AYOJAKARTA.COM – Menjelang musim libur Natal dan Tahun baru atau Nataru 2025, Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 110 juta jiwa akan melakukan mobilisasi.
Kemenhub memprediksi sebanyak 45,63 persen berlibur ke lokasi wisata, 32,36 persen memilih mudik, sebanyak 19,96 persen yang merayakan Nataru 2025 di kampung halaman.
Dari sebanyak 39,5 persen populasi nasional yang diprediksi ikut merayakan Nataru 2025, Kemenhub juga memperkirakan ada sebanyak 2 persen menjalankan tugas rutin.
Meski belum mencapai setengah dari total populasi Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup memprediksi Nataru 2025 akan berkontribusi besar dalam mendatangkan sampah.
Berdasarkan pada kajian di lokasi wisata, KLHK memperkirakan Nataru 2025 akan menyumbangkan berbagai varian sampah hingga mencapai bobot 53,82 juta kilogram.
Baca Juga: Cara Mudah Hapus Sampah Tersembunyi di Aplikasi WhatsApp, Auto Lancar Kembali!
Menyikapi fenomena potensi peningkatan jumlah sampah yang terjadi setiap Nataru, Abdul Gofar yang merupakan Juru Kampanye Urban Walhi memperkenalkan zero waste tourism.
Wisata tanpa sampah atau zero waste tourism, menurut Walhi perlu mendapat tempat yang signifikan di Indonesia.
Penerapan tersebut, menurut Walhi dapat dilakukan dengan cara membuat regulasi yang berpihak pada kebersihan di setiap lokasi wisata.
Di samping menyasar pada tempat penginapan, sasaran wisata tanpa sampah juga perlu semakin diperketat di setiap destinasi wisata.
Untuk itu, Walhi atau Wahana Lingkungan Hidup berharap agar sejumlah instansi pemerintah dapat berperan secara aktif.
Bukan hanya menitik beratkan kepada Kementerian Pariwisata, penerapan zero waste tourism juga perlu didukung seluruh masyarakat.
Baca Juga: 3 Cara Membersihkan Sampah di HP yang Bikin Memori Penuh
Salah satu hal paling kecil namun memiliki dampak besar terhadap perubahan lingkungan adalah dengan meminimalisir penggunaan barang plastik sekali pakai.
Sedotan, kantong plastik, kemasan makanan atau minuman, menurut Walhi kerap menjadi penyumbang terbesar sampah di lokasi wisata.
Karena itu melalui penerapan zero waste tourisme, Walhi berharap sektor pariwisata dapat menekan potensi terjadinya peningkatan sampah.
Selain Walhi, pernyataan terkait pentingnya regulasi limbah sampah berbahan plastik juga disampaikan oleh Ibar Akbar selaku Kepala Proyek Plastik Greenpeace Indonesia.
"Tiga R" atau reduce, reuse dan recycle menurut Greenpeace Indonesia perlu semakin diperkenalkan kepada masyarakat bukan saja pada Nataru tetapi dalam perilaku harian.
Belum terwujudnya pemilahan jenis sampah yang ditimbulkan akibat kesadaran dari pengunjung destinasi wisata, membuat Indonesia menjauh dari kebersihan.
Absennya penerapan "tiga R" saat Nataru dari lingkungan rumah tangga, serta destinasi wisata dinilai Greenpeace membawa dampak tumpukkan sampah yang menggunung.***

Share this article
KLHK memperkirakan Nataru 2025 akan menyumbangkan berbagai varian sampah hingga mencapai bobot 53,82 juta kilogram.