Ya Ampun Google ini, kok bisa sih saya dipilihkan jalan via Puncak, ini minggu pula. Karena beritanya, Puncak bisa jalan seperti siput saat weekend. Ya sudahlah apa boleh buat, balik juga nanggung...apapun akan saya hadapi dan lewati. Namanya juga tidak tahu jalan, sudah dikasih petunjuk...saya pilih ngikut deh, daripada makin nyasar. Jauh dari rumah pula.
Hemm....bener-bener deretan mobil mengular entah berapa kilometer. Ada yang sampai turun dari mobil, saking pegelnya kali'. Untung lagi nich kalau pakai motor, masih bisa terus jalan entah mepet kiri maupun ke kanan.
Tiba-tiba saya jahil berpikir hahaha. Orang-orang yang weekend tetep mau ke Puncak nich, benernya yang dicari apa ya???? Koq "B O D O" amat, kan sudah tahu kalau tiap kali macet bisa berjam-jam, nggak ada kapoknya ya. Padahal paling lama di Puncak berapa jam, nggak sebanding banget dengan total perjalanannya. Jadi inget di Jawa Timur arah ke Malang dan Batu. Manusia itu memang aneh. Mungkin seaneh orang lain melihatku. Hahahaha.
Saya melihat tempat Paralayang, ada pertigaan cukup luas, tergodalah untuk berhenti menikmati, sembari ngebakso aja, biar tidak dikira orang mau ngapain. Sudah bawaanya carrier gede, semacam anak ilang.
Macet pun belum kelar, saya lanjut perjalanan. Waduuuh keren banget uey, macet bener-bener masih panjaaang, gak bisa bayangin jam berapa tuh mereka yang naik mobil bisa keluar. Naik motor mah nyantai aja.. tetep bisa lanjut terus.
Saya sampai di Bogor pukul 14.00, hanya beberapa jam ngobrol sembari ngopi, pikir-pikir lagi karena belum pernah jalan di kota Jakarta dengan motor sendiri. Maka saya putuskan, sore itu saja menuju Jakarta. Kebetulan hari ini Minggu. Daripada besok Senin, bisa jadi macet, makin bikin saya stress. Pukul 17.00 saya pamit dan lanjut ke Jakarta
Saya buka map, ternyata dari Bogor menuju Jakarta butuh waktu sekitar 2.5 jam, Google Map dengan cepat memilihkan saya route tercepat.
Segera, saya memberitahukan pada Ona yang menjadi tujuan kedatangan saya di Jakarta bahwa malam ini, saya akan sampai di rumahnya sekitar pukul 20.00.
Mulailah perjalanan saya masuk Depok, sudah makin lancar. Saya deg-degan nich masuk Jakarta, jalan begitu lebar, dengan banyak persimpangan, ruwet pula. Untung saya putuskan jalan malam hari, biar tidak seberapa kelihatan bingungnya. Akhirnya sampai juga di rumah Ona di daerah Jakarta Barat tepat pukul. 20.05.
Sambil melepas sepatu, sapaan pertama dan utama adalah, ngatain saya edun (edan/gila), hahaha...iya juga, emang bener saya gila ya.
Masuk rumah, bebersih badan dulu, dan lanjut ngobrol hingga tengah malam. Esoknya janjian dengan Hilda Putong. Seru abis dah pertemuan kami.
Tanggal 9 September 2019
Jalan-jalan di kota Jakarta. Makan bertiga bersama Hilda Putong di Tugu Kunstkring, dan hanya sedikit diskusi asyik saja. Bergabung juga beberapa teman Ona. Jadilah makin seru obrolan kami.
Tempat ini indah, bekas Kantor Imigrasi bangunan Belanda yang lebih dari 100 tahun. Berisi barang-barang antik, lukisan, ada tenunan hingga batik, ada juga hasil anyaman dari NTT (Nusa Tenggara Timur).
AYO BACA : Perjalanan Panjang di Balik Pendakian: 1.819,3 Kilometer Menelusuri Pulau Jawa (2)
Tempat makan yang luas, bisa untuk acara pertemuan juga. Tiap ruangan private di restoran ini memiliki makna tersendiri, termasuk Sukarno Room. Sukarno Room ini menjadi ruangan unik karena di dalamnya terdapat berbagai foto sang Bapak Proklamasi Indonesia sejak zaman dulu. Tentu ini bukan foto asli.
10-12 September 2019
Saya tinggalkan Jakarta sejenak untuk mengunjungi Gunung Salak Puncak 1 dengan ketinggian 2211mdpl via Cidahu bersama dua kawan perempuan pendaki usia di atas 45, kami sudah membuat janji dari pertengahan Agustus 2019, semua sudah dipersiapkan.
Saya diantar bertemu teman di seputaran Tamini Square dan saya pindah ikut dengannya menuju tempat tinggalnya di Cibubur. Jadi motor bisa istirahat dan tetap parkir cantik di Jakarta.
Mumpung sudah berada di seputaran, setelah Gunung Gede dan Gunung Pangranggo, Gunung Salak sekalian deh. Ada teman yang mengatakan "gak mau rugi ya Yanni" iya pastilah...sudah sejauh ini perjalanan, masak dilewatkan begitu saja sih. Dan inilah ceritanya
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2917857034910273&id=100000580144634
Turun dari Gunung Salak saya langsung kembali ke Jakarta.
Tanggal 13 September 2019 malam hari, diajakin ke Ancol makan malam. Ternyata banyak keluarga membawa anak-anaknya untuk berenang dan bermain di pantainya. Ada juga kelompok, yang melakukan pertemuan semacam meditasi. Banyak juga yang bersepeda dan bermain bola...Ada yang naik perahu berkeliling dengan lampu kerlap kerlipnya, entah berapa hektare luasnya tempat ini.
Tanggal 14 September 2019
Saya sempat nonton Jazz di Galeri Indonesia bersama Stien, cukup menggembirakan, yang nyanyi juga lucu, suaranya merdu. Kelompok musik Indonesia timur rasa NonaRia, sangat menghibur. Kelompok musik yang dimainkan tiga perempuan dengan 1 laki-laki.
Selesai itu, lanjut makan malam bersama Kiki, Ona dan Hilda, saat pulang disambut ondel-ondel pula, hahaha serunya memang tidak ada habisnya.
Tanggal 15 September 2019
Pagi hari, pukul 09.04 tercatat 947,8 km, Saya tinggalkan rumah Ona di Jakarta Barat.
Terimakasih Ona atas segala jamuan dan perhatiannya, selama saya berada di Jakarta.
(Bersambung)
AYO BACA : Perjalanan Panjang di Balik Pendakian: 1.819,3 kilometer Menelusuri Pulau Jawa (1)

Share this article
Mulailah perjalanan saya masuk Depok, sudah makin lancar. Saya deg-degan nich masuk Jakarta, jalan begitu lebar, dengan banyak persimpangan, ruwet pula.