AYOJAKARTA.COM -- Peristiwa saling memaafkan antara satu orang dengan orang lain, dalam budaya Indonesia dikenal dengan istilah Halal Bihalal.
Meski berasal dari gramatikal bahasa Arab, Halal Bihalal tidak lebih dari istilah budaya di Indonesia yang berkaitan dengan datangnya hari Idul Fitri.
Sebab di negara lain di dunia, proses panjang pembersihan batin dan jiwa di bulan Ramadan tidak diakhiri dengan acara Halal Bihalal sebagaimana indonesia.
Baca Juga: Rekomendasi Wajib! 4 Film ini Cocok untuk Momen Libur Lebaran, Nomor 3 Dilarang Nonton Sendirian!
Di negara lain kecuali Indonesia, kebahagiaan melewati Ramadan benar-benar dinyatakan telah selesai usai pelaksanaan salat Ied berjamaah.
Setelah salat Ied, kebanyakan orang akan kembali lagi kepada rutinitas normal sebagaimana hari-hari sebelum Ramadan.
“Perlu diingat bersama, bahwa Halal Bihalal itu hanya ada di Indonesia, di Arab, Timur Tengah, Pakistan, dimana-mana tidak ada,” jelas Ayah dari vokalis Band Letto.
Lebih lanjut, Muhammad Ainun Nadjib atau akrab disapa Mbah Nun menyebut bahwa Halal Bihalal merupakan buah gagasan Bung Karno.
Penerjemahan kebanyakan masyarakat Indonesia terhadap suatu peristiwa, seringkali dicoba untuk digali pemaknaannya.
“Puasanya itu ibarat benih Padi, Idul Fitrinya itu bulir padi, dan Halal Bihalal adalah hasil olahannya, kira-kira seperti itu,” papar Mbah Nun dengan perumpamaan.
Penggunaan istilah Halal Bihalal yang lazim disisipi permintaan untuk saling memaafkan, baik lahir dan batin menurut Mbah Nun merujuk pada esensi Ridho bi Ridho.
Pasca kemerdekaan atau tepatnya pada tahun 1948, elit politik di Republik Indonesia sering terlibat dalam pergesekan atau pertengkaran.
Akibat adanya perselisihan tersebut, kaum elit tidak bersedia untuk duduk bersama di dalam satu forum untuk melakukan pembahasan.
Sehubungan dengan situasi panas tersebut, Bung Karno kemudian meminta bantuan kepada KH Wahab Hasbullah, Ulama dan Tokoh Besar NU.
Salah satu Pendiri Nahdlatul Ulama tersebut kemudian memberikan saran untuk melakukan acara silaturahmi karena berdekatan dengan datangnya Idul Fitri.
Meski menerima gagasan tersebut, Presiden Soekarno bersikeras untuk menemukan satu istilah selain Silaturahmi.
“Mereka bertengkar karena saling menyalahkan, itu dosa dan haram, supaya tidak punya dosa mereka harus dihalalkan,” jelas KH Wahab Hasbullah.
Dengan tekad ingin mempersatukan, pertemuan antara para elit kemudian berhasil digelar dengan memperkenalkan satu istilah baru Halal Bihalal.
Sejak itu hingga sekarang ini, Halal Bihalal menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia setiap kali perayaan Idul Fitri.
Demikian sejarah Halal Bihalal yang dirangkum Ayojakarta pada Minggu, 23 April 2023 dari Youtube Azelina_Kingdom.***(Karseno AJ)

Share this article
Meski berasal dari gramatikal bahasa Arab, Halal Bihalal tidak lebih dari istilah budaya di Indonesia yang berkaitan Idul Fitri.