AYOJAKARTA.COM – Satu Kemakmuran, menurut capres Anies Baswedan merupakan kata kunci yang menjadi tujuan dibutuhkannya perubahan.
Peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, menurut Anies Baswedan tidak pernah lepas dari unsur persatuan.
Berangkat dari Sumpah Pemuda yang menetaskan Satu Bangsa dan Satu Bahasa, perjuangan menuju Satu Kemakmuran Indonesia menjadi prioritas Anies Baswedan.
“Kita sudah satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air, tapi hari ini belum satu kemakmuran,” ungkap Anies saat menghadiri rembuk ide pada Kamis kemarin.
Acara yang digelar oleh The Habibie Center dengan tema Transisi Energi tersebut, Anies juga menjelaskan ciri dari belum adanya Satu Kemakmuran.
Disparitas pembangunan infrastruktur, pendidikan serta pertumbuhan ekonomi antar wilayah yang mencolok, merupakan indikasi belum tercapainya satu kemakmuran.
Baca Juga: Jika Terpilih Jadi Presiden, Ganjar Pranowo Janji Tingkatkan Ekonomi hingga 7 Persen
“Kita memiliki visi bahwa Indonesia Emas 2045 itu adalah Indonesia yang Satu Kemakmuran,” jelas Anies.
Lebih lanjut, Anies menjelaskan pentingnya menerapkan prinsip pokok dari setiap kebijakan yang dihadirkan dalam satu kemakmuran, yakni berkeadilan.
Gagasan dan penerapan prinsip berkeadilan merupakan muatan dasar dan bersifat strategis yang sudah menjadi bagian ketika Anies memimpin DKI Jakarta.
Sehingga dalam membuat kebijakan yang berkeadilan, aspek sosial dan kultural serta kebutuhan masyarakat setempat juga penting menjadi pertimbangan.
Baca Juga: Prabowo Subianto Diprediksi Menangkan Pilpres 2024 Satu Putaran, Pengaruh Gibran Effect?
Sebab suatu kebijakan yang diberlakukan di suatu wilayah, tidak selamanya relevan dan akan dapat memenuhi prinsip keadilan.
“Jadi kebijakan pertamanan bukan soal tamannya saja, tapi bagaimana taman itu berkeadilan, jalan juga sama,” imbuh Anies.
Dalam menerapkan prinsip Satu Kemakmuran yang berkeadilan, menurut Anies tidak bisa mengabaikan peran penting ilmu pengetahuan.
Adanya pengabaian ilmu pengetahuan dalam membuat suatu kebijakan, bukan saja bisa berdampak pada ekosistem, tetapi juga kepada kebutuhan hidup dan kemanusiaan.
Baca Juga: Ini Alasan Saut Situmorang Gabung dengan Timnas Pemenangan Anies-Muhaimin
Hal semacam inilah yang menurut pasangan Anies-Muhaimin atau Amin perlu disikapi dengan lebih mengedepankan keadilan.
“Kita punya problem di lapangan yang tidak kalah rumit, adanya proses-proses eksekusi di lapangan yang menimbulkan perasaan ketidakadilan,” ungkap Anies.
Pembangunan PLTA di Poso, pelaksanaan proyek Geothermal, pembukaan lahan tambang menurut Amin menjadi pertanda masih minimnya pendekatan partisipatif dan kolaboratif.
Sehingga kebutuhan-kebutuhan dasar yang menjadi unsur penting kemanusiaan, seringkali terabaikan dan jauh dari prinsip Satu Kemakmuran yang Berkeadilan.
“Menurut hemat kami ke depan, kita perlu secara serius transisi energi itu berkeadilan dalam arti sesungguhnya, bukan hanya target,” pungkas Anies. ***

Share this article
Anies Baswedan, capres, berbicara di Forum Ilmuwan, menyoroti transisi energi yang perlu berkeadilan untuk mencapai Satu Kemakmuran.