu juga dengan dia naik ke lantai tiga, yang katanya Kuat tiba-tiba ngikutin, tapi kemarin menurut saya itu skakmat waktu Majelis Hakim memutar CCTV pada saat Putri naik ke lantai tiga," ujar Yonathan
"Ternyata tangan putri yang begini (seolah mengajak) ternyata memanggil Kuat untuk ikut ke atas dan itulah kita gak tau di lantai tiga mereka ngapain," lanjutnya.
8. Putri Candrawathi tidak tau soal penembakan Yosua, padahal saat kejadian dia berada dekat TKP
Pada persidangan, Putri Candrawathi mengaku tidak melihat Yosua saat kejadian penembakan, dan selain itu ia mengaku tidak tahu apa-apa dan bahkan tidak bertanya setelah mendengar letusan tembakan.
"Dan yang lebih lucu lagi PC ini katanya dikamar, jarak kamar itu dekat dengan TKP penembakan, dia mendengar letusan, setelah itu Ferdy Sambo masuk ke dalam untuk menjemput dia keluar. Tapi lucunya dia tidak melihat Yosua, padahal Yosua di depan kamar itu, tidak tahu itu ada apa, bahkan lebih parah itu tidak bertanya," ungkap Yonathan
"Harusnyakan terdengar suara di depan kamar 'weh itu apa tuh' kalo ini gak nanya sama sekali," tambahnya.
Baca Juga: Momen Putri Candrawathi Nyuruh Hakim di Persidangan
9. Putri Candrawathi mengaku baru tau Yosua meninggal setelah sehari kejadian
Setelah sebelumnya diketahui bahwa, setelah kejadian penembakan Yosua, Putri Candrawathi berada dekat dengan TKP.
Bahkan ia sempat dijemput suami nya, yakni Ferdy Sambo untuk keluar, dan melewati jenazah Yosua.
Namun ia bersikeras mengaku tidak tahu kejadian penembakan Yosua, bahkan ia baru tau kematian Yosua sehari setelah kejadian.
"Tapi kenyataannya ternyata disampaikan dia tidak tahu ada apa disitu, tidak melihat ada apa, ditambah-tambahin lagi dia baru tau Yosua meninggal itu tanggal 9 besoknya lagi," jelas Yonathan.
Dari sekian banyaknya kejanggalan yang ditemukan di persidangan, Yonathan mengaku hanya bisa geleng-geleng.
"Kita cuman bisa geleng-geleng dan gak habis pikir," ujar Yonathan.
Sejauh ini, persidangan kasus pembunuhan Yosua masih berlangsung, dan sudah memasuki babak-babak akhir.***

Share this article
Yonathan selaku pengacara Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, sebut 9 kejanggalan yang disampaikan oleh Putri Candrawathi.