JAKARTA telah membuat banyak orang frustrasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal walau nyata-nyata ada yang mampu untuk itu.
Sebagian penghuni kota ini hidup tunggang-langgang di dalam dan bersamanya. Jakarta walau menjengkelkan tetapi masih menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum urban. Tugu Monas ibarat emas yang menggiurkan terutama untuk kaum pendatang.
Walau banjir telah menjadi cerita nestapa di balik kota yang ramai dengan gedung pencakar langit namun Jakarta adalah harapan. Jakarta adalah masa depan.
Sangat sayang jika kota ini dikelola tanpa perencanaan yang matang. Mau jadi apa Jakarta nantinya?
Inilah persoalan klasik bagi sebuah kota bernama Jakarta. Beban berat yang berada di pundak Jakarta memang menyulitkan kota ini memberi harapan yang indah bagi penghuninya.
Bukan rahasia umum lagi setiap ganti gubernur maka beban Jakarta semakin bertambah. Ketika Wiyogo Atmodarminto menjadi gubernur, kota ini diharapkan menjadi kota metropolitan yang ciamik.
Saat Soerjadi Soedirja menjadi gubernur maka beban Jakarta ditambah lagi agar menjadi ibu kota negara yang sejajar dengan ibu kota negara lainnya di dunia ini.
Di zaman Bang Sur, Jakarta diperluas dengan konsep water front city. Maka reklamasi pun dimulai di pesisir pantai. Akhirnya sekarang muncul deretan pulau hasil reklamasi. Bahwa melenceng dari konsep awal maka itu yang sulit ditebak.
Saat Gubernur Sutiyoso, kondisi Jakarta terdiam karena pecah insiden 27 Juli di Kantor DPP PDI Perjuangan. Namun selepas itu Bang Yos tiba-tiba memagari Taman Monas dengan rusa berkeliaran di sana. Air mancur di Bundaran Hotel Indonesia pun dipercantik dengan anggaran yang aduhai gedenya. Bang Yos sukses memperkenalkan busway Jakarta Kota - Blok M yang kini dikenal sebagai Bus Transjakarta. Lagi-lagi beban Jakarta bertambah.
Di masa Gubernur Fauzi Bowo, Jakarta menjadi kota budaya. Maklum Bang Foke, sapaan Fauzi Bowo, sebelumnya adalah Kepala Dinas Pariwisata sehingga afdol bila beban Jakarta ditambah lagi menjadi kota budaya.
Kasihan memang Jakarta. Setiap ganti gubernur, beban terus bertambah pula. Akhirnya Jakarta kelimpungan. Tanpa sadar beban-beban itu mengaburkan tujuan sebuah kota. Jakarta seperti kehilangan arah pembangunan. Jakarta bisa dibilang tersesat dalam perkembangannya.
Molek silakan, tetapi seharusnya sejak awal Jakarta punya konsep layaknya sebuah kota. Kasihan Jakarta. Ya kota bisnis, kota pantai dengan konsep water front city-nya lalu kota budaya. Juga ibu kota negara.
Tengoklah Singapura yang sejak awal dirancang sebagai kota taman kreatif. Selain bisa menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan buat seluruh warganya, mereka mempunyai tujuan yang lebih besar lagi. Mereka ingin menjadikan kotanya indah dan menyenangkan, dengan udara yang segar dan hijau sehingga orang-orang dari negara lain terutama orang-orang terbaiknya, berminat datang dan bahkan tinggal di Singapura.
Hanya dengan menciptakan kota yang indah, Singapura bisa menarik ratusan ribu manusia terbaik dari negara-negara lain untuk pindah ke Singapura.
Lantas Jakarta mau disulap jadi apa dong? Kasihan jika Jakarta terkenal hanya karena banjir dan banjir terus. Apa kata dunia?
Norman Meoko
Wartawan senior Jakarta
Share this article
Kasihan memang Jakarta. Setiap ganti gubernur, beban terus bertambah pula.