Stigma Patuh

Pemerintah secara massif mengkampanyekan supaya masyarakat meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan agar jangan sampai tertular virus corona yang level penyebarannya sudah lada level tertinggi, level pandemi.

Dokter dan para penggiat kesehatan dengan gencar mengkampanyekan agar masyarakat sering mencuci tangan dan menjaga jarak untuk mengurani resiko tertular virus corona, terutama sebelum mengusap mata, hidung, dan telinga.

Media massif memberitakan betapa mudahnya penularan virus corona sehingga dilabeli pandemi. Pemberitaan tidak lagi hanya masif, bahkan nampaknya juga sudah sistematis dan terstruktur.

***

Media secara terstruktur, sistematis, dan masif mengkampanyekan ini, hampir dua puluh empat jam sehari dan tujuh hari seminggu.

Mengkampanyekan bahwa kena cipratan butiran air ludah dan terhirup orang lain, bisa menularkan. Berjabat tangan dengan orang yang sudah tertular bisa ketularan karena boleh jadi ditelapak tangan orang yang sudah tertular mungkin ada virus corona, walaupun orang tersebut tidak menunjukan gejala sama sekali dan masih proses inkubasi.

Mengkampanyelan bahwa menyentuh benda-benda sekeliling bisa saja berakibat tertular virus corona karena mungkin saja pada benda-benda tersebut ada virus corona yang berasal dari bersin atau telapak tangan orang yang sudah tertular yang sebelumnya bersentuhan dengan benda-benda tersebut. Hal ini karena kemampuan Virus Corona hidup cukup lama di benda-benda mati.

Mengkampanyekan bahwa menjaga jarak dengan siapa saja yang permah berkunjung ke negara atau daerah yang penyebaran virus corona sudah pada status Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat memutus mata rantai penyebaran virus corona secara signifikan sehingga dijadikan strategi utama oleh pemerintah.

**

Pilihan masyarakat dalam situasi seperti ini hanyalah patuh dan menerima karena informasi tersebut disampaikan oleh orang dan lembaga yang berwenang dan kompeten di bidang tersebut. 

Kepercayaan dan kepatuhan yang tentunya diwujudkan sesuai penangkapan masyarakat atas informasi yang dikampanyekan tersebut. 

Kepercayaan dan kepatuhan yang tentunya diwujudkan sesuai dengan latar belakang pendidikan, budaya, dan lingkungan masyarakat tersebut.

Apapun bentuknya, semua itu merupakan terjemahan masyarakat untuk mematuhi anjuran meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian menghadapi virus corona dan membantu menahan laju penyebaran virus corona.

Kalau di lapangan bentuk kewaspaan dan kehati-hatian masyarakat yang semakin tinggi terkadang berlebihan, itu wajar saja. Kenapa? Karena masyarakat tidak pernah diberitahu siapa saja Pasien Positif Corona (PPC), siapa saja Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan siapa saja Orang Dalam Pemantauan (ODP), dan daerah mana saja yang perlu diwaspadai. Masyarakat tidak bisa memastikan dari siapa dan dari tempat mana harus berhati-hati dan waspada.

Hal itu melahirkan situasi dimana yang dikedepankan masyarakat adalah mengambil resiko paling minimal, salah satu wujudnya adalah melakukan identifikasi sendiri orang dan tempat yang harus diwaspadai dan harus berhati-hati terhadapnya.

Identifikasi tersebut tentu saja mendasarkan dan berdasarkan materi yang dikampanyelan melalui media masa dan melalui media komunikasi yang lain oleh pemerintah, dokter, dan tenaga medis sesuai penangkapan masyarakat yang heterogen.

AYO BACA : Salah Samek #2 : Mudik dan Ketersediaan Makan

Kehati-hatian dan kewaspadaan yang bersifat terjemahan sendiri oleh masyarakat tersebut makin menjadi-jadi, untuk tidak menyebut paranoid, setiap mendengar pernyataan Jurubicara Gugus Tugas Penganggulangan Virus Corona bahwa penambahan Pasien Positif Corona sebagai indikator imbauan untuk menjaga jarak, meningkatkan kehati-hatian, meningkatkan kewaspadaan belum dilaksanakan dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat.

Apalagi setelah wacana Darurat Sipil dilontarkan untuk menertibkan masyarakat, situasi makin tambah menjadi-jadi, bahkan mungkin sudah benaran panaroid pada sebagian kecil masyarakat, yang diwujudkan seperti dan tidak saja dalam bentuk penolakan pemakaman pasien positif corona sampai pembongkaran kembali kuburan untuk dipindah dari di lingkungannya.

***

Semua tindakan masyarakat itu menurut hemat penulis semata-mata sebagai akibat langsung dari kampanye dan imbauan yang sangat masif dari pemerintah dan profesional kesehatan melalui media masa. 

Semua tindakan itu dimaknai masyarakat sebagai tindakan kepatuhan semata. Semua tindakan tersebut semata karena percaya pada media masa dan siapa yang bicara di media masa tersebut, termasuk dan tidak terbatas dokter yang menjadi narasumber di media masa.

Atau ada alasan lain yang lebih logis? Penulis belum menemukan alasan lainnya sampai tulisan ini penulis tulis.

Itulah alasan penulis kenapa tidak pernah percaya ada masyarakat Indonesia yang tidak menghargai dedikasi dokter, perawat, dan tenaga medis yang tengah berjuang melawan corona. Penulis tidak percaya ada masyarakat memberikan stigma negatif kepada dokter dan tenaga medis yang sedang berjuang melawan pandemi corona.

Sekali lagi, semua yang penulis jelaskan diatas adalah bentuk kepercayaan dan penghormatan masyarakat kepada dokter, perawat, dan tenaga medis yang sudah maju di garis depan melawan virus corona ini dengan terjun langsung di medan pertempuran pada lingkaran paling dalam dan terdekat dengan virus corona.

Kalau masyarakat menjaga jarak dari dokter, perawat, dan tenaga medis yang terjun langsung di garis depan melawan virus corona terebut, penulis yakini semata-mata itu karena dan sebagai wujud menghormati dan mematuhi anjuran para dokter untuk berhati-hati, waspada, dan menjaga jarak terhadap ODP dan PDP.

Bukankah masyarakat diminta menjaga jarak, berhati-hati, dan waspada terhadap orang yang baru pulang dari negara atau daerah yang berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) virus corona supaya tidak tertular?. 

Masyarakat menerjemahkan anjuran tersebut dengan mengidentifikasi sendiri bahwa rumah sakit rujukan adalah sebagai daerah atau tempat yang paling banyak orang tertular virus corona dibanding tempat manapun.

Masyarakat menterjemahkan anjuran tersebut dengan mengidentifikasi orang yang bekerja di rumah sakit rujukan sebagai orang yang mungkin saja berpotensi tertular virus corona.

Bukankah gencar juga diberitakan tentang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD)? Bukankah juga gencar diberitakan dokter dan petugas medis terinfeksi?. Bukankah gencar diberitakan dokter dan petugas medis memilih menjaga jarak dari suami/istri dan anak-anak beliau karena beliau tidak bisa memastikan dirinya bukan pembawa virus corona?

Apalah lagi masyarakat juga diberitahu media kalau semua dokter dan petugas medis yang merawat orang terpapar virus corona masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP).

**

Percayalah.....

AYO BACA : Salah Samek #1 : Penyebaran dan Penyakit

Seluruh lapisan masyarakat Indonesia sangat menghormati dokter dan tenaga medis yang sedang berjuang di garis depan melawan virus corona dengan penghormatan tertinggi. Penghormatan yang tidak saja pada lahiriah namun merupakan penghormatan tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

Seluruh lapisan masyarakat Indonesia penulis yakini berlinang air mata saat mendengar ada dokter dan tenaga medis yang terpapar virus corona.

Seluruh lapisan masyarakat merasakan kesedihan mendalam saat mengetahui ada dokter dan tenaga medis yang meninggal dunia akibat virus corona. Bukan hanya sedih mendalam namun juga takut, takut kehilangan tempat bersandar dan berlindung dari serangan ganas virus corona ini.

Seluruh lapisan masyarakat Indonesia sangat menaruh hormat yang paling tinggi dan paling dalam kepada para dokter dan tenaga medis sebagai pelindung masyarakat dari keganasan corona. 

Tidak ada masyarakat Indonesia yang memnerikan stigma negatif kepadanpara dokter dan tenaga medis, pejuang utama dan terdepan, pelindung masyarakat yang tak tergantikan, melawan virus corona.

Tidak ada masyarakat Indonesia yang memberikan stigma negatif kepada keluarga dokter dan keluarga tenaga medis, pejuang dan pahlawan negara, menghadapi serangan virus corona ini. Masyarakat bisa merasakan beban batin keluarga dokter dan keluarga tenaga medis sebagaimana masyarakat merasakan beban batin keluarga prajurit yang maju ke medan perang membela dan melindungi bangsa, negara, dan masyarakat.

Kalau ada masyarakat sedikit menjaga jarak dengan dokter, menjaga jarak dengan tenaga medis, dan mungkin sedikit berlebihan dengan sedikit menjaga jarak juga dengan keluarga dokter dan keluarga tenaga medis, itu bukanlah karena memberikan stigma negatif kepada dokter, bukanlah memberikan stigma negatif tenaga medis, dan bukanlah memberikan stigma negatif kepada keluarga beliau-beliau, sama sekali bukan.

Sebagain kecil masyarakat mungkin sedikit berlebihan, namun sekali lagi itu bukan karena memberika stigma negatif dokter, tenaga medis, dan keluarganya.

Sekali lagi bukan, bukan memberikan stigma negatif, bukan !!!

Semua itu semata-mata karena masyarakat percaya dan patuh pada anjuran dokter.

Semua itu semata-mata karena masyarakat percaya dan patuh pada anjuran petugas medis.

Semua itu semata-mata karena masyarakat percaya dan patuh pada anjuran pemerintah.

Percaya dan patuh untuk berhati-hati, untuk waspada, untuk menjaga jarak dengan siapapun yang pernah berinteraksi dengan orang yang pernah berkunjung ke daerah yang banyak orang terpapar virus corona, termasuk dan tidak hanya daerah rumah sakit rujukan.

Percaya dan patuh untuk berhati-hati, untuk waspada, untuk menjaga jarak dengam siapapun yang pernah berinteraksi dengan orang yang pernah berinteraksi dengan orang terpapar virus corona, termasuk dan tidak terbatas dokter dan petugas medis yang merawat langsung pasien positif corona.

Itulah wujud kepatuhan dan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap anjuran dokter, tenaga medis, dan pemerintah yang mereka hormati dan junjung tinggi.

Bukankah masyarakat seperti ini patut kita apresiasiasi dan diberikan stigma yang menggembirakan, sebagai masyarakat yang memberikan peluang terkendalinya penyebaran virus corona yang sudah pada level Pandemi ini sesuai anjuran ahlinya yaitu dokter, tenaga medis, dan pemerintah?

Pendapat penulis: Iya, masyarakat yang patut diberikan stigma yang menggembirakan.

Stigma Patuh


Hendra J Kede
Wakil Ketia Komisi Informasi Pusat RI

AYO BACA : Parit Al Farisi

Ikuti AyoJakarta.com di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait
# Wabah COVID-19
# Wabah COVID-19
# Wabah COVID-19
# Wabah COVID-19
# Korban COVID-19
# Informasi Publik
# Tenaga medis
# ayojakarta.com
# Ayo Media Network

News Update

Metropolitan

Peringati Hari Anak Nasional, PT TransJakarta Gelar Acara Tahunan 'Merakids 2026' Kenaikan Budaya Bertransportasi Publik

Dalam rangka memperingati Hari Anak NNasional, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menggelar program tahunan bertajuk 'Merakids 2026: Bermain, Belajar, dan Berpetualang' pada Kamis, 23 Juli 2026.

Nasional

BRI Peduli Dorong Semangat Belajar Anak Indonesia Melalui Program Ini Sekolahku

BRI Peduli memperingati Hari Anak Nasional 2026 dengan kelas inspirasi dan penguatan Program Ini Sekolahku di enam sekolah.

Ekonomi

Siapa Saja Pemegang Saham Utama di Balik Kredivo Group?

Kredivo dikuasai FPL Capital (85%) dan PT Wanteg Selaras Alam (15%). Didirikan Akshay Bhargava dan dipimpin Dirut Umang Rustagi, aset Kredivo tembus Rp1,49 T dengan ekuitas Rp414,49 M di akhir 2025.

News

Targetkan 35.624 KDKMP di Akhir Tahun 2026, Zulhas: Skema Penyaluran Bansos Melalui Kopdes Merah Putih

Instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto, skema penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Ekonomi

Kredivo Temui OJK Usai DC Ketahuan Lecehkan Nasabah

Kredivo investigasi dugaan pelecehan oleh oknum debt collector mitra (PT Danakirti Arta Kirana). Hasilnya resmi dilaporkan ke OJK pada 23 Juli 2026 demi pastikan penagihan tegas dan sesuai aturan.

News

Sudah Tahu? Ada Rentetan Aksi Unjuk Rasa Berjilid Sejak 20 Juli 2026 di DKI Jakarta: Tuntutan MBG hingga Usut Tuntas Kasus Febrie Adriansyah!

Tak banyak diliput oleh media namun ramai di media sosial, sejumlah titik di wilayah Jakarta diwarnai oleh gelombang aksi unjuk rasa sejak Senin, 20 Juli 2026.

Jakarta Selatan

SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Roboh, Walkot Jaksel Syafrin Liputo Pastikan KBM Tetap Berjalan!

Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, memastikan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) bagi peserta didik di SDN Kebayoran Lama Selatan 09 tetap berjalan dengan baik pasca insiden robohnya bangu

News

2 Aksi Demo Jakarta Hari Ini, Polisi Kerahkan 900 Personel hingga Rekayasa Lalu Lintas Situasional!

Sebanyak 900 personel gabungan disiagakan guna mengawal aksi demonstrasi yang akan berlangsung di dua titik wilayah Jakarta Pusat pada hari ini, Kamis, 23 Juli 2026.

Bekasi

Pertamina Patra Niaga Ambil Tindakan Tegas Terhadap SPBU 34.176.06 Bekasi Diduga Layani Pelangsir

Pertamina Patra Niaga Ambil Tindakan Tegas Terhadap SPBU 34.176.06 Bekasi Diduga Layani Pelangsir

Jakarta Pusat

2 Aksi Demo Jakarta Hari Ini: Mahasiswa hingga Ojol di 2 Titik Berbeda Gambir dan Kawasan DPR RI!

Setidaknya dua aksi unjuk rasa besar yang digelar oleh aliansi mahasiswa dan massa ojek online (ojol) di sejumlah titik di Jakarta Pusat, pada Kamis, 23 Juli 2026.

Metropolitan

Pipa Sempat Bocor, PAM Jaya Pastikan Layanan Air Bersih di Jalan Simatupang Berfungsi Kembali!

Layanan air bersih untuk warga di wilayah terdampak kebocoran pipa di Jalan TB Simatupang kini telah kembali pulih.

Bekasi

Mendukung Wajah Baru TPST Bantargebang, Saatnya Warga Jakarta Pilah Sampah dari Dapur

Pemprov DKI beralih ke controlled landfill di Bantargebang dengan pasang geomembran cegah air lindi. Target bebas open dumping 2029 ini butuh pemilahan sampah organik dari rumah tangga.

Bisnis

Cegah Bahaya Pemukiman Padat, Pertamina Patra Niaga Regional JBB Bangun Budaya Sadar Bencana di Tangerang

Pertamina Patra Niaga Regional JBB luncurkan SAHABAT SIAGA di Tangerang! Warga Mekarsari dilatih simulasi kebakaran dan gempa.

Jakarta Selatan

Soal Perbaikan Bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Jaksel, Pramono Buka Opsi Gunakan Dana KLB, Apakah Itu?

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, buka suara terkait kerusakan bangunan yang terjadi di SDN Kebayoran Lama Selatan 09, Jakarta Selatan.

Metropolitan

Kerap Jadi Biang Kemacetan di Kawasan Cakung-Cilincing, Pemprov DKI Gratiskan Truk Kontainer Parkir di Terminal Tanah Merdeka!

Pemprov DKI Jakarta mengambil langkah cepat guna mengatasi kemacetan parah yang kerap terjadi di kawasan Cakung-Cilincing.

Bekasi

TPST Bantargebang Mulai Pakai Geomembran, Targetkan Sistem Controlled Landfill Rampung 2029

Pemprov DKI pasang geomembran di TPST Bantargebang untuk transisi ke controlled landfill hingga 2029. Langkah ini tekan air lindi dan butuh pemilahan sampah organik dari rumah tangga.

Bisnis

BRI Peduli Gelar Pelatihan Ekspor, UMKM Mebel Sukoharjo Siap Rambah Pasar Dunia

CV Swakarya Jaya Furniture asal Sukoharjo sukses tembus pasar ekspor Spanyol dan AS! Simak kisah sukses pelatihan ekspor BRI Peduli di sini.

Gadget

Lini Samsung Galaxy Z Fold 8 Resmi Rilis di Indonesia, Perdana Bawa Baterai Silikon Karbon dan Chipset 2nm

Samsung merilis Z Flip 8 (Exynos 2600 2nm), Z Fold 8, dan Z Fold 8 Ultra di Unpacked Jakarta. David GadgetIn puji baterai silikon karbon 5.000 mAh di Fold 8 Ultra dan Snapdragon 8 Elite Gen 5.

Nasional

Dorong Service Excellence, Danantara Indonesia Tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga

Danantara Indonesia tinjau Travoy Rest dan JMTC Jasa Marga! Cek inovasi rest area kekinian dan pantauan tol canggih berbasis AI di sini.

Gadget

Resmi Meluncur Mulai Rp4 Jutaan, Tecno Pova 8 5G Worth It Dibeli atau Mending Camon 50 Pro?

Tecno Pova 8 5G rilis mulai Rp4,1 jutaan (naik 66%). David GadgetIn soroti baterai raksasa 8.000 mAh, layar 144Hz, LED Alive Matrix, Dimensity 7100, serta kamera Sony Lythia 600 50 MP.