AYOJAKARTA.COM – Isu mengenai potensi gempa zona megathrust masih menjadi perhatian masyarakat Indonesia.
Seperti yang diketahui, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa gempa zona megathrust hanya tinggal menunggu waktu.
Hal tersebut tentu membuat masyarakat khawatir dengan dampak yang diakibatkan guncangan dahsyat megathrust.
Baca Juga: Disebut Circle Orang Cerdas, Intip 5 Jurusan Kuliah yang Paling Banyak Orang Pintar dan IQ Tinggi
Terlebih, gempa zona megathrust mempunyai potensi gempa dengan magnitudo hingga mencapai 8,9.
Tentu banyak masyarakat yang berharap kehadiran teknologi mampu mencegah dampak yang ditimbulkan dari gempa zona megathrust.
Peneliti PR Kebencanaan Geologi BRIN, Dr. Nuraini Rahma Hanifa mengatakan bahwa dampak dahsyat dari gempa zona megathrust bisa dicegah dengan riset dan teknologi.
“Sangat bisa. Memang kita perlu sangat memperkuat riset inovasi teknologi untuk kemudian kita melakukan upaya mitigasi bencana dan itu juga yang kemudian di advokasikan bahwa upaya mitigasi bencana itu perlu berbasiskan science engineering technology and innovation,” kata Rahma dikutip dari kanal YouTube BRIN Indonesia pada Rabu (4/9/2024).
Rahma menjelaskan harus ada berbagai macam riset yang dilakukan untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan gempa zona megathrust.
Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah banyaknya masyarakat yang menjadi korban atas peristiwa tersebut.
Oleh karena itu, ada banyak aspek riset yang harus diperhatikan salah satunya bagaimana membangun rumah yang bisa lebih tahan gempa tanpa merubuhkan bangunannya.
Kemudian, hal lain yang juga menjadi bagian dari aspek riset dimana potensi megathrust bisa terjadi.
Selain itu, kehadiran teknologi juga berperan dalam mengurangi dampak kerusakan akibat megathrust.
“Teknologi untuk membangun rumah tahan gempa, teknologi untuk peringatan dini gimana supaya bisa cepat tersampaikan dan bisa diakses oleh masyarakat, gimana kita bisa menciptakan inovasi-inovasi baik secara teknologi, rekayasa, maupun secara metodologi pendekatan, termasuk inovasi dalam science communication. Tentunya ada inovasi dalam hal sistem pemantauan, sensor, teknologi, tapi aspek science technology innovation-nya dalam peran risiko bencana itu sangat banyak sekali,” ungkapnya.
Rahma menilai saat ini semua orang bisa mengakses dan memanfaatkan kemudahan teknologi yang ada.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong agar ada lebih banyak riset dan inovasi yang bisa dikembangkan.
“Apalagi teknologi sekarang sudah di genggaman tangan kita. makanya kita sangat mendorong lebih banyak riset dan inovasi yang bisa dikembangkan terutama melibatkan anak-anak muda yang memang dekat dengan teknologi,” tutupnya.***

Share this article
Peneliti PR Kebencanaan Geologi BRIN, Dr. Nuraini Rahma Hanifa mengatakan bahwa dampak dahsyat dari gempa zona megathrust bisa dicegah...